Ketika mengajar di kelas tidak jarang saya membahas tema faktual termasuk apa pandangan para mahasiswa tentang kerja. Ada yang menjawab kerja (mencari nafkah) itu adalah ibadah, kewajiban, sumber pendapatan, kehidupan, aktualisasi diri, hobi, dan bahkan ada yang pada kondisi tertentu kerja itu dipandang sebagai ancaman. Sebagian besar mereka menjawabnya kerja sebagai ibadah. Kemudian dalam prakteknya ada orang yang malas kerja dan ada yang rajin. Mengapa demikian?. Dari sisi teori dikenal adanya teori X dan teori Y. Teori yang pertama mengindikasikan bahwa pada dasarnya seseorang itu malas kerja. Kerja dipandang sebagai menyusahkan sekaligus mengancam dirinya. Kalau seorang karyawan maka dia termasuk orang yang egoistis, egosentris, dan tak bertanggung jawab. Sementara karyawan yang bercirikan teori Y adalah orang yang sangat rajin dan disiplin. Kerja sudah dipandang sebagai kebutuhannya. Inisiatif atau etos kerjanya begitu tinggi dan bertanggung jawab. Bahkan dekat dengan perilaku kecanduan kerja.

        Apa saja ayat yang ada di dalam Al-Quran yang menyangkut kerja? Tidak sedikit ayat yang berkait tentang pentingnya kerja. Salah satunya, Allah berfirman: “dan katakanlah: bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman akan melihat pekerjaan itu, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang Maha Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata lalu diberitakannya kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. At-Taubah 105). Dengan kata lain Islam sangat membenci pada orang yang malas dan bergantung pada orang lain. Sikap ini diperlihatkan Umar bin Khattab ketika mendapati seorang sahabat yang selalu berdo’a, tidak mau bekerja. “janganlah seorang dari kamu duduk dan malas mencari rizki kemudian ia mengetahui langit tidak akan menghujankan emas dan perak. Rasululllah SAW pun senantiasa berdo’a kepada Allah agar dijauhi sifat malas, sifat lemah dan berlindung dari Allah penakut dan sangat tua dan saya berlindung kepada-Mu dari siksa kubur dan dari ujian hidup dan mati (HR. Abu Daud).

       Secara normatif (ajaran) di atas, seharusnya kaum muslim khususnya di Indonesia memiliki etos kerja tinggi. Mengapa? Karena Islam mengajarkan agar umatnya harus mengawali kerja dengan niat yang utamanya untuk ibadah pada Allah. Selain itu tidak melakukan pekerjaan yang haram seperti korupsi dan merampok. Kemudian tidak merugikan orang lain, saling meridhai, tak ada unsur penipuan, tidak merusak lingkungan, dan untuk meningkatkan kesejahteraan umat atau berdasarkan rahmatan lil alamin. Kalau demikian maka seharusnya produktifitas kerjanya tinggi. Namun dalam prakteknya belum semua umat menerapkan ajakan dan peringatan Allah tentang kerja.

        Insititute for Management of Development, Swiss, World Competitiveness Book (2007), memberitakan bahwa pada tahun 2005, peringkat produktivitas kerja Indonesia yang sebagian besar umat Islam berada pada posisi 59 dari 60 negara yang disurvei. Atau semakin turun ketimbang tahun 2001 yang mencapai urutan 46. Sementara itu negara-negara Asia lainnya berada di atas Indonesia seperti Singapura (peringkat 1), Thailand (27), Malaysia (28), Korea (29), Cina (31), India (39), dan Filipina (49). Urutan peringkat ini berkaitan juga dengan kinerja pada dimensi lainnya yakni pada Economic Performance pada tahun 2005 berada pada urutan buncit yakni ke 60, Business Efficiency (59), dan Government Efficiency (55). Lagi-lagi diduga kuat bahwa semuanya itu karena mutu sumberdaya manusia Indonesia yang tidak mampu bersaing. Juga mungkin karena faktor budaya kerja yang juga masih lemah dan tidak merata. Dalam tataran agama bisa jadi karena belum mampunya menerjemahkan perintah agama tentang kerja dalam dunia nyata. Dengan kata lain ajaran agama tampaknya baru sampai pada tingkat penguasaan pengetahuan saja; belum sampai terbentuknya kesadaran dan sekaligus sikap etos kerja tinggi.

        Ketika dalam suasana Nuzulul Qur’an yakni peristiwa penting penurunan wahyu Allah pertama kepada nabi dan rasul terakhir agama Islam yakni Nabi Muhammad SAW maka telaahan produktifitas kerja semakin penting. Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah surat Al Alaq ayat 1-5: (1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan; (2) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah;.(3) Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah; (4) Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam; (5) Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Inti dari ayat itu umat seharusnya terpanggil untuk terus menerus meningkatkan mutu sumberdaya (SDM) manusianya melalui proses pembelajaran bersinambung.

        Dengan mutu SDM yang tinggi, umat sangat dianjurkan untuk melakukan penelitian segala rahasia alam semesta ini. Tentunya untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kemakmuran dan kesejahteraan umat dengan kerja keras, cerdas, dan ikhlas. Disinilah pentingnya proses pendidikan dimulai dari tingkat keluarga. Disitu ditanamkan pemahaman yang menyangkut akidah dan syariah Islam khususnya yang menyangkut tentang kerja sebagai ibadah. Tentunya sekaligus diwujudkan dalam praktek keseharian dengan tuntunan dari orangtuanya.

Iklan