Gratisan berarti tak usah bayar untuk mendapatkan sesuatu. Gratis makan di restoran, gratis nonton konser, gratis masuk nonton pertandingan sepakbola, gratis belajar di sekolah, adalah bentuk-bentuk gratis. Dan masih banyak lagi bentuk gratis lainnya. Semuanya membuat rasa senang dan nikmah seseorang yang menerima fasilitas itu. Terlepas dari niat sang pemberi maka siapa sih yang tidak mau menerima sesuatu yang gratis seperti itu? Saya kira setiap orang pernah menerimanya. Kalau semua pemberian gratis itu didasarkan pada keikhlasan sang pemberi maka baik-baik saja. Maka bagaimana jadinya kalau ada udang di balik batu dalam pengertian negatif? Tentunya akan beda lagi kandungan maknanya.

           Di dunia bisnis perlakuan gratis yang diberikan, misalnya kepada seseorang penentu kebijakan, adalah bagian dari komunikasi bisnis dalam suatu kerangka investasi . Artinya ongkos yang dikeluarkan dalam bentuk pemberian gratis itu diharapkan memercepat segala persoalan bisnis. Konon hal itu dianggap wajar. Misalnya gratis masuk restoran bersama keluarga, gratis tiket penerbangan, gratis main golf, gratis menginap di hotel mewah,dsb. Bentuk pemberian gratis itu untuk memerlicin kepentingan bisnis para pengusaha. Sebab kalau tidak melakukan hal seperti itu, siap-siap saja mendapat fasilitas perizinan atau keputusan kebijakan yang makan waktu lama dan melelahkan. Atau bahkan izin tidak keluar. Makin lama makin besar ongkos bisnis yang dikeluarkan dan juga semakin cepat hilangnya peluang bisnis. Lalu apakah pemberian gratis itu dapat digolongkan sebagai tindakan suap ataukah bentuk hospitality (keramah-tamahan)?

          Kalau sudah sampai pada pengklasifikasian tentang sesuatu yang gratis pasti bakal menimbulkan perdebatan. Mulai dari sisi kewajarannya, motifnya, lingkupnya, bentuknya, sampai manfaatnya. Karena kental dengan kandungan subyektitas maka sering diskursus tentang gratis pun tidak mudah usai. Mereka yang menganggap dirinya moralis selalu memertimbangkan motif dan bentuk setiap pemberian gratis yang bakal diterimanya. Menurut mereka sangatlah tidak wajar seseorang yang sudah memiliki aset harta melimpah tetapi masih diperlakukan pemberian fasilitas serba gratis oleh orang lain. Sementara masih banyak kaum yang lemah sosial ekonomi masih mendambakan bantuan (zakat, infak, dan sedekah) dari orang yang berpunya, tambahnya. Di sisi lain, golongan realistik, menganggap pemberian gratis tidak perlu dibesar-besarkan. Itu fenomena wajar-wajar saja apalagi kalau didasarkan pada hak dan suka sama suka. Ya betul tetapi apakah motif seperti itu bersih dari kecurigaan sosial, kata sang moralis?

           Masih segar di ingatan kita ketika seseorang yang didakwa telah mencemarkan nama baik orang lain lewat internet dijebloskan ke penjara oleh penegak hukum. Di balik itu konon diduga karena ada permintaan kuat dari rumah sakit yang dicemari kredibilitasnya kepada penegak hukum. Agar perkaranya segera bisa cepat dibawa ke pengadilan maka instansi penegak hukumnya diberi pelayanan gratis pemeriksaan kesehatan. Diduga manajemen rumah sakit bermain mata dengan penegak hukum. Kalau sinyalemen itu benar maka sangatlah disayangkan. Sang penegak hukum telah terjerat pada pemihakan untuk kepentingan sang pelapor semata, dalam hal ini manajemen rumah sakit. Sementara terdakwa merasa teraniaya. Tidak ayal hal itu telah menuai pernyataan-pernyataan atau cercaan keras yang datang dari kalangan jurnalis, pengacara, politisi, LSM, dan bahkan dari kalangan petinggi penegak hukum. Bahkan telah menjadi komoditas politik dalam kampanye pilpres.

         Dari kejadian itu tampak, pemberian sesuatu yang gratis namun tidak proporsional bisa membuka peluang timbulnya kecurigaan dalam aspek sosial dan hukum. Dari sisi sosial pemberian gratis itu diduga tidak didasarkan pada keikhlasan sang pemberi. Sifatnya dekat dengan pemahaman suap menyuap. Sementara dari sudut hukum ternyata transaksi hukum bisa terdistorsi oleh sesuatu pemberian gratis. Perilaku bias yang kuat pada pemberi gratis akan mendorong penegak hukum memberikan pelayanan primanya kepada sang penggugat. Sementara terdakwa merasa diperlakukan tidak adil. Ada motif tertentu untuk memengaruhi orang lain di luar kelaziman. Maka akibatnya timbul cercaan meluas pada penerima dan pemberi gratisan. Tampak, sesuatu yang gratis tidaklah selalu “indah”. Namun saya percaya relatif masih banyak pemberian gratis betul-betul dilakukan dengan ikhlas.

Iklan