Mengapa kinerja suatu unit berada di bawah standar perusahaan? Salah satu penyebabnya adalah karena faktor kelemahan kepemimpinan sang manajer. Koordinasi kerja yang seharusnya dapat dijalankan dengan baik oleh manajer ternyata tidak tercapai. Para karyawan sangat enggan melaksanakan arahan dan perintah dari manajer. Mereka bekerja sendiri-sendiri tanpa kendali manajer. Pantas saja kalau suasana kerja di unit itu tidak mencerminkan sebagai tim kerja yang solid. Dengan kata lain sang manajer tidak memiliki kewibawaan sebagai seorang pimpinan dan pemimpin mereka. Karyawan tidak mengganggap manajernya sebagai teladan yang patut ditiru.

        Manajer seperti itu diduga memiliki integritas diri yang lemah. Ciri-cirinya adalah kurang komitmen dan tidak bertanggung jawab, tidak satunya kata dengan perbuatan, kurang jujur dan adil, cenderung tertutup, dan kurang menghargai sistem nilai yang ada. Jadi pada dasarnya sifat-sifat itu membuat kredibilitas sang manajer tidaklah komplit. Yang pada gilirannya akan mengalami disintegritas proses bekerja dalam suatu unit kerjanya. Lalu bagaimna sebaiknya? Untuk itu maka ada baiknya ditelaah karakteristik pengertian integritas itu sendiri.

        Lawan integritas adalah disintegritas atau terjadi perpecahan dengan karyawannya. Manajer dan karyawannya bukan merupakan kesatuan yang utuh. Padahal suatu organisasi membutuhkan suasana yang kompak. Untuk itu seorang manajer harus memiliki pemahaman pentingnya kesatuan pemikiran dan tindakan serta kesatuan tanggung jawab. Hal ini penting mengingat organisasi adalah suatu sistem dimana di dalamnya ada beberapa subsistem yang saling berkait dan berperan agar organisasi berfungsi optimum. Satu subsistem saja terganggu akan mengganggu keseluruhan sistem. Kesatuan subsistem-subsistem yang saling berhubungan membentuk sistem besar yang menyeluruh dan terpadu, sehingga memudahkan perusahaan untuk melakukan operasi dan kendali yang lebih efektif.

        Karena itu manajer hendaknya memiliki visi kesatuan dan keterpaduan untuk mengkonsolidasi semua karyawan dalam satu pemikiran dan langkah-langkah mencapai tujuan organisasi dan kepentingan karyawan itu sendiri. Kekuatan kesatuan tidak hanya di dalam unit kerjanya tetapi juga dengan lingkungan unit lain dan bahkan lingkungan sosial. Semakin tinggi integritas manajer semakin solid tim kerja dalam melaksanakan program-program unit. Hal ini karena manajer telah mampu membangun sistem yang total sehingga fungsi operasi dan kendali roda organisasi di unitnya berjalan efektif.

        Selain memiliki ciri kekuatan kesatuan, integritas diri manajer juga merupakan kualitas moral. Manajer tidak hanya dituntut memiliki kemampuan manajerial tetapi juga sifat moral yang tangguh. Dia harus mampu memilah mana perbuatan yang baik dan buruk, yang benar dan mana yang salah. Kejujuran dan keikhlasan dalam bekerja menjadi landasan utama dalam memimpin unitnya. Bukan saja untuk orang lain tetapi utamanya untuk dirinya sendiri. Kalau itu terjadi maka manajer bakal sebagai panutan bagi karyawan-karyawannya. Tanpa diminta pun para karyawan akan melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik.

       Terbentuknya integritas pribadi manajer yang kuat merupakan proses dari penyadaran diri. Dia akan selalu melakukan evaluasi diri; baik dalam hal kekuatan mapun kelemahannya. Dari situ dia mencoba melakukan hal yang terbaik sesuai dengan standar-standar dan sistem nilai moral yang ada. Misalnya suatu perbuatan yang lurus, apa adanya, taatasas, dan komitmen pribadi. Yang murni datangnya dari nurani manajer itu sendiri tanpa harus adanya kepura-kepuraan. Manajer yang memiliki integritas seperti ini tidak mudah kena intervensi atau kontaminasi perbuatan-perbuatan moral hazard dari luar.

Iklan