Sudah menjadi fakta yang tak terbantahkan bahwa perusahan yang mampu bersaing adalah mereka yang memiliki sumberdaya manusia (SDM) unggul. Karena itu perhatian paling utama adalah bagaimana mutu para karyawan (manajemen dan non-manajemen) perlu ditingkatkan. Namun demikian belum tentu perusahaan  memiliki program pengembangan SDM karyawannya untuk jangka panjang dalam bentuk program pendidikan lanjutan. Hal ini karena dalam prakteknya perusahaan sering menghadapi dilema ketika dihadapkan pada pertanyaan apakah karyawan yang sedang berprestasi baik masih perlu mengikuti pendidikan agar memiliki kompetensi yang lebih andal atau tidak perlu.

         Jawaban atas pertanyaan di atas sangat tidak mudah dijawab. Pasalnya kalau para karyawan itu diminta melanjutkan studinya, misalnya dari SMA ke program diploma (vokasional) dan dari sarjana ke master, maka perusahaan sementara akan “kehilangan” para karyawannya yang cemerlang. Belum lagi bisa-bisa para karyawan akan pindah ke perusahaan lain setelah selesai mengikuti pendidikannya. Pada gilirannya kinerja perusahaan jelas akan terganggu. Perusahaan akan merugi dalam dua hal yaitu biaya investasi SDM yang besar dan hilangnya peluang ekonomi.

         Dalam situasi dilematis itu sering terpikirkan apakah selama para karyawan mengikuti pendidikan lalu perusahaan perlu melakukan outsourcing karyawan. Atau kalau upaya itu sangat sulit apakah perusahaan terpaksa tidak perlu menyekolahkan karyawannya. Trade off yang terjadi adalah secara perlahan tapi pasti mutu SDM akan semakin tertinggal oleh perusahaan lain yang memiliki program pengembangan SDM yang tertencana dengan baik.

        Kondisi seperti ini semakin dilematis ketika perusahaan harus meningkatkan produksinya karena permintaan pasar akan produksi perusahaan itu semakin tinggi. Bisa dibayangkan apa yang terjadi dengan kegiatan bisnis itu apabila tidak didukung oleh karyawan yang kualifaid. Sebagai substitusi dari pendidikan berjenjang lalu perusahaan mengirimkan karyawannya ke berbagai lembaga pendidikan untuk mengikuti semacam pelatihan jangka pendek sesuai dengan kompetensi perusahaan dan karyawannya.

         Tentunya jalur upaya seperti ini bukan satu-satunya sebagai yang terbaik. Masih banyak yang bisa dilakukan perusahaan yakni lewat pembelajaran sambil bekerja di perusahaan yang dibimbing oleh para instruktur andal. Misalnya dikembangkan peningkatan mutu SDM yang bersifat pengembangan kecerdasan untuk membangun ketrampilan inovasi. Tidak saja inovasi fisik tetapi juga inovasi manajemen dan organisasi.

Iklan