Sejatinya seorang manajer, sebagai pemimpin, adalah kalau ada orang-orang yang mau mengikuti kemauannya. Selain itu seorang pemimpin yang baik adalah dia yang mampu mengerjakan sesuatu dengan benar melalui orang lain. Dia mampu mengkoordinasi orang-orang atau subordinasi dalam melaksanakan program-program untuk mencapai misi dan tujuan perusahaan tanpa hambatan berarti. Pertanyaannya adalah mengapa para subordinasi (bawahan) selalu siap melakukan apapun yang diminta pemimpinnya. Sebagai seorang pemimpin seharusnya dia mengetahui mengapa subordinasinya selalu siap memenuhi kebutuhan dan harapannya.

         Derajad kekuatan keinginan subordinasi untuk mengikuti kemauan pemimpinnya diibaratkan sebagai adanya kekuatan suatu magnit. Kekuatan disini lebih ditekankan adanya kemampuan pemimpin dalam memenuhi kebutuhan subordinasi berupa kepercayaan, simpati mendalam, stabilitas, dan harapan. Semakin tinggi kemampuan pemimpin memenuhi empat kebutuhan tersebut semakin menjadikan dirinya sebagai magnit yang sangat berpengaruh pada subordinasi.

          Ada beberapa indikator yang menunjukkan subordinasi akan mengikuti kemauan dan kebutuhan pemimpinnya:

(1). Subordinasi benar-benar merasakan sebagai anggota suatu keluarga besar dalam perusahaan. Mereka sangat memahami visi, misi, dan tujuan perusahaan relatif secara utuh. Pemahaman ini merupakan buah dari sosialisasi dan internalisasi yang dilakukan manajer sebagai pemimpin mereka.

(2).Subordinasi memahami dan terlatih dalam melaksanakan prinsip-prinsip keorganisasian, budaya dan etika perusahaan. Selalu siap bekerja dengan kedisiplinan tinggi sebagai hasil dari proses pembelajaran yang dilakukan pemimpinnya.

(3). Kepribadian pemimpin yang santun dan peduli kepada subordinasinya. Selain itu pemimpin pantas menjadi panutan subordinasi karena dia disamping pekerja keras juga cerdas. Sang pemimpin memiliki potensi atau kapabilitas inovatif, kreatif, produktif dan sebagai inspirator bagai para subordinasinya.

(4). Subordinasi selalu mendapat perhatian yang besar, paling tidak rasa empati, dari pemimpinnya tidak saja yang berkait dengan faktor-faktor pekerjaan tetapi juga dengan segi kebutuhan dan masalah individu dan keluarganya.

(5). Subordinasi terdorong untuk berperilaku dan berbuat jujur, integritas tinggi, dan hormat yang langsung dan tidak langsung merupakan derivasi dari perilaku pemimpinnya. Dengan kata lain sang pemimpin menjadi sang teladan bagi subordinasinya.

          Dalam prakteknya belum tentu semua subordinasi bersedia memenuhi kemauan pemimpinnya. Di sisi lain, para subordinasi bersedia mengikuti kemauan pemimpinnya tidak hadir begitu saja. Selain secara alami atau karena melihat perilaku pemimpinnya namun juga melalui proses pembelajaran yang dikembangkan sang pemimpin. Mulai dari pembelajaran yang berkait dengan segi keorganisasian sampai segi kepemimpinan. Hal ini penting karena suatu ketika setiap subordnisasi berpeluang menjadi manajer atau pemimpin. Hasilnya adalah tiap subordinasi siap melakukan investasi sumberdaya manusianya demi memeroleh kepercayaan, simpati mendalam, stabilitas, dan harapan masa depan.

Iklan