Pemimpin yang disenangi bawahan dicirikan oleh kedekatan bathin antara atasan dan bawahan. Tidak dibatasi jarak yang ketat. Pemimpin seperti itu sering menerapkan manajemen kemitraan dengan semua bawahannya. Tidak kikir dengan penghargaan buat bawahan namun tegas untuk menindak kalau ada karyawan yang bersalah. Falsafahnya tak akan ada keberhasilan suatu instansi hanya disebabkan kapabilitas seorang pemimpin semata. Keberhasilan merupakan produk kolektif suatu tim kerja yang tangguh.

       Dengan pendekatan seperti itu para bawahan merasa diakui keberadaannya. Mereka selalu bekerja dengan nyaman dan motivasi tinggi. Nah karena itu ketika sang pemimpinnya akan lengser sebagian terbesar bawahan merasa sedih dan haru. Mereka sangat kehilangan seorang pemimpin teladan. Seorang panutan yang cerdas namun rendah hati, tidak segan untuk bertanya pada bawahannya, cenderung selalu menyediakan waktu untuk berkomunikasi dengan bawahan, dan memerhatikan kesejahteraan bawahannya sangat diperhatikan,dst. Pasti orang seperti itu ketika lengser bakal selalu dirindukan oleh mantan bawahannya.

       Bagaimana dengan pemimpin yang lengser namun ditanggapi biasa-biasa saja? Pejabat seperti ini cenderung memimpin bawahannya secara rutin. Tidak terlalu sering berkomunikasi dengan bawahan. Hanya sebatas pada lingkaran kekuasaan saja. Namun kepribadiannya tergolong baik. Hampir tidak pernah membuat para bawahannya kecewa. Dalam mengkoordinasi kegiatan, sang pemimpin ini sangat kaku dengan prosedur operasi standar yang sudah ditentukan. Karena itu para karyawan bekerja sebatas dengan rutin dan motivasi biasa-biasa saja. Akibatnya hasil kinerja sang pemimpin termasuk standar saja. Cenderung tidak ada kinerja yang spektakuler karena memang tak ada terobosan-terobosan maju. Baik yang mengesankan para bawahan maupun bagi nasional.

       Sementara itu bisa jadi sebagian besar bawahan akan merasa plong dan gembira ketika atasannya akan lengser. Mengapa demikian? Karena selama memimpin sang pejabat teras menunjukkan perilaku sombong dan otoriter. Setiap tindakannya sangat kental berbasis pada kekuasaan. Bukan pada kebersamaan. Saking merasa paling kuasa dan paling pintar, pemimpin seperti ini maunya menang sendiri. Dia tidak segan-segan membuka kelemahan bawahannya di depan bawahan lainnya. Jangan heran ada pejabat teras yang memaki-maki staf eselon  duanya dengan istilah-istilah penghuni kebun binatang. Dan dia berpendapat sengaja itu dilakukan agar bawahannya kapok dan mau memperbaiki kinerjanya. Pertanyaannya apakah model kepemimpinan seperti itu layak diterapkan? Padahal tiap bawahan sebenarnya orang yang membantu sang pemimpjn? Dan di sisi lain dia kurang memerhatikan kesejahteraan bawahannya? Pantas saja ketika sang pemimpin ini lengser disambut sorak sorai oleh bawahannya.

Iklan