Lebih kurang satu setengah bulan lalu saya mendaftar menjadi anggota Facebook (FB). Seperti halnya ketika blog saya diluncurkan, daftar di FB juga dilatarbelakangi adanya “provokasi”. Kali ini bahkan desakan datang gencar dari para cucu dan keponakan saya. Begitu pula beberapa teman berpromosi via email saya. Apa boleh buat, saya ikuti kemauan mereka,sambil diawali rasa penasaran apa sih FB itu. Kira-kira apakah ada manfaatnya? Benarkah ada sinyalemen FB cenderung menimbulkan proses narsisme di kalangan anggotanya?

          Ketika di awal-awal memasuki dunia maya FB, rasanya sangat asing. Pasalnya yang jadi anggota dominannya para kawula muda. Jumlahnya mungkin sekitar 80 persen yang usianya sekitar belasan sampai tiga puluh tahun-an. Selebihnya kebanyakan berusia 40tahun-an.  Keasingan saya makin menjadi-jadi karena  yang masih bersekolah SD sampai SMA tidak mau ketinggalan menjadi anggota. Dapat dibayangkan, saya sebagai anggota yang sudah kekek-kakek (66 tahun) tiba-tiba nongol di kerumunan mereka. Tidak berlebihan kalau para, cucu, keponakan dan mantu, saya disambut sebagai anggota FB yang sepuh tapi masih suka gaul. Ada yang bilang siiplah,uhui,huebaat, yahuut, dan muda lagi nih yee. Belum lagi para mantan mahasiswa dan kolega menyambut dan merasa senang saya di FB.  Karena itu hingga kini, jumlah mereka yang request untuk menjadi teman saya berjumlah 373 orang.

          Pada dasarnya bagi saya FB bisa menjadi salah satu jalur membangun pertemanan. Lewat FB saya bisa bernostalgia ketika para teman dan mantan mahasiswa yang sudah puluhan tahun tak jumpa lalu bertemu di FB. Mereka mengirim kesan-kesan selama kuliah dan bahkan mengundang reuni angkatannya. Lalu bagaimana dengan isi dari teman-teman FB lainnya? Wah unik banget. Mulai dari ungkapan doa, tidak bisa tidur, sakit perut, pusiiiing, makan enak, sedang diskusi/seminar, nguap ngantuk dan kelelahan, ungkapan kegembiraan, laporan perjalanan,  foto-foto lucu-riang gembira sampai catatan berisi aktifitas politik, profesi, kemasyarakatan, lingkungan, falsafah kehidupan dan seruan agama. Lalu mereka sesama teman berkomentar ria. Saya sendiri kerap mengirim pesan yang berkait dengan moral kebajikan, agama, dan falsafah hidup.  Siapa saja yang mengirim ungkapan dalam FB? Ya mulai dari anak-anak yang masih kecil sampai kakek-kakek seperti saya ini.  Mulai dari kalangan anak SD sampai mahasiswa, aktifis, pebisnis, ekskutif, politikus, dan ilmuwan. Saya belum tahu apakah ada status kakek seperti saya yang juga jadi anggota.          

          Lalu apakah isi FB cenderung narsisistis? Sementara ini saya tidak bisa menilai FB sedang dan bakal membangun sifat narsis. Namun dari beberapa isi pesan, terlalu jauh kalau saya memandang FB sebagai ajang pamer diri, promosi diri, merasa lebih hebat dari orang lain, dan bahkan melukai perasaan orang lain. Kultur atau budaya kita agaknya tidak sepenuhnya bersifat narsis seperti itu. Sementara ini FB lebih merupakan ajang jejaring hubungan sosial. Dari yang belum kenal menjadi akrab. Dan dari yang sudah kenal menjadi lebih lengket. Bahkan dalam situasi hiruk pikuk dan kondisi sosial ekonomi politik bangsa ini, FB bisa menjadi salah satu alternatif untuk menjadi jalan keluar dari kebisingan psikologis. Jadi pokoknya semua berpulang pada diri kita masing-masing; mau bernarsistis ataukah bersosialisasi kekerabatan dan kebajikan. Namun saya yakin sebagian besar dari kita tidak menempatkan diri kita di FB untuk bernarsis ria.