Sudah menjadi pemandangan biasa kalau di jalanan umum kebanyakan para supir kendaraan umum berhenti menurunkan dan menaikkan penumpang semaunya saja. Kalau perlu di tengah jalanan. Belum lagi kebut-kebutan yang menggangu penumpang dan pengguna jalan lainnya. Tidak ada lagi bekas-bekas tes mendapatkan surat ijin mengemudi dan efek jera dari hukuman kalau melanggar lalu lintas. Sudah menjadi hal biasa pula kalau sebagian dari kita tidak bersabar untuk mendapatkan sesuatu di layanan umum tanpa ngantre. Padahal kalau disiplin dalam mengantre semua bisa berjalan rapi dan lancar. Masih ingatkah kita bagaimana suatu keadaan krisis muncul beberapa kali namun penangannya tetap saja tidak pofesional. Tidak belajar dari masa lalu. Di sudut lain ada fenomena kriminalitas seperti korupsi dan penjarahan hutan dan pertambangan. Seharusnya sudah tahu bahwa perbuatan itu sangat tidak bermoral dan tidak bertanggung jawab. Tetapi toh masih dilakukan juga. Apalagi itu tidak jarang dilakukan kaum terpelajar dan tahu tentang hukum.

         Nah gambaran yang berikut ini juga tidak jarang ditemukan. Yakni ketika sedang menanti sesuatu di tempat umum tidak banyak ditemui orang-orang yang sedang membaca. Lebih banyak diam melamun, gurau canda dan atau asyik merokok ketimbang memanfaatkan waktu luang untuk memerluas wawasan. Kemudian ketika di dalam kelas, tidak banyak murid dan atau mahasiswa yang aktif untuk bertanya apalagi menyanggah apa yang disampaikan oleh guru atau dosennya. Cenderung malas berespon. Hal ini juga terlihat dari rendahnya rasa ingin tahu atau penasaran tentang sesuatu. Padahal sifat itu sebagai indikasi seseorang terdorong meneliti setiap fenomena yang ada di bumi ini. Karena itulah Indonesia masih tertinggal dalam temuan-temuan ilmu dasar dan terapan. Di sisi lain masih jarang guru dan dosen yang memperbaharui mutu sumberdaya manusianya, bahan dan metode mengajarnya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Begitu pula kurang dikaitkan dengan kebutuhan pemangku kepentingan internal dan eksternal.

        Dari gambaran kualitatif di atas apakah dengan demikian bangsa Indonesia masih jauh sebagai masyarakat belajar? Tampaknya begitu. Coba kita lihat dari ukuran kuantitatifnya. Kalau ditambah dengan ukuran angka melek huruf maka kita memang belum termasuk golongan itu. Laporan Pembangunan PBB (2005) menunjukkan sebanyak 12.1 % masyarakat Indonesia yang berusia 15 tahun ke atas tidak bisa membaca dan menulis. Dibanding Vietnam dan Myanmar saja posisi kita tertinggal. Kemudian laporan PBB (2008) tentang pembangunan manusia, indeks yang diukur dari angka harapan hidup, angka "melek huruf", rata-rata lama sekolah dan pengeluaran per kapita riil penduduk Indonesia menduduki peringkat ke 108 dari 177 negara di dunia. Berdasarkan Human Development Report dari UNDP, Human Development Index (HDI) Indonesia tahun 2007/2008 menempati peringkat 107, dua peringkat di bawah Vietnam. Indikator dari HDI meliputi pendapatan perkapita, akses terhadap pendidikan dan akses terhadap kesehatan. Artinya, dengan peringkat HDI Indonesia tahun 2007/2008 tersebut memberikan gambaran pada kita bahwa kualitas pendidikan di Indonesia masih sangat rendah. Sekaligus juga mencerminkan masyarakat Indonesia belum menjadi masyarakat belajar.

         Kalau belum menjadi masyarakat belajar mengapa proses pembelajaran relatif tak sepenuhnya bermanfaat bagi perbaikan perilaku keseharian masyarakat? Jawabannya pasti panjang. Bisa jadi proses pembelajaran formal selama ini lebih menekankan pada pencapaian domain kognitif saja dengan sasaran nilai IQ tinggi. Namun mengabaikan pembentukan sikap lewat pendekatan ketrampilan lunak. Sementara itu proses pembentukan kehidupan yang berlangsung lama sepertinya hanya dipandang buah dari pembelajaran lewat jalur formal saja. Padahal tidak seperti itu. Pembelajaran juga harus dilengkapi lewat jalur informal yakni proses pembentukan pengalaman bersinambung. Hal ini mengingatkan kita pada filosof Aristoteles yang berpendapat bahwa pada waktu lahir jiwa manusia tidak memiliki apa-apa. Dia mengumpamakan sebagai sebuah meja lilin yang siap dilukis oleh pengalaman. John Locke (1632 – 1704), tokoh empirisme Inggris, menerjemahkan paham Aristoteles bahwa pada waktu lahir manusia tidak mempunyai “warna mental”. Warna ini didapat dari pengalaman sebagai jalan ke penguasaan pengetahuan.

         Dengan perbaikan proses pembelajaran mulai dari tingkat sangat dasar (pendidikan usia dini), dasar, menengah sampai tingkat perguruan tinggi termasuk pendidikan luar sekolah maka lambat laun masyarakat belajar akan terujud. Suatu masyarakat yang dicirikan oleh; keinginan untuk belajar secara bersinambung; rasa ingin tahu yang tinggi; memiliki daya kritisi, inovasi dan kreatifitas tinggi, memiliki akses internet yang luas; gemar membaca referensi ilmu pengetahuan dan teknologi serta pengetahuan umum; dan memiliki wawasan tentang hidup dan kehidupan yang luas. Hal itu dapat dilakukan dengan pendekatan pendidikan buat semua melalui pengembangan kurikulum termasuk metodenya, dana dan fasilitas belajar termasuk laboratorium dan perpustakaan, dan kompetensi guru dan dosen sejalan dengan kebutuhan pasar kerja dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

        Selain itu jangan diabaikan pendidikan di dalam keluarga sebagai sentra dimulainya pembentukan masyarakat belajar. Sebagai sistem sosial terkecil kepala keluarga diharapkan mampu menanamkan pentingnya pendidikan di kalangan anggota keluarga. Keluarga merupakan lingkungan budaya yang seharusnya mampu melakukan transformasi pembelajaran sepanjang hayat untuk mengembangkan norma dan kebiasaan yang penting bagi kehidupan individu, keluarga dan masyarakat. Di tingkat keluarga perlu ditumbuhkan kegemaran membaca, berbagi pendapat, rasa ingin tahu, kreatifitas, kolaborasi, dan jiwa inovatif.

Iklan