Fenomena politik semakin seru saja belakangan ini. Ada tokoh yang ramai-ramai mengungkapkan antara lain terjadinya kecurangan penyelenggaraan pemilu, DPT yang berantakan penuh manipulasi, dan persoalan perhitungan suara yang lamban. Di sisi lain, mekanisme persiapan pilpres-wapres yang terjadi memang begitu cepat dan dinamisnya. Tampak  timbul tenggelamnya preferensi penentuan apa dan dengan siapa berkoalisi yang dinilai paling strategis. Tidak peduli posisi sang ketua partai masing-masing. Bisa saja yang tadinya musuh lalu jadi teman, dan teman menjadi lawan politik. Yang menjadi suasana politik semakin seru dalam rencana koalisi yakni adanya tokoh partai yang kebakaran jenggot. Penyebabnya karena partai lain dianggap menghina harga diri partainya. Dan ada pula para tokoh partai yang celoteh di lingkungan internal sana-sini karena tajamnya perbedaan pendapat.  

Fluktuasi suhu politik begitu tajamnya; naik-turun. Semakin seru lagi ketika antarpartai berseteru. Misalnya  koalisi Partai Demokrat dan Golkar yang telah tersulam selama lima tahun berantakan begitu saja di tengah jalan. Demi harga diri keduanya berpisah dengan alasan masing-masing. Sementara PDIP dan Gerindra serta Hanura sedang mesra-mesranya. Di sudut lain partai-partai seperti PAN dan PPP tengah sibuk mencari pilihan partai yang terbaik untuk berkoalisi.   Lalu semua partai yang termasuk golongan besar (Demokrat, Golkar, PDIP) sibuk dengan strategi dan taktik masing-masing menggalang koalisi dengan blok menengah sampai level gurem.

Semua motif koalisi cenderung bertema sama dan sangat mentereng. Yakni menggalang persatuan dalam membangun pemerintahan yang bersih dan kuat. Lalu mereka saling bersalaman dan pelukan disertai senyum. Tak tahu ada apa di balik senyum itu. Yang menarik  tersisip dari koalisi adanya bagi-bagi kekuasaan mulai di tingkat wapres sampai posisi kursi menteri. Lha ini kan kepentingan partai lebih dahulu baru sisanya buat rakyat. Pantas saja di sementara khalayak bermuncullah tandatanya. Mereka  saling godeg-godeg kepala disertai senyum dan tawa. Kalau senyum dan tawa begitu alami dan lepas tentunya bagus. Namun kalau dilakukan secara terpaksa itu namanya berbau sinis.

Ngomong-ngomong tentang tertawa ternyata itu bisa digunakan sebagai terapi sehat seseorang. Menurut Armand Archisaputra, Instruktur Klub Tawa Seuri Euy (blog Artikel Psikologi; 03 Oktober 2008),  tertawa adalah ekspresi kebahagiaan dan bisa dilakukan tanpa syarat.  Terapi tertawa sama khasiatnya dengan meditasi sehingga sering disebut juga yoga tawa. Jadi, harus ikut pelatihan tawa terprogram dibantu instruktur atau terapis. Dengan tertawa alami, bebas, dan lepas, terjadi proses biologis dan psikologis positif. Pembuluh darah melebar, oksigen yang masuk ke dalam tubuh lebih banyak, sehingga sel tubuh mendapatkan nutrisi dan sistem kekebalan tubuh meningkat. Tentu saja bukan sembarang tertawa melainkan tertawa alami. Tertawa yang datang dengan sendirinya dari dalam diri kita tanpa bantuan atau rangsangan dari luar seperti banyolan atau lawakan.

Nah, kalau begitu bagaimana dengan tertawa ketika melihat adegan dagelan politik?. Kalau tertawanya sinis justru bukannya terapi yang bisa menyebabkan kita sehat. Apalagi kalau dibawa ke hati terdalam maka bisa berakibat sebaliknya. Sinis itu kan perilaku negative. Jadi sama saja kita sedang menyebarkan enerji negatif dalam pikiran dan hati kita. Maka  jadilah tertawa akibat melihat adegan politik  bisa menjadi racun. Lambat laun itu akan menghancurkan kesehatan jiwa. So rileks sajalah melihat perkembangan politik. Boleh disertai dengan senyum dan tawa kecil. Ambil saja hikmahnya dengan memroses enerji positif yang kita miliki. Yakni memandangnya sebagai proses pendidikan politik buat kita masing-masing.

Iklan