Alkisah di bulan Agustus 2005 tiba-tiba ada seorang  tokoh lokal di Ponorogo mengamuk sana sini. Ada apa gerangan? Pasalnya dia sebagai seorang calon Bupati Ponorogo tidak mampu menahan beban kejiwaan karena telah kalah dalam pemilihan. Cita-cita setinggi langit ingin menjadi bupati, punah hanya dalam hitungan jam. Bayangkan, konon untuk menggapai cita-citanya, dia mengeluarkan biaya total  Rp 9,3 milyar rupiah. Sebanyak 3,3 milyar berasal dari utang. Tidak siap dengan kekalahan lalu meninggalkan bekas berupa beban rasa malu dan kecewa. Akibatnya dia terkapar karena  stres dan depresi berat.

 

Fenomena di atas diperkirakan bukan terjadi di Ponorogo saja. Diduga di beberapa tempat ada korban yang tidak terberitakan. Tahu-tahu ada saja sebagian cabup dan caleg kalah yang menghuni di rumah sakit umum (RSU) atau rumah sakit jiwa (RSJ). Karena itulah menjelang pemilu legislatif DPR dan DPRD tahun ini, sebagian rumah sakit seperti RSJ di Magelang, Pekanbaru, Surakarta, dan Lampung serta RSU Serang sudah mengantisipasinya. Rumah sakit itu tidak tanggung-tanggung dalam menyediakan fasilitas pelayanannya. Mulai dari kelas biasa yang tarifnya sekitar 50-100 ribuan rupiah perhari sampai kelas VIP yang tarifnya bisa mencapai 500 ribu dan sejuta rupiah perhari. Para pasien akan didampingi oleh psikiater, psikolog, dan rohaniawan.

 

Pelayanan rumah sakit itu merupakan misi kemanusiaan. Namun ada yang berseloroh itu sebagai ladang bisnis politik. Satu hal, apakah dengan mutu fasilitas dan tenaga medis rumah sakit yang cukup lengkap, otomatis mereka akan segera sembuh? Belum tentu. Kalau saja uang perawatannya ternyata bersumber dari utang yang begitu banyak? Atau menjual harta bendanya hingga ludes? Belum lagi kalau yang tidak tahan, bukannya sembuh tetapi malah kambuh. Bukannya dia sendiri yang menjadi terganggu jiwanya tetapi juga kemungkinan seluruh anggota keluarganya.

 

Lalu pertanyaannya mengapa sampai terjadi gangguan kejiwaan karena kalah terpilih? Kekecewaan tidak berhasil meraih cita-cita  adalah  fenomena manusiawi yang normal. Namun akan menjadi tidak normal kalau punya  optimis begitu  berlebihan terhadap suatu  cita-cita. Bahkan kalau kedudukan atau jabatan menjadi tujuan hidupnya. Padahal jabatan itu adalah amanah. Ketika terjadi deviasi negatif yang besar antara harapan dan faktualnya maka timbulah kekecewaan. Kalau kekecewaan tak terbendungkan lalu seterusnya meningkat menjadi stres, depresi berat, sampai ke derajad puncaknya yaitu gila. Dengan kata lain orang seperti itu sangat tidak siap dan tidak ikhlas dengan kegagalan yang menimpanya. Tidak mampu mengelola diri terjadinya resiko yang paling buruk.

 

Seperti menghadapi musim hujan dengan peluang terjadinya wabah demam berdarah maka menghadapi musim pemilihan kepala daerah dan anggota legislatif pun, para calon harus sudah siap-siap menghadapi fenomena trauma dan kejiwaan.. Untuk itu beberapa pendekatan yang mungkin bisa memperkuat kesiapan untuk “kalah” adalah dengan cara memperkecil sikap  TIGA B (berlebihan, berburuk sangka,  dan bersedih):

 

(1).       Berlebihan.

Sikap berlebihan terhadap sesuatu tidaklah menguntungkan. Berlebihan memandang kedudukan  sebagai tujuan, status sosial terhormat, dan instrumen mata pencaharian bakal mengundang kekecewaan berat kalau tidak tercapai. Jabatan apapun  seharusnya dipandang sebagai amanah. Bentuk berlebihan yang lain adalah dalam hal pembiayaan. Sampai-sampai dengan menumpuk utang dan menjual aset keluarga. Bahkan dengan menggunakan cek kosong. Selain itu sikap optimis berlebihan juga sangat mengundang resiko. Padahal setiap keputusan merupakan fungsi dari banyak faktor seperti sumberdaya, mutu dan relevansi konsep yang ditawarkan, dan kepopuleran serta kedekatan kandidat dengan rakyat. Orang  cuma bisa berdoa dan berusaha. Berarti siapapun seharusnya sudah siap mental dan ikhlas dengan segala kemungkinan yang terjadi. Dengan kata lain bersikaplah proporsional. Insya Allah kalaupun  kecewa namun berskala waktu sementara dan siap untuk kembali normal.

 

(2).       Berburuk Sangka.

Sikap berburuk sangka sama saja dengan membuka aib sendiri. Aib yang ditunjukkan dengan sifat sombong, egoistis, dan tamak. Orang yang ”kalah” seperti itu sangat gugup atau tidak tenang. Hobynya menyalahkan pemerintah, sistem, dan orang lain. Padahal dirinya dan organisasinyalah yang lemah konsep dan kapabilitas rendah, serta tidak populer. Sikap berburuk sangka yang paling parah adalah kepada Allah. Dengan entengnya dia berucap semua kegagalan itu karena Allah tidak memihaknya. Padahal itu bisa jadi merupakan keputusan terbaik bagi dirinya. Semestinya bukan berburuk sangka melainkan berbaik sangka kepada Rabb.  Sejatinya caleg adalah mereka yang selalu siap untuk mengelola diri, tahu diri, dan mengakui kelemahan diri. Insya Allah relatif bakal tenang.

 

(3).       Bersedih.

Siapapun pernah bersedih. Fenomena yang wajar. Begitu juga itu terjadi pada yang ”kalah” dalam pemilu caleg dan pilkada. Di satu sisi, semakin bersedih semakin terganggu mentalnya. Dan ini membawa resiko kejiwaan yang semakin parah. Di sisi lain bersedih akan bisa dikurangi ketika yang bersangkutan menyadari diri akan kelemahannya. Dan pasrah serta ikhlas akan keputusan Allah. Hindarilah kesedihan berlarut, karena nun disana masih ada rencana kehidupan, panggung kehidupan, dan hari-hari kehidupan bahagia yang lain.

 

Pelaksanaan pemilu caleg DPR, DPRD, dan DPD tinggal delapan hari lagi. Jumlah calon anggota DPR sebanyak 11 ribu orang lebih dan anggota DPD sebanyak seribu lebih akan bertarung memerebutkan 560 kursi DPR dan 132 kursi DPD. Bisa jadi sampai sekarang ada tiga golongan caleg. Yang pertama dan terbanyak adalah caleg yang harap-harap cemas (H2C), kedua yang harap-harap senang (H2S), dan ketiga yang jumlahnya sangat kecil adalah golongan harap-harap biasa (H2B). H2C termasuk yang kurang percaya diri, pesimis, dan punya perasaan galau kalau tidak menang serta dekat dengan gangguan mental. Golongan  H2S, mereka yang cukup berpengalaman menjadi politisi, percaya diri, dan optimis. Nah, H2B merasa tenang-tenang saja yakni tidak terlalu optimis dan tidak terlalu pesimis dan siap menerima keputusan apapun; relatif tanpa beban. Apapun golongannya, idealnya memiliki sikap lapang dada yakni obyektif dan siap dengan keputusan apapun. Kalah atau menang adalah sesuatu yang biasa jadi siap-siaplah untuk ikhlas dan bersyukur. Agama mengajarkan, bersyukur kepada Allah seharusnya sebagai cerminan perilaku abadi. Konon orang yang bahagia dalam hidupnya adalah orang yang selalu bersyukur. Amiiin.

Iklan