Hari ini tanggal 9 Maret 2009 bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1430 H, ummat Islam sedunia memperingati kelahiran seorang bayi yang kelak membawa ubahan besar bagi sejarah peradaban dunia. Bayi itu lahir dalam keadaan yatim. Ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthalib meninggal lebih kurang tujuh bulan sebelum dia lahir. Ibunya bernama Aminah binti Wahab. Kakeknya, Abdul Muththalib, memeliharanya dengan penuh kasih sayang dan kemudian dibawanya ke kaki ka’bah. Di tempat inilah sang bayi diberi nama Muhammad.

            Ketika berusia 40 tahun, bertepatan dengan 17 Ramadhan, dan sedang berada di gua Hira, Muhammad SAW kedatangan Malaikat Jibril AS yang membawa wahyu Illahi dan menyuruh Muhammad membacanya, “Bacalah”. Dengan terperanjat Muhammad menjawab “Aku tidak dapat membaca”. Setelah beberapa kali mengatakan tidak dapat membaca, akhirnya Muhammad SAW berujar “Apa yang kubaca”. Lalu kata  Jibril: Bacalah  dengan nama Tuhanmu yang menjadikan. Yang menjadikan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu teramat mulia. Yang mengajarkan dengan pena (tulis baca). Mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (al-Alaq; 1-5). Inilah wahyu pertama yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Ini pulalah saat penobatan beliau sebagai Rasulullah atau utusan Allah kepada seluruh ummat manusia untuk menyampaikan risalah-risalahNya.

            Inti dari tugas-tugas Rasulullah adalah mengajak umat manusia untuk bertauhid, beriman, berhijrah dan berjihad. Utamanya adalah mengubah ahlak masyarakat jahiliyah menjadi ahlak mulia. Dan tiadalah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (al-Anbiya; 107). Untuk  itu Rasulullah s.a.w telah meletakkan dasar kehidupan ummat dari segi/perspektif keagamaan, kemasyarakatan, dan politik.

            Dari segi keagamaan, Rasulullah mengajak kaum jahiliyah untuk tidak menyembah dan memuliakan patung dan berhala. Kemusyrikan telah merajalela. Rasulullah tak henti-hentinya mengajarkan tauhid. Tiada Tuhan melainkan Allah. Hanya menyembah kepada Allah. Bagaimana kondisi nyata di sebagian masyarakat kita?  Di beberapa daerah  di Indonesia ritual peringatan Maulud sering tidak menunjukkan ciri-ciri  islami dimaksud.

Atas nama  wisata budaya ada beberapa ritual yang penuh bid’ah bahkan bertentangan dengan ajaran islam tetap dilestarikan. Misalnya, ritual mencuci barang-barang pusaka keraton yang usianya sudah  begitu tua dan dikeramatkan. Sampai-sampai air cucinya diperebutkan oleh sebagian orang yang percaya bahwa air tersebut sebagai sarana mendapatkan berkah hidup. Kemudian ‘gunungan’ yang berisi kue apem dan  sayuran juga diperebutkan. Tidak jarang perebutan sajian ‘berkah’ mengundang bahaya saling berdesakan dan sikut-sikutan. Ada juga kotoran kerbau “khiayi” yang diperebutkan dan dipercayai sebagai sumber rezeki. Begitu pula sesajian di beberapa ritual tertentu dipercaya pembawa sejahtera dan pembuka jodoh.

Bukankah semua perilaku itu bersifat musryik? Sekaligus merendahkan martabat manusia?. Padahal semua sumber rezeki atau keberkahan datangnya hanyalah dari Allah melalui kerja ikhlas, keras dan cerdas semua umatnya. Maka mintalah rezeki itu dari sisi Allah dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya (al-Ankabut; 17). Dan Tuhanku yang Dia memberi makan dan minum kepadaku (asy-Syuara; 79).

            Dari perspektif hukum dan kemasyarakatan Rasulullah mengajarkan ummatnya untuk menegakkan keadilan, kedisiplinan dan ketaatan serta kejujuran, mengatur hubungan antar-individu dan dengan masyarakat, menghormati hak asasi manusia, perdamaian dan membangun kemartabatan manusia. Sayangnya, era kehidupan yang semakin maju tidak diwarnai dengan pengembangan ajaran Rasulullah. Justru terjadi kemunduran. Pelanggaran hukum, penyalahgunaan wewenang, konflik horisontal dan vertikal sampai berdarah-darah telah mewabah dimana-mana.

Selain itu, Rasulullah mengajarkan prinsip kesederhanaan; makanlah ketika lapar dan berhentilah makan ketika sebelum kenyang. Namun kenyataannya kerakusan akan materi dan kekuasaan telah menjadi perilaku keseharian sebagian besar masyarakat. Korupsi sudah dianggap sebagai perilaku biasa-biasa saja. Tanpa beban sosial. Mengutip dari Syamsul Rijal Hamid (Buku Pintar Hadits; 2006): Abdulloh bin ‘Amr bin Ash menceritakan bahwa “…dahulu dalam barisan perang Rasulullah SAW, ada seorang laki-laki yang dijuluki karkaroh. Orang tersebut meninggal, lalu Nabi Muhammad SAW bersabda:  Ia masuk neraka. Para sahabat kaget dan pergi melihat orang tersebut, ternyata mendapati orang itu melakukan korupsi dengan mengambil kain rampasan perang” (HR. Bukhari).

            Dari segi politik, Rasulullah mampu membangun suatu pemerintahan dan masyarakat madani. Suatu bentuk politik pemerintahan yang dicirikan oleh adanya demokrasi, toleransi antarummat, keadilan, kesetaraan, anti kekerasan, kebersamaan, dan persatuan. Ciri-ciri kehidupan politik (bernegara dan berbangsa) di lingkungan kita seperti itu masih menjadi impian. Konflik politik, haus kekuasaan, aksi separatis, anarkis, tirani minoritas, dan ketidakadilan di berbagai aspek kehidupan masih merajalela. Bahkan konflik antarkekuatan politik sebasis islam pun belum kunjung usai. Tampaknya islah mudah diucapkan tapi sulit diterapkan.

            Ketika Rasulullah wafat di usia 63 tahun, beliau meninggalkan “warisan” sumber pegangan hidup dan kehidupan umat yaitu Al-Quran dan Al-Hadits.Ummat yang hidupnya berpegang pada dua sumber itu, Insya Allah akan memperoleh hidayah dan rahmah dari Allah SWT. Ketika dua sumber itu diungkapkan pada tiap peringatan hari besar Islam dan bahkan dalam keseharian hidup, seharusnya mampu meninggalkan jejak perubahan perilaku masyarakat ke kondisi yang semakin bermutu. Konflik-konflik sosial bahkan perseteruan antarumat islam sendiri  seharusnya  mendorong para pimpinan umat  berupaya sekuat mungkin untuk segera melakukan hijrah pada kebaikan-kebajikan tanpa henti. Diadaptasi dari Tb.Sjafri Mangkuprawira. 2007. Rona Wajah: Coretan Seorang Dosen. IPB Press. 

Iklan