Belakangan ini kampanye politik  sudah mulai marak digulirkan para elit politik ke khalayak luas. Ada yang dengan menggunakan media elektronik dan cetak. Ada juga yang disampaikan dalam suatu rapat. Maklum kemarakan itu terjadi menjelang pemilu legislatif dan presiden tahun ini. Segala janji program berikut agendanya dikemukakan. Dan yang menarik disertai dengan pesan berupa olok-olok. Memang tampaknya cuma bercanda ria disertai gelak tawa. Tetapi ada juga yang menohok perasaan orang lain.

 

Suatu ketika di sebuah warung pojok, ada beberapa orang sedang ngobrol sambil menikmati kopi hangat plus goreng comro. Mereka ngobrol ngalor ngidul termasuk bicara tentang olok-olok. Salah seorang bilang, “saking sudah memasuki ranah politik dan menyentuh masalah pribadi maka olok-olok itu dikhawatirkan mengalami kehilangan makna folklor (cerita rakyat)”. Bahkan sudah saling bersambut olok-olok. Ini bisa mengancam terjadinya disintegrasi bangsa”. Karena sifatnya sangat mendesak maka dianggap perlu dibuatkan peraturan agar elit politik berolok-olok dengan etis. Yakni peraturan  pengganti undang-undang (PEPERPU) tentang olok-olok”, kata orang itu.

 

“Lho…….apa pasalnya sampai-sampai olok mengolok perlu dibuatkan PEPERPU segala?”; Kayak ngga ada pekerjaan saja”, tanya yang lain penuh dengan rasa heran. Memangnya bangsa dalam keadaan darurat perang? “Ya, perang olok-olok”, kata mereka yang selama ini sangat tidak familiar dengan makna olok-olok. Lalu yang lainnya dengan sengit membantah, “tapi kan olok-olok itu fenomena komunikasi yang biasa-biasa saja. Masa bercanda tidak boleh dan harus diatur dalam bentuk peraturan?” “Ya tetap saja perlu disiapkan rancangan PEPERPUnya karena telah menyinggung perasaan atau hak asasi orang lain”, tambah si pengusul lagi. Apalagi orang tersebut sebagai  manajemen puncak negara SEMARAK”. Yakni suatu negara kepulauan yang kaya sumberdaya alamnya tetapi “miskin” mutu esdeemnya.

 

Ah, bisa saja orang-orang di warung itu. Pasti itu cuma olok-olok saja. Sekedar menghilangkan penat dan kebosanan setelah semalam mengamati debat politik di televisi yang  membosankan dan tak bermutu. Plus olok-olok yang cerderung sinis dan vulgar. Dan anehnya yang diolok-olok membalasnya pula. Kalau ini semakin meluas ke seluruh elit politik dan komponen bangsa maka siapa tahu bangsa itu lambat laun bakal menjadi bangsa olok-olok yang penuh sinisme. Padahal olok-olok itu hal yang lumrah. Dan dalam kamus bahasa Indonesia, olok-olok adalah: perkataan yang mengandung sindiran, (ejekan, lelucon) atau perkataan untuk menunjukan bermain-main saja: kelakar, senda gurau, berolak-olok, bermain-main (dengan maksud menyindir, mengejek) dengan perkataan. Boleh olok mengolok namun haruslah dengan pesan yang cerdas.

 

Iklan