Pada dasarnya setiap karyawan ingin bersosialisasi dengan atasannya. Yang membuat itu tidak terjadi dalam prakteknya adalah karena berbagai faktor. Faktor utama yang sering dihadapati adalah rasa malu dan segan dari karyawan itu sendiri. Bahkan yang paling gawat adalah rasa rendah diri. Namun kondisi seperti itu tidak berdiri sendiri. Bisa jadi semuanya muncul disebabkan faktor dari kepemimpinan manajernya. Misalnya sikap manajer yang kaku, otoriter, bicara seperlunya, dan ada kesan untuk tidak ingin berhubungan langsung dengan bawahannya. Kalau sudah demikian maka komunikasi antara bawahan dan atasan akan mampet tersumbat.

         Kemampetan komunikasi akan bersifat fatal ketika para karyawan ingin menyampaikan masalah-masalah yang menyangkut unit kerja, perusahaan, dan pribadinya. Begitu pula gagasan yang akan disampaikan karyawan pun tidak bakal sampai ke manajer. Bakal mubazir. Dengan demikian manajer akan kehilangan momentum untuk mengetahui secara terinci apa yang dihadapi karyawannya. Di sisi lain para karyawan tidak berdaya dalam mengatasi masalah yang dihadapi unit kerja atau masalah pribadinya. Kalau itu terjadi maka lingkungan kerja akan mengalami gangguan turbulensi seperti kebisingan psikologis dan koordinasi kerja yang tidak lancar. Pada gilirannya kinerja karyawan dan unit akan mengalami penurunan.

          Kondisi demikian tidak bisa didiamkan. Seharusnya sang direktur, sebagai atasan manajer, melakukan investigasi mengapa komunikasi pada unit tertentu mengalami hambatan. Direktur bisa bertanya unsur-unsur penyebabnya kepada manajer. Kalau diketahui unsur penyebabnya berasal dari manajer maka direktur dapat menegurnya. Kemudian disusun suatu prosedur operasi standar bagaimana melakukan komunikasi termasuk apa dan bagaimana kalau karyawan ingin bertemu dengan manajernya. Misalnya apa yang harus dilakukan karyawan jika ingin menyampaikan suatu masalah dan gagasan tertentu. Apakah langsung ke manajer ataukah di dalam rapat koordinasi. Juga perlu dipertegas pada situasi apa saja karyawan bisa langsung berjumpa dengan manajer.

         Idealnya adalah pihak manajer bersedia membuka pintu lebar-lebar ruang kerjanya ketika karyawan berkeinginan untuk menghadap. Semakin terbuka lebar semakin terbuka pula para karyawan menyampaikan permasalahan dan gagasan-gagasannya. Dalam hal ini manajer akan menjadi pendengar yang baik. Tidak bersikap apriori dan tidak merasa terganggu. Dengan senang hati manajer bersedia mengolah dan berdiskusi dengan karyawan dalam mengatasi setiap masalah organisasi dan individu karyawan. Kalau ini berlangsung secara bersinambung maka suasana kerja akan semakin nyaman. Komunikasi tidak saja berlangsung horizontal tetapi juga vertikal. Umpan balik terjadi secara dinamis. Otomatis setiap kemungkinan bakal terjadinya konflik sudah dapat diantisipasi. Semua itu akan berpengaruh terhadap peningkatan kinerja karyawan dan unit kerjanya.

        Dalam hal ini manajer hendaknya menumbuhkan sikap karyawan yang memandang komunikasi itu sebagai kebutuhannya sekaligus sebagai kebutuhan organisasi. Dengan kata lain karyawan didorong bersikap transparan dan akuntabel. Lambat laun rasa segan dan rasa malu bahkan rasa rendah diri dari karyawan untuk bertemu wicara dengan manajernya akan semakin hilang. Tentunya komunikasi yang dikembangkan tidak kaku hanya melalui jalur formal saja. Atau hanya di ruang kerja manajer saja. Malah untuk beberapa hal, komunikasi jalur informal sering terbukti jauh lebih efektif ketimbang jalur formal.

Iklan