Katakanlah manajer dihadapkan pada beragam pilihan pertimbangan untuk melakukan perputaran karyawan. Hal demikian dianggap perlu untuk menghindari terjadinya trade off antara tingkat kejenuhan karyawan dan produktifitas kerjanya. Setumpuk pertanyaan mungkin diajukan antara lain perputaran karyawan di unit mana saja? Siapa saja karyawan yang akan dipindah dan ditempatkan ke unit yang baru? Mengapa mereka yang dipilih? Apa ukuran-ukurannya dalam memilih? Haruskah saya memilih atau mengabaikannya? Ketika itu dihadapkan pada fenomena kelangkaan sumberdaya manusia maka disitulah tidak banyak pilhan tersedia dan pada gilirannya terjadilah kesulitan dalam memilih.

           Proses memilih sangat dibutuhkan ketika manajer akan mengambil keputusan. Kesulitan pertama yang bakal dihadapinya adalah bukannya sisi mana pilihan yang baik namun mana yang lebih baik dan bahkan mana yang terbaik. Kriteria tersebut harus didukung dengan indikator-indikator terukur yang diterima tidak saja oleh pihak manajemen tetapi juga oleh karyawan. Kalau tidak diterima oleh salah satu pihak saja maka proses pengambilan keputusan bisa memiliki makna utuh. Misalnya muncul resistensi dari karyawan yang akan dipindahkan. Dan bahkan protes bisa muncul dari mereka yang merasa sudah terlalu lama di unit dan ingin dipindahkan ke unit yang baru.

          Agar manajer bisa memerkecil kesulitan dalam memilih maka beberapa langkah yang sebaiknya dilakukan antara lain adalah:

  1. Melakukan identifikasi masalah yang dihadapi oleh setiap unit dalam hal kinerja unit dan karyawan, beban kerja, lamanya karyawan bekerja di unit, dan lingkungan kerja. Tujuannya adalah perluasan dan pengayaan pekerjaan di kalangan karyawan.
  2. Menganalisis beragam aspek pada butir satu dan memutuskan apakah yang akan diputuskan adalah tidak perlu perputaran ataukah melakukan mutasi atau rotasi. Untuk itu dibutuhkan diskusi intensif di kalangan manajemen (direktur dan para manajer).
  3. Setelah diputuskan mana pilihan yang terbaik maka perlu dilakukan sosialisasi kepada karyawan di masing-masing unit yang akan mengalami perputaran karyawan. Sekaligus ada tanya jawab tentang deskripsi unit kerja yang baru.
  4. Melaksanakan perputaran karyawan. Ada baiknya sebelum ditempatkan, setiap karyawan melakukan orientasi kerja di tempat unit yang baru.

          Sering manajer dalam proses memilih sesuatu diawali dengan jastifikasi subyektif. Hal demikian sulit untuk dihindari. Hal ini sangat berkait dengan pengalaman empiriknya dalam menangani manajemen karyawan di unitnya. Untuk memerkecil bias individu maka memang dibutuhkan kajian cukup mendalam dan sistematis sebelum keputusan perputaran karyawan diambil. Kalau perlu dilakukan pendekatan obyektif dengan melibatkan para konsultan akhli.

Iklan