Di tengah gonjang-ganjing masalah mutu pendidikan ternyata untuk kesekian kalinya kita dibahagiakan oleh keberhasilan para putra-putri bangsa yang berlaga lomba keilmuan taraf internasional. Kali ini dalam lomba penelitian dan presentasi tingkat dunia di Polandia 24 April-1 Mei 2009). Informasi yang diperoleh dari asaefuddin@gmail.com, Senin ini (27 April 2009), siswa Indonesia kembali mengharumkan nama Indonesia dengan meraih 6 emas, 1 perak, 3 perunggu dalam lomba penelitian dan presentasi tingkat dunia – ICYS 2009 : 2 emas fisika (Guinandra dan Idelia ),1 emas komputer (N. Akbari), 3 emas ekologi (J. Karli, A. Kosasih dan F. Novelia+V. Gunawan), 1 perak Ecology (Dwiky ), 2 perunggu Ecology (Melissa & L. Limbri+A. Wihono) 1 perunggu matematika (I Made Indrawan).       
Seperti yang pernah disampaikan dalam blog ini, kebanggaan itu akan sirna ketika mereka, peraih emas, diincar oleh negara lain. Tidak tertutup kemungkinan Singapura yang sudah menyatakan dirinya akan menjadi pusat ilmu pengetahuan mencoba merayunya. Mereka akan dibiayai oleh Singapura untuk sekolah di sana. Setelah lulus meraih doktor mereka diberi prioritas menjadi peneliti dalam lembaga ilmu pengetahuan Singapura. Negara-negara lain seperti Amerika dan Inggeris juga sering melakukan hal serupa.

       Seharusnya bangsa kita menghindari terjadinya kehilangan mutiara-mutiara itu. Pihak industri dan perguruan tinggi terkemuka serta kementerian Ristek dan DepDiknas hendaknya proaktif untuk memberi insentif tugas belajar. Mereka patut diberi peluang menjadi dosen atau peneliti. Kalau tidak, kita akan kehilangan peluang mutiara yang sangat berharga. Dalam dunia iptek dan industri yang penuh persaingan ini investasi sumberdaya manusia menjadi sangat pokok. Pengembangan atmosfir penelitian semacam lomba karya ilmiah di bidang IPTEK perlu dikembangkan mulai di tingkat sekolah dasar dan perguruan tinggi sampai daerah dan nasional. Lambat laun insya Allah akan terbentuk masyarakat IPTEK.

Iklan