Pernahkah anda merindukan seorang mantan pemimpin anda? Mengapa demikian merindukannya? Sampai-sampai kebaikan perilaku sang mantan selalu menjadi bahan omongan sesama mitra kerja anda? Bahkan kalau bertemu dengan sang mantan secara spontan anda mencium tangannya? Sebagai tanda hormat? Dan beliau secara spontan pula menyambut anda dengan teguran hangatnya? Serta tidak jarang pula anda meneteskan air mata ketika rame-rame bertemu kembali dengan sang mantan pemimpin? Mengingat-ingat masa puluhan tahun lalu ketika beliau selalu menanamkan kedisiplinan dan mutu kerja? Walau terkadang dengan berbicara keras dan tegas namun tanpa disertai rasa dendam dengan karyawannya?

          Karena anda sadari semua itu dalam proses pembelajaran dalam membangun karakter sumberdaya manusia karyawan? Sehingga sebagian besar karyawan telah mampu meningkatkan ketrampilan dan sikap dan menduduki jabatan tertentu? Sementara sang pemimpin begitu ringan tangannya memenuhi kekurangan kebutuhan finansial dan non-finansial karyawan dan keluarganya? Tanpa pamrih? Ah kalau begitu saya merasa iri pada anda. Karena sang mantan selama sepuluh tahun memimpin telah berhasil menanamkan investasinya bagi pengembangan anakbuahnya. Dan tentu saja iri pula karena disitu terjadi tumbuhnya perasaan saling merindukan sesama.

Iklan