Perusahaan yang maju adalah yang siap untuk berubah. Dengan kata lain yang siap untuk menemukan dan mengembangkan inovasi. Apakah itu di bidang produksi ataukah di bidang manajemen. Tujuan jangka panjangnya adalah tampil sebagai perusahaan yang memiliki daya saing tinggi. Baik unggul dalam hal penguasaan teknologi baru, mutu sumberdaya manusia yang andal, mutu barang dan jasa yang tinggi, efisien, dan pangsa pasar yang luas. Untuk sampai seperti itu maka peranan manajer menjadi hal yang sentral. Yakni manajer yang memiliki keunggulan inovasi.

       Seperti apakah manajer yang memiliki ciri-ciri individu inovatif? Marsha Sinetar, seorang peneliti dari Massachusetts Institute of Technology, dari hasil penelitiaanya (1980) menemukan ciri-ciri manajer yang kreatif-inovatif yakni (1) mudah bosan dan lebih senang bergerak ke wilayah yang belum dijamah; (2) sangat nyaman dengan suasana penuh tantangan dan pelik; (3) senang dan menikmati dalam mengambil resiko; (4) selalu haus untuk hal-hal yang baru dan menantang; dan (5) bekerja dipandang sebagai panggilan hidup atau penuh dedikasi. Dalam hal ini manajer seperti itu biasanya membutuhkan kebebasan dalam beberapa hal yakni; (1) wilayah kerja dan cara penyelesaian pekerjaannya; (2) melahirkan masalah-masalah baru yang menantang; dan (3) kebebasan mengembangkan solusi yang inkonvensional atau yang tak lazim.

        Memang dalam prakteknya tidak selalu semua manajer memiliki keunggulan inovasi. Kecuali, misalnya sejak awal penempatan siapa yang patut dijadikan manajer perusahaan sudah mempertimbangkan kapabilitas, daya kreatifitas, dan integritas pribadi. Dan dilakukan seleksi secara ketat. Dalam hal ini perusahaan hendaknya mendorong setiap individu manajer untuk melakukan inovasi. Mereka diberi kebebasan untuk mengembangkan gagasan-gagasan majunya. Insentif dari setiap temuan-temuan inovasi pun menjadi pertimbangan perusahaan. Apakah dalam bentuk insentif finansial maupun non-finansial.

      Perusahaan yang memiliki suatu program manajemen inovasi biasanya dicirikan sebagai organisasi pembelajaran. Yakni perusahaan yang selalu siap menghadapi era global dan sensitif terhadap lingkungan. Selain itu mampu menyerap kekuatan dan muatan global ke dalam perusahaannya. Perusahaan seperti ini juga dipandang sebagai entitas yang dinamis yang memiliki identitas diri yang berkarakter kuat pada kemajuan. Karena itu dibutuhkan suasana atau kondisi yang sifatnya desentralisasi kewenangan manajer. Model manajemen yang sentralistik dan instruktif hanya akan mematikan kreatifitas manajer dan karyawannya.

       Selain itu perusahaan sebagai organisasi pembelajaran dicirikan oleh kekuatan karyawan-karyawannya yang menurut Peter Senge (1990) berupa pengendalian diri pribadi, model mental, visi berbagi/bersama, belajar dalam tim, dan berpikir sistemik. Perusahaan harus secara bersinambung memerluas dan meningkatkan kemampuan karyawan dan manajernya untuk terus berkeinginan belajar dan mengembangkan potensi dirinya. Dalam prakteknya seorang manajer bakal kreatif inovatif bergantung pada  sejauh mana perusahaan itu sendiri mampu merangsang dan memberi ruang dan peluang untuk inovasi dengan dukungan fasilitas yang cukup. Untuk itu ada baiknya perusahaan dalam hal ini departemen SDM dan Penelitian-Pengembangan secara terprogram mengamati potensi para manajer yang memiliki kapabilitas sebagai inovator.

Iklan