Sudah diketahui umum bahwa ucapan seorang pemimpin (Amir) dalam rejim pemerintahan otoriter atau monarki absolut cenderung sebagai perintah dan tidak dapat ditolak. Kalau ada yang membangkang siap-siap saja bakal dihukum berat. Berikut contoh dalam humor sufi berikut.

Suatu ketika, Amir ke kota membacakan sebuah syair yang digubahnya dan meminta pendapat Bahlul. “Aku tidak menyukainya,” sahut Bahlul dengan polosnya. Amir pun marah dan memerintahkan agar Bahlul dijebloskan ke dalam penjara. Minggu berikutnya sang Amir memanggil Bahlul dan membacakan lagi syairnya yang lain di hadapannya. “Bagaimana dengan yang ini?” tanyanya. Bahlul segera bangkit berdiri.”Hendak ke mana kamu?” tanya sang Amir. “Ke penjara,” jawab Bahlul. (Jumat, 17 Oktober 2003, Republika Online).

Ketika di era orde baru kejadian yang hampir mirip dengan ilustrasi syair jelek tidak jarang terjadi. Para pejabat tinggi datang ke suatu daerah meninjau proyek pusat; misalnya beberapa pintu saluran irigasi. Di situ selalu ada temu wicara untuk mengetahui pendapat kepala daerah dan masyarakat tentang proyek tersebut. Dengan basa basi sampai pada suatu pertanyaan pejabat pada kepala daerah dan tokoh masyarakat; seperti  contoh kejadian berikut: “melihat kondisi proyek, tampaknya berjalan mulus, ya kan?”, tanya sang pejabat. “Oh ya ya pak semuanya beres dan lancar”, jawab sang kepala daerah yang diamini tokoh masyarakat. “Bagus-bagus; jadi proyek ini bermanfaat buat para petani; betul kan?”, tanya pejabat lagi. Lalu serentak ke dua orang itu merespon, “Oh ya ya pak tentu tentu bermanfaat sekali”. “saya melihat para petani disini semua senang dengan pembangunan pintu saluran ini; benarkah begitu?”, tambah pejabat lagi. Lagi-lagi direspon kepala daerah dan tokoh masyarakat; “Tentu-tentu dan benar-benar pak mereka sangat senang”, kata keduanya. Sang pejabat pusat ngangguk-ngangguk puas. Sebelum meninggalkan lokasi acara, seperti biasanya  pejabat memberi oleh-oleh berupa sejumlah traktor mini dan benih padi buat para petani; sebagai tanda perhatian dari pusat. Apa yang terjadi kemudian? Pintu saluran irigasi itu sempat jebol beberapa bulan setelah kunjungan pejabat tinggi dari pusat itu. Pasalnya karena kualitas pintu saluran yang jelek sehingga mudah ambrol terkena banjir. Fungsi kontrol dari pemda sangat kurang efektif.

 

Dalam konteks politis, jawaban sang kepala daerah dan tokoh masyarakat sangat berkait dengan gengsi daerah. Di balik itu saking takut dipecat, kepala daerah telah membohongi pejabat pusat dengan laporan asal bapak senang. Sementara tokoh masyarakat berharap proyek lainnya dapat dikembangkan lagi di daerah itu. Di sisi lain,  pejabat yang berkunjung ke daerah selalu mengajukan pertanyaan yang bersifat mengarahkan. Artinya agar sang kepala daerah menjawab dengan pernyataan positif. Apa maksudnya? Agar khalayak merasa yakin bahwa program-program pusat yang ada di daerah tampak berhasil. Secara politis hal demikian dilakukan demi memperoleh dukungan rakyat atas kepemimpinan nasional. Jadi rakyat lewat kepala daerahnya digiring untuk bersikap semu dan penuh kepura-puraan. Semoga di era reformasi ini hal demikian tidak terjadi.

Iklan