Alkisah seminggu lagi pemilihan kepala desa (Kades) Antah Berantah akan berlangsung. Untuk menuju kesana para cakades telah mengikuti debat yang bukan debat selama tiga kali. Diselenggarakan oleh panitia pilkades tentunya. Kampanye di setiap kampung atau dukuh pun telah berlangsung semarak. Ada yang menghujat kebijakan pemerintahan dan hasil pembangunan desa selama lima tahun terakhir. Ada yang menilai kebijakan pembangun desa banyak keberhasilannya. Dan ada yang senangnya selalu bilang peran dirinya selama ini yang bertindak cepat memutuskan sesuatu. Walaupun hanya sebagai sebagai carik desa atau pembantu kades.

        Kembali ke acara debat ketiga (final) dimana menjelang akhir perdebatan sang mediator memersilakan kepada setiap kandidat untuk menyampaikan kata-kata terakhir. Temanya adalah apa yang akan dilakukan kalau sang kandidat kalah. Yang satu menyampaikan kata-kata dengan meyakinkan bahwa walaupun kalah, dirinya akan terus mengabdi dan berbakti buat desa. Kemudian kandidat berikutnya mengatakan akan menyampaikan selamat kepada sang pemenang pilkades dan akan mendukungnya dalam rangka membangun desa. Yang disampaikan kandidat ketiga adalah akan menghormati kandidat yang menang dan akan kembali pulang kampung mengabdi di bidang-bidang yang ditekuni sebelum jadi carik desa.

         Itulah kata-kata terakhir seandainya sang kandidat kalah menjadi kades terpilih. Yang jelas dua kandidat terakhir itu secara spontan mengatakan hal senada. Sementara kandidat pertama berujar yang agak berbeda. Pertanyaannya apakah dari ekspresi seperti itu dapat ditebak mana kandidat yang siap untuk kalah? Dan mana yang memberi edifikasi atau selamat kepada yang menang sebagai ungkapan ksatria? Karena itu mana yang siap mendukungnya? Dan mana kandidat yang tergolong “desa(negara)wan” atau hanya sekedar “partaiwan” dan  “klikwan”?…..wallahualam……

Iklan