Tadi pagi ketika menghadiri rapat program Manajemen Bisnis, Sekolah Pascasarjana IPB, saya memeroleh pesan singkat dari anak perempuan bungsu saya. Isinya “Alhamdulillah ara diterima pah”. Ara adalah cucu saya yang belum lama mengikuti tes masuk ke SMP Negeri I Bogor. Dia diterima di sekolah favorit yang berkelas internasional . Tentu saja saya sangat bahagia. Hal yang sama, sekitar tiga bulan lalu, saya mendapat pesan singkat dari anak laki-laki saya yang bermukim di Birmingham Inggris. Isinya cucu saya Sidqi diterima sebagai murid kelas tujuh di salah satu dari lima sekolah terbaik se-inggris. Tentunya setelah melalui tes berat dengan murid-murid native dan warga negara lainnya. Begitu pula anak perempuan sulung yang tinggal di Bandung pun mengirim pesan yang sama. Yakni cucu perempuan saya, Putri, diterima di SMP swasta kelas internasional. Itu adalah sebagian kecil contoh saja mengapa saya merasa bahagia. Masih banyak hal yang membuat saya bahagia. Pertanyaannya apakah kebahagiaan itu. Faktor apa saja yang membuat kita bahagia. Apa makna suatu kebahagiaan.

         Rasa bahagia merupakan ekspresi rasa puas atas tercapainya suatu harapan atau cita-cita. Baik itu karena menyangkut diri kita langsung atau tidak langsung karena keberhasilan orang lain. Ibnu Abbas ra menyampaikan pesan ada tujuh indikator tentang kebahagian yakni hati yang selalu bersyukur; pasangan hidup yang soleh/soleha; anak yang soleh/soleha; lingkungan kondusif untuk membangun iman; memperoleh dan membelanjakan harta yang halal; semangat untuk memahami agama; dan umur yang baroqah. Dengan indikator seperti itu maka makna suatu kebahagiaan bisa dikelompokkan sebagai berikut.

1. Kebahagiaan hakiki sebagai rahasia Allah. Kebahagiaan di dunia ini sifatnya sangat sementara. Kepuasan seseorang cenderung dirasakan selalu kurang. Karena itulah yang dicarinya lebih berorientasi pada unsur-unsur kebahagiaan dari harta, kekuasaan, dan alam pikiran sesaat dan sangat situasional. Unsur-unsur itu sendiri tidak akan dibawa sebagai sumber kebahagiaan kelak ketika yang bersangkutan sudah meninggal dunia. Sementara kebahagiaan di akhirat kelak bersifat abadi. Disitulah ukuran-ukuran perilaku yang berdasarkan keimanan, ketaqwaan, dan amal soleh seseorang akan terukir dalam bentuk kebahagiaan abadi di akhirat. Menurut al-Ghazali, puncak kebahagiaan pada manusia adalah jika dia berhasil mencapai ma’rifatullah", yakni telah mengenal Allah SWT.

2. Kebahagiaan sebagai hukum alam. Setiap orang siapapun dia memiliki kebahagiaan tertentu. Kebahagiaan seperti halnya kegelisahan, keresahan, dan kesusahan pada dasarnya bagian dari nasib yang kita terima dari hasil jerih payah untuk melakukan sesuatu. Ia sudah merupakan hukum alam. Semakin baik kita berupaya di jalan Allah untuk mencapai sesuatu maka semakin terbuka tercapainya keberhasilan suatu tujuan yakni kebahagiaan.

3. Kebahagiaan sebagai wujud syukur. Konon orang yang berbahagia adalah mereka yang pandai bersyukur atas segala nimah yang diterima dari Allah. Setiap perbuatan selalu didasarkan pada harapan memeroleh ridha dari Allah. Berapa pun derajad kepuasan dari sesuatu selalu disyukuri. Sementara segala musibah dihadapinya dengan kesabaran dan selalu berharap memeroleh kebahagiaan. Tidak dengan perilaku ingkar dan mungkar. Jadi berbahagialah dalam situasi apapun.

4. Kebahagiaan diraih dengan ilmu. Allah memerintahkan manusia memerhatikan dan memikirkan tentang fenomena alam semesta, termasuk memikirkan tentang dirinya sendiri. Semua itu antara lain dijalankan dengan memerbanyak penguasaan ilmu termasuk tentunya ilmu atau pengetahuan agama. Dengan ilmu mengantarkan seseorang kepada peradaban dan kebahagiaan. Dengan menguasai ilmu pengetahuan, dia akan selalu ikhlas dan ridha menjalankan perintah-perintahNYA dalam meraih kebahagiaan.

5. Kebahagiaan hendaknya dibagi. Mereka yang memeroleh kebahagiaan akan menjadi lebih mulia ketika membagi kebahagiaan itu buat orang lain. Katakanlah tolong menolong berbuat kebajikan. Saya yakin orang seperti itu bakal menjadikan dirinya semakin bahagia. Senyum atau ramah saja kepada orang lain, itu adalah bentuk berbagi kebahagiaan. Kebahagiaan yang datangnya dari Allah sebagai suatu titipan dikembalikan dalam bentuk syukur dan buat orang lain. Disinilah dibutuhkannya sifat empati dan simpati setiap insan.

         Setiap orang pernah berbahagia. Jalan untuk mencapainya macam-macam. Semakin lurus dalam berperilaku semakin terbuka peluang untuk memeroleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Namun yang sudah pasti seseorang bakal semakin berbahagia ketika mau berbagi kebahagiaan itu kepada lingkungannya. Di sisi lain mengapa ada orang yang sulit sekali merasa bahagia. Jawabannya adalah karena orang itu kurang pandai bersyukur dalam menerima nasib apapun. Selain itu kurang berupaya keras dan ikhlas, dan jauh dari mengharap ridha-NYA dalam menjalankan setiap sisi kehidupan ini.

Iklan