Hidup dan kehidupan adalah proses belajar. Tak ada satu manusia pun yang tak pernah melakukan proses belajar. Misalnya ketika mengerjakan suatu jenis tugas tertentu, sedang kompetisi olahraga tertentu, sedang bermain, sedang pemulihan kesehatan, dsb. Hasilnya bisa berupa keberhasilan dan atau kegagalan. Artinya tiap manusia pernah mengalami kedua hal itu. Yang berhasil akan memertahankan atau bahkan meningkatkannya. Sementara kalau gagal dia akan mengulangnya kembali untuk bisa berhasil. Tetapi ada juga yang tidak mau mengulangnya, khawatir kalau-kalau akan gagal lagi. Lalu anda sebagai manajer berada pada posisi seperti apa?

        Kalau anda berpikir hidup ini harus diisi dengan perbuatan-perbuatan yang baik maka anda tidak akan kapok untuk siap dengan kegagalan. Artinya anda siap pula untuk berani sukses sekalipun akan menghadapi resiko kegagalan yang kesekian dan lebih besar. Sering digunakan istilah tidak ingin terantuk pada batu yang sama. Apalagi kalau sebelumnya sukses, anda akan mengulanginya lagi namun dengan suatu model peningkatan mutu proses dan hasil yang semakin baik. Sementara kalau gampang kapok maka anda termasuk orang yang mudah pesimis. Ada dua ketakutan yang dimiliki yakni ketakutan gagal dan sekaligus ketakutan berhasil. Lalu bagaimana sebaiknya?

       Pendekatan yang terbaik dalam proses belajar adalah belajar dari pengalaman. Seseorang yang sukses selalu belajar dari kegagalan dan keberhasilan. Tidak jarang kegagalan yang satu masih diikuti dengan kegagalan berikutnya bahkan mungkin saja lebih parah. Ketika itu terjadi berarti anda tidak pernah kapok. Dan juga jangan mudah putus asa kalau anda dinilai sebagai “keledai”. Anda adalah manusia yang punya potensi berpikir logis dan kritis. Kemudian kalau anda termasuk yang memiliki kesuksesan jauh lebih banyak ketimbang kegagalan jangan mudah puas. mengapa? Karena bisa jadi tantangan dan ancaman yang bakal dihadapi justru lebih besar lagi. Ketika keberhadapan dengan lingkungan persaingan ketat maka anda harus meraihnya dari sisi persaingan mutu sumberdaya manusia. Artinya pendekatan mutu jauh lebih kompetitif ketimbangan hanya pendekatan jumlah keberhasilan.

       Untuk mencapai keunggulan bersaing maka daya kreasi dan inisiasi seseorang yang unggul menjadi basis kompetitif. Syarat-syarat pokok lainnya adalah hendaknya anda memiliki kemauan kuat untuk maju, berpikir positif, dan kegigihan. Tanpa itu anda akan selalu berada dalam fenomena kegagalan hidup. Kalau toh meraih keberhasilan, anda termasuk pada golongan yang cepat senang dan asyik dengan zona nyaman atau status quo. Untuk itu harus siap dengan perubahan kebiasaan dan cara pandang anda tentang hidup dan kehidupan. Kalau anda menolaknya artinya siap-siap untuk terlindas oleh perubahan ekternal yang begitu cepatnya. Mengikuti proses belajar formal, pelatihan-pelatihan motivasi, manajemen diri, dan pengembangan diri lewat keikutsertaan dalam seminar-seminar dan membaca buku inovasi akan sangat membantu meningkatkan mutu sumberdaya manusia anda.

       Kalau anda manajer yang selalu siap dengan persaingan, itu sama saja anda termasuk yang peka dengan perubahan eksternal khususnya turbulensi bisnis. Anda begitu peka terhadap perilaku para pesaing dan kebutuhan dan keinginan pelanggan/konsumen. Dan hal itu tidak mungkin terjadi tanpa proses belajar yang bersinambung. Ciri-cirinya adalah anda memiliki kemampuan analitis, sintesis, dan desain yang komprehensif. Dengan demikian maka anda akan memeroleh kepercayaan semakin besar dari pihak manajemen puncak untuk merancang strategi program yang lebih komprehensif lagi di unit anda sebagai turunan dari strategi perusahaan. Apakah dalam bentuk strategi produksi, strategi pemasaran, strategi pengembangan sumberdaya manusia, strategi finansial, atau strategi riset dan pengembangan. Kalau itu terjadi maka anda siap-siap memeroleh peningkatan karir dengan tanggung jawab yang lebih strategis lagi dari pihak manajemen puncak.

Iklan