Insya Allah besok, 8 Juli 2009, kembali bangsa  Indonesia memasuki sejarah demokrasi. Untuk yang kedua kalinya bangsa Indonesia menyelenggarakan pemilihan langsung presiden. Proses pemilihan yang tidak saja memakan biaya yang tidak sedikit namun juga tenaga dan pikiran dari kalangan politisi dan para pengikut setianya. Semua ingin memeriahkan silaturahmi demokrasi nasional. Walau disertai adu debat, adu pendapat dan keunggulan masing-masing, adu kampanye, adu pengerhan massa, dsb maka Alhamdulillah tak ada adu fisik yang sangat membahayakan kerukunan nasional. Semua ingin berjalan lancar tanpa ada konflik.

         Sebagai manusia maka ketika semua tahapan proses pemilihan berjalan, para pengikut dan politisi termasuk para kandidatnya tidak lepas dari perasaan was-was. Bentuk perasaan itu bisa saja berkembang menjadi kondisi stres. Misalnya ketika isu DPT yang kisruh, ketika melihat para kandidatnya menyampaikan pendapat dalam debat yang kurang memuaskan, ketika melihat perolehan elektabilitas kandidat tertentu yang rendah dan ada yang tadinya tinggi lalu menurun, ketika melihat jumlah para pendukung yang pindah ke kandidat atau partai lain, dan ketika menjelang dan perhitungan suara, itu semua merupakan unsur potensial bisa menimbulkan stres. Dan bisa saja stres akan semakin parah ketika ternyata sang kandidat dan partai-partai pendukungnya mengalami kekalahan.

         Aoakah akan timbul stres?. Setiap orang tanpa kecuali pernah stres. Stres merupakan fenomena yang wajar. Menurut Encarta Dictionary, stres yang dirasakan seseorang sebagai ketegangan mental, emosional, atau fisik, yang disebabkan misalnya oleh kecemasan atau kelelahan. Definisi yang lebih luas menyatakan bahwa stres adalah segala perubahan di dalam hidup kita yang mendorong kita harus beradaptasi. Hemat saya stres timbul ketika  kita tidak mampu menghadapi atau melakukan sesuatu yang di atas dan di bawah kapabilitas kita sendiri. Stres berkait dengan kemampuan kognitif manusia. Manusia bukan merupakan organisasi yang secara refleks otomatis memberikan reaksi. Manusia memiliki cognitive – appraisal system (Woolfolk & Richardson, 1979) sehingga ia memberikan arti kepada apa yang terjadi di lingkungannya.

        Kembali kepada fenomena pilpres, peristiwa atau kejadian di sekitar pilpres perlu dialami atau dihayati. Perubahan sosial sebagai salah satu ciri dari penyelenggaraan pilpres setiap lima tahun sekali tentunya bakal mempunyai pengaruh pada beragam dimensi kehidupan. Tidak semua orang dapat menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan tersebut. Misalnya semakin cerdasnya rakyat dalam berpolitik praktis, kritis terhadap kemungkaran, tuntutan dinamika hak asasi manusia, perubahan tuntutan tatakelola yang baik dan pemerintahan yang bersih. Bisa saja semua itu menimbulkan ketegangan atau stres pada diri mereka yang  sedang hidup pada zona kehidupan nyaman atau status quo.

       Padahal pilpres diciptakan sebagai upaya untuk meningkatkan taraf hidup demokrasi. Namun dalam proses penyelenggaraannya, manusia menghadapi tinggi rendahnya suasana “panas” yang dapat menimbulkan stres yang berlebihan. Terutama hal itu terjadi pada para pendukung dan politisi fundamentalis. Belum lagi kalau mereka tidak siap kalah dengan ikhlas. Padahal hasil pilpres seharusnya diterima dengan wajar-wajar saja. Karena itu mengapa kita harus dikendalikan dan menjadi korban dari proses dan hasil pilpres. Pasrah saja dan tawakal. Mendekatkan diri kepada Allah akan lebih jauh bermakna ketimbang merenung dan mengkalkulasi puas dan tidak puas; menang dan kalah. Selamat mencontreng.