Setelah lebih dari sembilan tahun, sejak tiga bulan yang lalu saya memiliki seorang cucu lagi dari anak perempuan saya yang bontot. Bayi lelaki itu sangat lucu. Kini sudah bisa berkomunikasi ala bayi dengan siapapun. Saya sangat senang berkomunikasi dengannya. Sebelum dan sesudah pulang kantor, saya selalu menyapa dan menggendongnya.  Selalu kalau sempat saya upayakan berkomunikasi dengan dia. Kehadiran tujuh cucu yang cakep-cakep dan cantik-cantik itu banyak hikmahnya dalam memelajari komunikasi.

        Komunikasi sudah merupakan kebutuhan manusia sejak manusia lahir di dunia. Bayi jika punya keinginan untuk minum dan makan biasanya ditandai oleh simbol menangis. Begitu pula ketika dia ngompol dan ketika kita mengabaikannya. Ketika ibunya atau siapapun menggodanya dia akan tersenyum bahkan tertawa lepas. Semuanya itu terjadi karena ada komunikasi. Disitu ada hubungan bathin timbal balik. Semakin besar si bayi hingga dewasa maka semakin kompleks isi pesan yang ingin disampaikan dan begitu pula cara dan simbol-simbol komunikasi yang digunakannya.

         Bagaimana dalam suatu organisasi? Peran komunikasi dalam suatu organisasi sangat penting. Tidak ada seorangpun dalam keseharian tugasnya tanpa berkomunikasi. Baik itu bertema masalah pekerjaan maupun masalah di luar pekerjaan, seperti masalah keluarga, politik, sosial dan ekonomi nasional. Semua ini pasti dilakukan lewat komunikasi. Juga baik itu dilakukan melalui jalur vertikal (atasan-bawahan) maupun jalur horisontal (kolega setingkat).

        Ketika manajer menginginkan sesuatu dari orang lain pasti manajer berkomunikasi dengan orang tersebut apakah dengan cara berbicara langsung, berkirim surat, menelepon, megirim E-mail atau menyampaikan pesan lewat orang lain. Manakala manajer ingin agar gagasannya diterima atasan atau oleh siapapun yang berkepentingan maka pasti pula dia harus berkomunikasi. Namun pernahkah gagasan atau pesan manajer sulit dimengerti bahkan diabaikan oleh orang lain? Dalam praktiknya hal itu dapat terjadi karena seringkali komunikasi yang dilakukan oleh manajer tidak diperkaya oleh perbendaharan kata yang cukup, terlalu banyak bicara, berbicara tanpa berpikir matang, dan atau berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh yang kurang mengesankan pihak lain.

        Dengan demikian seperti halnya berkomunikasi dengan bayi, proses berkomunikasi itu berhasil dengan baik sangat ditentukan oleh kondisi dan perilaku manajer sebagai pengirim gagasan atau pesan, penerima pesan, media yang dipakai, isi pesan dan cara pesan yang disampaikan serta suasana komunikasi itu sendiri. Keberhasilan itu akan dicerminkan oleh tidak adanya kesenjangan pemahaman antara pengirim dan penerima pesan: manajer senang, karyawan pun senang.

Iklan