Ketika masih kuliah di Fakultas Pertanian IPB di awal tahun ‘60an, saya bercita-cita kalau sudah lulus, ingin menjadi seorang camat. Saya menghayal menjadi pemimpin yang disegani rakyat. Sebagai anak muda sering membayangkan tampilan diri yang keren dengan seragam dinas berikut tanda pangkat di pundak. Kemudian kalau rapat di hadapan para kepala desa-lurah dan staf, saya akan memimpin dengan tegas dan taatasas. Namun tidak kikir senyum hangat tanpa harus kehilangan wibawa. Kalau ada upacara 17an atau lainnya pasti saya duduk di barisan terdepan dan memimpin upacara. Begitu juga ketika berkunjung ke desa-desa, saya menghayal disambut dengan segala kehormatan oleh masyarakat. Saya pun menghayal untuk tidak segan-segan mendatangi rumah penduduk sambil menyapa semua anggota keluarganya. Wah pokoknya khayalan ingin menjadi pemimpin seperti itu begitu mengasyikan saya.

       Apa yang terjadi kemudian? Ternyata khayalan tinggal khayalan. Ketika saya sudah di tingkat sarjana,saya diminta oleh alm Prof Sudjanadi menjadi asisten beliau dalam bidang Ilmu Pengantar Pertanian dan Ilmu Pembangunan Pertanian. Setelah dipertimbangkan secara mendalam maka timbullah khayalan baru. Betapa “hebatnya” seorang dosen apalagi bergelar doktor dan jabatan akademik profesor. Buyarlah khayalan menjadi camat dengan segala atributnya. Jadilah saya seperti sekarang yakni sebagai dosen yang jauh dari tampilan fisik yang gagah. Saya hanyalah seorang dosen yang tidak memiliki anak buah seperti halnya seorang camat. Pekerjaan saya hanya berkutat pada pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat serta menulis. Disamping itu beberapa kali pernah sebagai pejabat struktural di IPB.

      Menghayal merupakan kegiatan membayangkan untuk menjadi, memiliki, atau melakukan sesuatu. Muncul karena ada dorongan hati yang distimulus faktor eksternal. Ada semacam keinginan kuat yang secara bertahap menjadi cita-cita dan tujuan hidupnya. Misalnya menghayal ingin menjadi dosen karena dipandang sebagai orang pandai dan terhormat paling tidak di lingkungan mahasiswanya. Menghayal menjadi peneliti karena ingin menemukan sesuatu yang spektakuler. Begitu pula ingin menjadi orang ganteng atau cantik dan cerdas sebagai selebriti kesohor. Ada juga yang berhayal menjadi polisi karena merasa bakal dibutuhkan masyarakat sebagai pelindung. Bahkan menghayal menjadi presiden karena ingin memakmurkan masyarakat, dst. Pokoknya menghayal yang indah-indah.

        Bagaimana di dunia kerja? Hal yang sama bisa terjadi. Setiap karyawan dan manajemen juga punya khayalan. Ketika karyawan baru masuk ke perusahaan atau organisasi non-bisnis mereka mungkin menghayal menjadi karyawan teladan. Kemudian untuk itu dalam suatu kesempatan, khayalan yang sudah menjadi gagasan disampaikan kepada atasannya. Tentunya untuk memeroleh pengakuan. Suatu ketika mereka pun menghayal ingin menjadi manajer dan bahkan sebagai manajemen puncak. Manajemen puncak pun tidak ketinggalan berkhayal. Seperti bagaimana dia ingin perusahaannya menjadi yang terbesar di level nasional dan regional. Sementara dirinya dihayalkan menjadi seorang pebisnis yang sangat sukses dan disegani oleh para pesaingnya.

        Apakah dengan demikian kegiatan menghayal itu selalu harus terealisasikan? Belum tentu selalu. Masalahnya karena di tengah jalan setiap orang dan lingkungan kemungkinan akan mengalami perubahan. Disamping itu setiap khayalan yang akan direalisasikan haruslah realistis yakni tidak lepas dari dukungan sumberdaya yang cukup. Kemudian apakah khayalan berorientasi pada hal yang positif saja?. Yang terjadi tidak selalu seperti itu. Khayalan atau cita-citanya positif tetapi jalan untuk memenuhinya mungkin saja serba negatif. Misalnya menghayal ingin menjadi orang kaya namun jalannya lewat korupsi. Ingin menjadi pejabat tertentu namun dengan cara-cara menyuap dan menjilat sang pengambil keputusan. Ingin menjadi pebisnis yang unggul namun dengan cara menggusur perusahaan-perusahaan lain atau memanipulasi mutu komoditi.

        Dalam prakteknya, yang ideal adalah khayalan positif dan realisasinya dengan cara-cara positif pula. Sudah diperhitungkan apakah  khayalannya bersifat spesifik, terukur, dapat dicapai, relevan atau realistik, dan punya batasan waktu. Kalau seperti itu maka khayalan telah menjadi unsur motivasi untuk dikelola. Dari khayalan maka timbulah niat kuat untuk merealisasikannya. Karena itu biasanya orang seperti itu tidak hanya berhenti pada khayalan dengan segala keasyikannya saja. Namun menerjemahkannya sebagai suatu ide cemerlang. Gagasan itu dimasukkan sebagai komponen perencanaan umum untuk hidup dan kehidupan di masa depan.  Kemudian pada fase pelaksanaan, khayalan yang sudah menjadi unsur perencanaan itu diterjemahkan dalam bentuk program aksi dengan segala tahapannya. Untuk yang berpikir positif dan percaya diri tinggi, dia berpegang pada prinsip untuk merealisasi khayalan tanpa harus merugikan orang lain atau lingkungan. Itulah refleksi dari suatu khayalan sejati. Bukan sebatas impian kosong atau pekerjaan sia-sia.

Iklan