Ketika kampanye pemilu legislatif dan presiden semakin dekat saja maka ada beberapa pertanyaan yang dititipkan kepada para caleg untuk dikaji. Yakni kumpulan proposisi tentang bangsa Indonesia : bagaimana dengan kekayaan alam? No, yang ada semakin parahnya kerusakan lingkungan. Kekayaan SDM? No, yang ada cuma banyaknya jumlah penduduk, bukan mutu kesehatan dan pendidikan yang tinggi. Lapangan kerja? No, yang ada tambahnya pengangguran dan kemiskinan. Kekayaan teknologi? No, yang ada semakin ‘terlenanya’ kita sebagai konsumen dan bukan sebagai produsen. Sangat terbatasnya dana penelitian. Kekayaan martabat? No, yang ada  belum tuntasnya moral bernama korupsi, beralihnya beberapa aset nasional ke pihak asing, miskinnya solidaritas dan merajalelanya konflik sosial. Kekayaan negarawan? No juga, yang tampak lebih menonjolnya mereka yang berperilaku pada kepentingan-golongan dibanding memikirkan untuk kepentingan bangsa. Antarelit politik senangnya nyerang menyerang jauh dari kesantunan.           

            Lalu apanya dong yang masih bukan NO atau yang tersisa? Ya, cuma satu yakni di balik tumpukan kesedihan diharapkan masih ada spirit untuk perubahan….bangkitnya bangsa  dari keterpurukan. Lalu apa artinya untuk bangsa ke depan? Ya walau seolah kita harus melangkah, khususnya karena pengaruh negatif krisis ekonomi global,…mulai dari awal lagi, tetapi tak apa, terpenting masih ada spirit untuk maju. Pertanyaannya, masihkah ada harapan dari mereka para anggota legislatif dan presiden terpilih nanti? Untuk berbuat maksimum bagi bangsa tercinta ini? Insya Allah tidak NO alias YES.

Iklan