Tinggal tiga hari lagi, pemilu calon anggota legislatif (caleg) dan anggota DPD diselenggarakan di seluruh wilayah Indonesia. Sebelumnya setiap partai politik (parpol) telah menyampaikan semua bentuk kiat promosi untuk memikat calon pemilih sebanyak-banyaknya. Begitu banyak enerji yang telah dikeluarkan termasuk tentunya pikiran, tenaga, dan anggaran. Tinggal lagi mereka menunggu saat-saat rakyat memilih parpol dan para caleg secara langsung, umum, bebas, dan rahasia. Apapun hasilnya itulah keputusan hakim  rakyat yang demokratis yang  patut dipatuhi setiap parpol dan caleg. Pertanyaan yang mungkin muncul di publik selama ini adalah bagaimana caranya  memilih yang terbaik, sementara jumlah parpol dan calegnya begitu banyak?

 

Pilihan yang banyak tidak serta merta bakal menambah kepuasan yang akan dinikmati pemilih. Justru bisa paradoks yakni kekecewaan. Walau tak ada seorang warganegara pun yang tidak memiliki peluang untuk memilih. Namun  masalahnya semua  itu harus dibayar ketika keputusan yang diambil ternyata tidak sesuai harapan. Yakni bisa dalam bentuk rasa kesal bahkan hingga  stres. Pasalnya karena  demokrasi yang berkembang tidak diikuti oleh kesiapan rakyat dalam menentukan pilihan terbaiknya. Biang keroknya karena banyak pilihan figur yang ditawarkan ternyata sangat tidak dikenal dalam hal latar belakang identitas pribadinya, konsep yang ditawarkan, dan performa individunya selama ini. Kalau pun dikenal hanya sebatas tahu orangnya secara fisik. Namun demikian, apapun semua rakyat pemilih sangat dianjurkan memilih. Lalu untuk yang masih bingung milih, apa dan bagaimana kiatnya?

 

(1).       Gunakan hati nurani dengan jernih dan lurus. Idealnya, setiap keputusan pilihan yang diambil tidak bias misalnya pada hubungan asal kedaerahan, dan pada kedekatan personal serta asal-asalan. Tetapi yang jauh lebih penting pada pertimbangan kelayakan calon untuk menjadi wakil rakyat. Untuk itu memang pemilih ada baiknya aktif mencari informasi tentang parpol dan caleg. Sangat dianjurkan untuk belajar dan memahami segala keterbatasan.

 

(2).       Pikirkanlah dengan pendekatan biaya peluang. Kesempatan memilih para calon wakil rakyat hanya setiap lima tahun sekali. Ketika kita dihadapkan pada situasi seperti itu maka kuncinya adalah apa yang terbaik dan terpenting yang bisa dilakukan. Bukan untuk tujuan subyektif diri sendiri. Alasannya karena kesempatan yang diberikan punya ongkos yang tidak sedikit yang sudah dikeluarkan bangsa ini. Karena itu manfaatkan setiap kesempatan untuk memilih agar tidak mubazir.

 

(3).       Fokuskan perhatian anda hanya untuk sejumlah kecil  pilihan saja. Jumlah pilihan parpol dan caleg seabreg akan membuat kita pusing tujuh keliling. Karena itu resepnya adalah pusatkan pada sejumlah parpol dan caleg yang “sangat” menjanjikan untuk membangun bangsa ini ke depan. Semakin sedikit pilian semakin mudah memutuskan mana yang terbaik. Peluang memperoleh pilihan yang terbaik semakin besar dengan semakin kecilnya pilihan-pilihan yang dipertimbangkan.

 

(4).       Gunakan pendekatan keputusan terbaik kedua (the second best). Dalam bahasa popnya tak ada rotan akar pun jadi. Dengan kata lain kalau sudah terpojok dan sulit memilih yang terbaik segalanya maka pilihlah yang terbaik dari yang buruk. Dalam praktek berdemokrasi, proses keputusan ini tidaklah mudah. Sekalipun demikian diharapkan pilihan dalam keterpaksaan dan kebebasan dalam keterbatasan mampu menghasilkan sesuatu yang tidak jauh dari harapan. Untuk itu dianjurkan bersyukur atas keputusan dan tidak larut dalam kekecewaan pada pilihan yang buruk.

 

Kebebasan dan otonomi untuk memilih ternyata bukanlah segalanya. Sebagai bangsa yang sedang terus belajar berdemokrasi dan  bergairah dalam kebebasan, maka setiap orang bakal enggan untuk melepaskan pilihannya. Namun serentak dengan itu justru otonomi dan determinasi diri  bisa membuat kewalahan ketika dihadapkan pada ”pertempuran” antara keinginan hal yang terbaik dan keterbatasan suplai pilihan yang bermutu. Hal demikian cenderung bisa  menjadikan setiap orang  bersikap apatis. Bisa-bisa pemilu yang akan berlangsung nanti sangat bersifat semu dan jauh dari standar mutu demokrasi. Tetapi optimislah. Semoga kiat di atas dapat menjadi solusi atas kegalauan dalam memilih nanti.

Iklan