Konon bangsa kita butuh pemimpin bangsa yang negarawan. Yakni mereka yang memiliki karakter mengedepankan kepentingan bangsa daripada kepentingan individu, kelompok atau golongannya. Seseorang atau figur yang mampu memberi keteladanan cara berpikir dan berjuang buat bangsa dan rakyat semata. Mereka orang-orang berpendirian teguh dan bertanggung jawab yang berani mengatakan kebenaran walaupun pahit dan risikonya tinggi. Dan pastinya mampu membangun suasana nyaman dan damai jauh dari konflik kepentingan politik sesaat. Kerinduan akan adanya negarawan semakin mengemuka ketika para elit politik memerebutkan kekuasaan puncak di negeri ini. Semua para calon presiden dan wakil presiden berlomba-lomba seakan mereka negarawan. Namun coba saja kita lihat ketika tempo hari proses koalisi yang dibangun. Diawali dengan adanya proses terbentuknya koalisi besar dengan segala janji dan nafsu besar. Namun belakangan tidak tahu lagi nasibnya ketika masing-masing petinggi partai merasa merekalah yang paling layak menjadi calon presiden. Mereka begitu asyik memikirkan kepentingan parpolnya masing-masing. Bukan pada kepentingan bersama yang lebih luas. Begitu juga hal ini terjadi pada setiap proses koalisi partai manapun.

           Kalau bukan negarawan maka apakah meraka sangat pantas diberi julukan hanya sebagai parpolwan?. Ya, mereka merupakan para petinggi elit politik yang hanya mengedepankan peraihan kekuasaan demi kepentingan kehidupan parpolnya. Strategi dan taktik yang disusun dan dikembangkan ditujukan meraih kekuasaan puncak, jabatan menteri, dan anggota legislatif sebanyak-banyaknya. Untuk itu tidaklah heran agar platform parpolnya mengena di hati rakyat maka pendekatan-pendekatan populis menjadi instrumennya. Namun mengumbar janji lebih menonjol ketimbang berbuat nyata ketika mereka menduduki jabatan politik nantinya. Mereka tidak jarang lupa diri dan sangat tidak sadar bahwa rakyat selalu mengingat dan menuntut rayuan-rayuan manis ketika masa kampanye pil-leg dan presiden. Kalau melihat tingkah seperti itu apakah parpolwan tidak bisa menjadi negarawan tangguh?

           Bisa saja seorang parpolwan juga menjadi negarawan. Nothing is impossible. Kepemimpinan alm Bung Karno (Partai Nasional Indonesia), alm M. Natsir (Masyumi), dan alm Syahrir (Partai Sosialis Indonesia) merupakan dari sekian parpolwan yang pantas dikelompokan sebagai negarawan tangguh. Meski mereka aktif sebagai parpolwan namun kepentingan bangsa menjadi tujuan utama mereka berjuang. Kehidupan kesehariannya bersahaja dan tanpa pamrih. Perjuangan diplomasi mempertahankan dan merebut kembali kemerdekaan dari tangan penjajahan Belanda membuktikan hal itu. Bahkan kemudian ketika Bangsa Indonesia mengisi kemerdekaan mereka tetap pantas disebut negarawan dalam memerjuangkan kepentingan rakyat dan bangsa. Tidak sedikit gagasan-gagasan tentang kesejahteraan masyarakat, demokrasi, persatuan dan kesatuan bangsa, dan perdamaian dunia telah dilahirkan oleh para negarawan tersebut. Masih dalam suasana hari kebangkitan nasional (20 Mei 2009), seharusnya kita patut berbangga punya tokoh berkaliber seperti itu. Dan tentunya kita pun percaya saat ini dari sejumlah elit bangsa tercinta ini pasti ada tanda-tanda kenegarawanan pada tokoh-tokoh nasional tertentu. Insya Allah suatu ketika bakal lahir lagi negarawan-negarawan pilihan. Amiin.

Iklan