Jelang pilpres bursa pasar jabatan mulai dari capres dan cawapres makin menghangat. Bisa jadi jabatan lain pun seperti posisi menko dan menteri-menteri strategis masuk bursa. Kondisi seperti ini sebenarnya sudah mulai tampak sejak pascapemilu. Ini tercermin adanya koalisi dari beragam poros. Tarik menarik kepentingan tak terelakkan. Bahkan koalisi besar yang terdiri dari delapan parpol tidak mencapai kesepakatan siapa capres-cawapres.Bagi mereka yang ngotot berkeinginan dengan jabatan capres beralasan karena partai mengamanatkannya seperti itu.

          Rebut tawar bakal semakin gencar ketika kedua partai akan mengumumkan deklarasi koalisi. Sudah pasti ada perundingan dalam pembagian kekuasaan. Saling tarik ulur kepentingan mulanya jelas akan terjadi. Kami minta ini itu, sementara yang lain pun melakukan hal yang sama. Sampailah terjadi deal di antara kedua partai. Kalau koalisi batal maka sudah pasti pula rebut tawar dan minta terjadi ketidak-seimbangan. Bisa terjadi kelebihan permintaan jabatan ketimbang ketersediaannya. Tetapi bisa juga sebaliknya yakni kelebihan kekuasaan khususnya yang kurang strategis ketimbang permintaannya. Lalu apakah meminta-minta koalisi disertai minta-minta berbagi kekuasaan sesuatu yang wajar?

         Dalam dunia perpolitikan hal demikian sah-sah saja karena pertimbangan kekuatan masing-masing partai. Jadi yang menang umumnya memiliki posisi rebut tawar tinggi. Sementara yang suaranya rendah jelas saja meminta-minta kekuasaan. Namun belum tentu hal itu terjadi sesuai permintaan. Ambil contoh saja antara Demokrat dan Golkar. Koalisasi selama lima tahun terakhir ini buyar karena tidak ketemunya kesamaan pandangan tentang pembagian kekuasaan. Akhirnya dengan pertimbangan harga/martabat diri/partai lalu Golkar keluar dari deal koalisi dengan Demokrat.

         Lain politik lain pula masalah permintaan individu tentang jabatan. Dari sisi manajemen sumberdaya manusia, karir di suatu perusahaan adalah hak setiap karyawan. Karena itu tiap karyawan menyiapkan dalam bentuk rencana dan pengembangan karir untuk suatu siklus jabatan tertentu. Kemudian dia mengajukan permohonan kenaikan karir kepada pihak manajemen. Jadi disini ternyata karyawan meminta (bukan minta-minta) jabatan baru karena memang haknya. Sementara perusahaan wajib memenuhinya jika sudah memenuhi persyaratan tertentu. Nah bagaimana dari sisi agama? Dari Abu Musa r.a, ia berkata, “Aku datang menemui Nabi saw. bersama dua orang laki-laki dari kabilah al-Asy’ariyah. Aku berkata kepada beliau, “Tidakkah anda tahu bahwa mereka berdua meminta jabatan?” Nabi berkata, “Kami tidak akan atau tidak memberikan jabatan untuk pekerjaan kami kepada orang-orang yang memintanya,” (HR Bukhari).

Iklan