Hari ini, 2 Oktober 2009, UNESCO secara resmi memasukan batik Indonesia ke dalam 72 warisan budaya bukan benda. Hal ini sudah diperkirakan sebelumnya oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Sampai-sampai ada himbauan agar momen bersejarah itu dirayakan serentak oleh tiap anggota masyarakat dengan mengenakan batik.tidak saja dihhimbau melalui media cetak surat kabar, media elektronik radio dan televisi tetapi juga media ponsel. Di sekolah, di perkantoran dan di kalangan instansi ABRI dan Polri hari ini mereka berbatik ria. Di mesjid pun ketika saya sholat jumatan, banyak jamaah yang mengenakan batik. Lalu apa hubungannya dengan nasionalisme?

       Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia. Bentuknya ada nasionalisme kewarganegaraan, nasionalisme kenegaraan, nasionalisme etnik, nasionalisme budaya, dan nasionalisme agama. Dalam konsteks Indonesia dikenal ada dua substansi nasionalisme yakni pertama; kesadaran mengenai persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang terdiri atas banyak suku, etnik, dan agama. Kedua, kesadaran bersama bangsa Indonesia dalam menghapuskan segala bentuk penjajahan dan penindasan dari bumi Indonesia.

       Penjajahan dan penindasan disini tentunya tidak diartikan sempit dalam pemahaman dimensi fisik saja. Sebagai contoh yang signifikan ketika duta-duta bangsa dalam olahraga menang pada skala dunia maka kebanggaan sebagai bangsa sangat besar. Begitu juga ditemukannya hasil-hasil riset yang diakui dunia maka bangsa Indonesia pun bakal bangga. Kebanggaan itulah yang menjadi elemen nasionalisme. Di sisi lain ketika martabat bangsa terganggu, misalnya ketika aset budaya bangsa seperti batik dan tari pendet diakui oleh bangsa lain maka pastilah bangsa Indonesia bakal kecewa. Ketika itulah spirit nasionalisme bakal bangkit.

       Pertanyaan berikutnya adalah apakah kebangkitan spirit nasionalisme baru akan terjadi ketika asset bangsa seperti batik diakui dan dicaplok oleh bangsa lain? Seharusnya tidak demikian. Kesadaran dan spirit nasionalisme dapat dibangun dengan berbagai cara secara bersinambung. Misalnya jangan sampai kebanggaan sempit tentang kedaerahan menjadi pemicu terjadinya keretakan sosial antarwilayah. Sehingga warga lain yang bukan berasal asli dari daerah tersebut tidak berhak untuk “hidup” dan berperan penting di daerah itu. Untuk itu disamping lewat peningkatan kesadaran pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa maka lewat peraturan perundang-undang pun sangat dibutuhkan sebagai unsur pengikat.

       Kalau dalam hal aset budaya bangsa seperti batik maka pelestariannya bisa dilakukan secara inovasi dan massal. Secara inovasi yakni ditemukannya bahan, motif dan desain-desain baru sesuai dengan selera pasar namun tanpa mengorbankan hakekat asli batik itu sendiri. Sementara secara massal, instansi-instansi pemerintah termasuk lembaga pendidikan “mewajibkan” karyawan atau murid/mahasiswa pada hari-hari tertentu, yang selama ini diberlakukan, mengenakan batik. Begitupula perusahaan swasta bisa melakukan hal yang sama. Namun yang jelas sebagian besar masyarakat Indonesia untuk diminta mengenakan batik sebenarnya relatif mudah. Mengapa? Karena selama ini tidak asing kita melihatnya. Yakni ketika mereka menghadiri undangan pernikahan, acara halal bil halal, acara pertemuan keluarga, dan pesta syukuran khitanan, umumnya mengenakan batik.

Iklan