Kemarin tanggal 29 Mei 2009 merupakan hari Lanjut Usia ( Hari Lansia) Nasional. Hari itu merupakan salah satu hari penting di Indonesia yang diperingati tiap tahun sebagai wujud kepedulian dan penghargaan terhadap orang lanjut usia. Menurut Undang-Undang No. 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lansia, Lansia adalah orang yang telah berusia 60 tahun ke atas. Hari Lanjut Usia Nasional dicanangkan secara resmi oleh Presiden Soeharto di Semarang pada 29 Mei 1996 untuk menghormati jasa Dr KRT Radjiman Wediodiningrat yang di usia lanjutnya memimpin sidang pertama Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Sebagian dari mereka diperkirakan sudah memasuki masa pensiun dari pekerjaan formalnya. Menurut data Pusdatin Kesos tahun 2008, jumlah lansia  sekitar 16,5 juta, termasuk di dalamnya lansia yang masih potensial. Sementara sebanyak 1,6 juta orang termasuk non-potensial atau terlantar yang dibantu pemerintah. Lalu apa hubungan warlansia dengan kesolehan sosial?

         Pada dasarnya, warlansia dikategorikan menjadi dua macam yaitu penyandang masalah kesejahteraan sosial  dan potensi sumber kesejahteraan sosial. Artinya, masih ada warlansia yang produktif, meski ada juga yang justru menjadi masalah sosial. Misalnya, berdasarkan data Dinas Sosial Provinsi Jabar (2008), dari 3.371.521 warlansia di Jabar, terdapat 236.721 warlansia yang telantar (tak tertampung). Jumlah ini hampir sekitar 10 persen. Cukup memprihatinkan. Belum lagi adanya para warlansia miskin yang hidup sendiri, yang cacat fisik, dan yang sakit berkepanjangan. Meskipun sudah memasuki masa pensiun, sebagian warlansia masih ada yang tetap beraktifitas; apakah di bidang ekonomi maupun non-ekonomi. Rasanya semakin pilu ketika kita semakin sering menemui para warlansia yang menggantungkan hidupnya di jalanan dengan cara mengemis. Hal ini diduga ada kaitannya dengan faktor akses produksi dan juga kesadaran sosial warga.

          Sementara di sisi yang hampir sama betapa mereka yang sudah tua renta masih begitu gigih mencari nafkah. Apakah sebagai pedagang kecil-kecilan, penarik beca, penggali pasir, dsb. Idealnya mereka yang sudah sangat lansia itu ditampung oleh keluarganya yang mampu. Namun bisa jadi memang keluarganya pun termasuk kurang beruntung. Pertanyaannya bagaimana warga sekitar yang masih sehat fisik, mental, dan sehat ekonominya terpanggil untuk beribadah (kesolehan) sosial membantu warlansia yang kurang beruntung itu? Tentunya lain lagi bagi para warlansia yang berpendidikan cukup tinggi atau berkedudukan sosiall pegawai yang tinggi. Aktifitas di masa lansianya ada yang masih beraktifitas ekonomi dan dalam bentuk kegiatan-kegiatan sosial. Mereka habiskan masa-masa tuanya untuk meningkatkan mutu kesolehan sosial. Termasuk melakukan syiar kebajikan dalam mengajar, menulis buku, artikel, dan aktif dalam kegiatan-kegiatan organisasi sosial.

         Kesolehan sosial seperti itu akan semakin berkembang sejalan dengan bertambahnya usia harapan hidup. Kalau sampai tahun 2000, rata-rata usia harapan hidup penduduk Indonesia masih 65 tahun. Maka menurut estimasi Badan Pusat Statisisk (BPS), usia harapan hidup periode 2010-2015 naik menjadi 71,5 tahun dari 69,8 tahun pada periode 2000-2005. Dengan demikian untuk warlansia akan memiliki kesempatan untuk menerapkan kesolehan sosialnya. Tentunya berangkat dari kesolehan individunya sebagai dasar pembentukan kesolehan sosial. Hal demikian tercermin dari pancaran kekuatan nilai-religius dari agama yang dianutnya. Dalam Quran dikatakan, “barang siapa yang menafkahkan hartanya dijalan Allah, akan dilipatgandakan bunganya berlipat-lipat”. Ayat ini seharusnya menggerakkan warlansia dari kelas social ekonomi menengah dan tinggi untuk meningkatkan gerakan filantropi atau solidaritas bantuan sosial. Ketika masa-masa tuanya tengah dilalui maka disitulah penanaman modal kesolehan untuk hidup di akhirat nanti insya Allah akan semakin meningkat.

Iklan