Di salah satu koran nasional diwartakan ada pelobi “hebat” yang terlibat pembunuhan. Dia seorang sarjana dikenal hebat dan andal dalam berlobi yang dicirikan oleh banyaknya teman kalangan atas. Berdarah biru pula. Karena itu dia sempat menjadi pembantu terdekat salah seorang menteri pascapemerintahan orde baru. Selain sebagai anggota parlemen hasil pemilu 2004 dia pun terakhir bergerak di bidang usaha pers. Namun tiba-tiba saja julukan pelobi hebat menjadi sirna. Pasalnya dia dituduh ikut membantu pembunuhan. Selasa malam kemarin pelobi hebat itu ditangkap polisi. Siapa sebenarnya yang disebut pelobi? Apa saja tugas dan perannya?

         Pelobi adalah seseorang yang memiliki seni dan kemampuan membujuk orang lain agar mau mengikuti keinginannya. Pengertian keinginan disini adalah kepentingan seseorang atau suatu organisasi. Bisa kepentingan presiden, menteri, pebisnis, politisi, dan bisa untuk kepentingan pemerintah, perusahaan, parpol, organisasi sosial, perorangan dsb. Secara tradisional pelobi menyajikan isi pesan yang menjadi kepentingan kliennya kepada para penentu kebijakan tertentu atau calon mitra kerjasama. Di Indonesia, dalam pelaksanaannya, posisi legal dari seorang pelobi  masih belum jelas baik dilihat dari kualifikasi maupun  dari sertifikasinya. Sementara di Amerika Serikat profesi ini dilindungi oleh undang-undang. Regulasi yang menjadi landasan profesi pelobi, terdapat dalam Federal Regulation of Lobbying Act of 1946. Lalu diperkuat dengan The Lobby Disclosure Act of 1995, yang efektif berlaku sejak 1996. Produk hukum ini memayungi mereka-mereka yang berprofesi sebagai pelobi.

         Legal atau belum legalnya status, yang jelas peran pelobi di semua negara sangatlah penting. Mulai dari aspek dan lingkup permasalahan yang sederhana sampai yang rumit, peran pelobi tidak bisa diabaikan. Misalnya dalam dunia bisnis, asosiasi pengusaha membutuhkan kebijakan pemerintah yang mampu menstimulus perusahaan meningkatkan kinerja bisnisnya. Misalnya tentang subsidi harga input, harga minyak, pengelolaan hutan, perpajakan, dsb. Dalam hal ini peran pelobi adalah melakukan pendekatan ke pejabat pemerintah dan anggota parlemen yang berkait dengan isi pesan para kliennya. Jalurnya macam-macam yakni bisa langsung atau tidak langsung.

          Bergantung pada tujuan dan sasarannya maka para pelobi dapat melakukan lobi dengan jalur Langsung, Sosial, Koalisi, dan jalur Akar Rumput.

1) Jalur Langsung; melakukan praktek lobi langsung dengan cara menyajikan isi pesan dari klien di hadapan pengambil keputusan atau mitra kerjasama. Biasanya dilakukan secara formal dalam suatu pertemuan. Pelobi berusaha memengaruhi sasaran untuk memahami dan bersedia memenuhi keinginannya. Diskusi tidak cukup dilakukan hanya sekali saja tetapi berulang-ulang hingga tercapai kesepakatan.

2) Jalur Sosial; dalam proses melobi dikenal adanya jalur tidak langsung lewat kegiatan santap bisnis, pesta, dan olahraga bersama. Tujuannya membangun suasana persahabatan. Selain itu pelobi dapat menggunakan alat-alat media seperti telepon dan email pribadi. Disitu secara informal dibicarakan kehendak klien kepada para pengambil keputusan. Dengan suasana rileks dan bersahabat diharapkan para pengambil keputusan bersedia untuk memenuhi keinginan pelobi.

3) Jalur Koalisi; di hampir semua negara jalur ini biasanya dipakai dalam koalisi politik menghadapi suatu pemilihan presiden, ketua parlemen, dsb. Tawar menawar pembagian kekuasaan juga dibahas dalam lobi ini. Bergantung pada platform dan kepentingannya koalisi bisa berdimensi waktu menengah atau hanya temporer. Dalam hal isyu non-politik, bisa jadi ada kerjasama antarorganisasi untuk memperjuangkan sesuatu. Para pelobi dari tiap organisasi bergabung dalam suatu koalisi untuk membahas masalah yang menyangkut kepentingan mereka.

4) Jalur Akar Rumput ; untuk memperjuangkan sesuatu, misalnya tentang kebijakan harga BBM, masalah lingkungan, kemiskinan, pendidikan, dsb maka lobi bisa dilakukan lewat organisasi atau kelompok penekan. Mereka melakukan lobi di tingkat pejabat pemerintah dan parlemen.

         Dalam prakteknya sering dipertanyakan apakah dalam melobi dibutuhkan ongkos? Yang jelas melobi berarti mengeluarkan enerji fisik dan kecerdasan yang harus didukung dengan ongkos. Tidak saja ongkos untuk menyiapkan bahan, untuk diskusi, santap bisnis, olahraga bersama tetapi juga “nutrisi” bagi para pejabat pengambil keputusan. Nah hal yang terakhir itu sering menjadi dilematis di negara-negara yang menginginkan adanya pemerintahan yang bersih dan tatakelola korporat yang baik. Namun di sisi lain kebiasaan pemberian “nutrisi”  walaupun dilakukan secara sembunyi-sembunyi ternyata sangat efektif untuk mencapai “deal”. Walau ada etika yang mengatakan lobi harus dilakukan dengan jujur namun tampaknya pemberian “nutrisi” tidak mudah dihilangkan Artinya kalau tidak dengan “nutrisi” peluang dicapainya kesepakatan sangat kecil. Padahal pemberian “nutrisi” bisa dikategorikan sebagai perbuatan suap atau sogok.

         Sementara itu apakah pelobi layak memperoleh kompensasi? Bisa saja itu dilakukan apalagi sang pelobi merupakan akhli yang direkrut dengan cara outsourcing. Para pelobi dikategorikan sebagai tenaga professional. Namun demikian kompensasi yang diterima tidak boleh berasal atau digunakan untuk suatu pelanggaran hukum, seperti penyuapan finansial dan non-finansial. Misalnya hal yang bersifat non-finansial adalah dalam bentuk ancaman keamanan dan “pemberian” wanita panggilan kepada para pejabat atau mitra kerja untuk meraih kesepakatan. Kalau itu terjadi maka pelobi seperti itu pantas disebut sebagai pelobi tidak bermartabat.

Apa dan bagaimana kriteria pelobi hebat dan bermartabat?

1. Disamping memiliki kecerdasan intelektual juga kecerdasan emosional dan spiritual. Cerdas, rendah hati, dan ramah tamah.

2. Memahami apa isi pesan dari klien yang akan dibahas dengan pejabat pengambil keputusan atau dengan mitra kerjasama.

3. Trampil dalam berkomunikasi personal dan lintaspersonal serta memahami budaya lawan bicaranya. Piawai dalam bersimpati dan berempati. Mampu membangun suasana persahabatan yang hangat.

4. Tidak mudah menyerah apabila ada tanda-tanda penolakan dari lawan bicaranya. Namun di sisi lain tidak mau mengorbankan harga dirinya demi kesepakatan semata.

5. Mampu menghindari dan menolak permintaan pihak khalayak sasaran yang mengandung pelanggaran hukum dan a-susila. Prinsipnya adalah menegakkan asas “win-win solution and result” dalam suasana bersih.

          Lobi melobi adalah sebagai proses komunikasi. Karena itu pihak yang terlibat, khususnya pelobi haruslah mampu membangun interaksi positif. Hal itu bisa berlangsung dengan lancar apabila pelobi dan khalayak sasaran memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik, isi pesan yang jelas, jauh dari kebisingan psikologis, dijalankan dengan cara legal, dan dukungan media komunikasi. Pelobi yang mampu menjalani proses komunikasi seperti itu termasuk hebat. Hal ini antara lain dicirikan oleh pergaulan yang luas. Namun idealnya pelobi hebat itu harus disertai dengan karakter integritas personal (martabat) yang tinggi. Yakni yang tidak mudah terjebak pada rayuan materi atau janji-janji jabatan manis tetapi ternyata mengandung sisi moral hazard.

Iklan