Siapapun, saya kira, ketika berbicara atau menulis sesuatu akan merasa senang kalau pendapatnya diberi komen(tar) atau paling tidak didengar, dilihat, dan disimak oleh orang lain. Bagaimana halnya dengan interaksi di dunia maya seperti di dunia blog? Saya kira sama saja. Itu pertanda pembaca menaruh perhatian pada artikel yang dibuat oleh kita (blogger-pengeblog). Dari pengamatan terhadap 4902 komen (termasuk komen balik dari saya) atas 469 artikel saya (dibuat selama 20 bulan), sampailah  pada kesan-kesan umum terhadap isi komen yang beragam.

Komen para pembaca mulai dari yang isinya relatif ringan dan dekat dengan guyonan sampai ke yang berat atau serius. Mulai dari yang berisi tanggapan, masukan, konsultasi akademis dan non-akademis, sampai ke yang cuma pertanyaan-pertanyaan. Mulai dari isi komen yang pendek-pendek, seperti telegram, sampai ke komen panjang. Dari semua bentuk komen itu maka yang terbanyak adalah komen yang kadar isinya biasa-biasa saja atau populer namun bermutu, fokus isinya berupa tanggapan dan pertanyaan, dan kalimatnya tidak begitu panjang. Dan ada yang isinya luar biasa dalam arti sulit dimengerti apa yang dimaksud sang komentator itu karena kurang kontekstual dengan topik artikel, seperti begini: “bagaimana upaya yang harus di tempuh”. Lalu saya balas apanya yang bagaimana, bung Y?…… Nah ini ada satu lagi komen; “q sdg buat tugas akhir tentang produktivitas nie. mohon bimbingannya dund”. Jawaban saya “silakan bung X kontak saya via e-mail…….”

Tatabahasa yang digunakan kebanyakan relatif standar baku; walau ada juga yang berbahasa gaul. Muatan komen terbanyak adalah dalam bidang-bidang SDM dan MSDM sesuai dengan tema pokok blog ini. Ada juga yang berkait dengan iklim bisnis, organisasi, dan kebijakan pemerintah. Menarik untuk diungkapkan adalah dalam hal jumlah kata yang digunakan dalam komen. Ada komen yang berisi tidak kurang dari 1000 kata sampai yang terpendek yakni cuma dua kata. Kalau boleh disebut yakni komen terpendek berisi: “blog bagus”. Kalau yang terpanjang dan isinya luar biasa berupa ulasan komprehensif dan bahkan ada yang menyampaikan berbagai teori.

 

Semua itu membuat saya senang. Senang bukan saja karena artikel saya ditanggapi tetapi juga karena saya harus memutar otak bagaimana komen saya itu dibuat agar cocok atau pas dengan keinginan mereka. Untuk menghargai para pembaca tersebut, saya sengaja selalu merespon setiap komennya. Apalagi kalau isinya dalam bentuk pertanyaan atau meminta pendapat. Itulah bentuk interaksi dalam komunikasi yang saya bangun selama ini. Beruntung saya bisa relatif santai membalasnya karena jumlah komen dari pembaca relatif sedikit yakni antara lima sampai sepuluh buah per artikelnya. Bandingkan dengan beberapa blog yang pernah saya baca, jumlah komennya bisa mencapai rata-rata 40’an per artikel bahkan bisa lebih.

 

Komen dari seseorang bisa dimaknai sebagai suatu bentuk proses pembelajaran bagi komentator dan penulisnya. Bagi komentator, ada rasa ingin tahu atau penasaran terhadap artikel yang dibacanya. Tingkatan yang lebih tinggi lagi adalah munculnya rasa ragu-ragu orang tersebut ketika membaca suatu artikel tertentu. Karena “tidak tahan” untuk berdiam diri maka munculah dorongan untuk berkomen. Komen yang paling tertutup kalau dilakukan di dalam hati. Sementara komen terbuka dalam wujud diobrolkan dengan rekannya, termasuk disampaikan langsung ke penulis apakah secara lisan ataukah tulisan.Selain itu sang komentator mendapat tambahan ilmu plus belajar bagaimana memberi komen yang baik.

 

Bagaimana dari sisi penulis artikel? Makna pembelajarannya kira-kira begini. Kalau tulisannya mendapat pujian maka sang penulis jangan ryia atau sombong diri. Sementara kalau tulisannya dikritisi atau bahkan dihujat maka jangan cepat-cepat emosional. Sampai marah-marah tidak karuan dan balik menghujat sang komentator. Nah jadilah perang hujat. Semua itu tidak ada manfaatnya. Jadi yang perlu dilakukan adalah bersikap positif saja. Jadikan setiap komen apapun sebagai unsur untuk proses umpan balik pengembangan mutu artikel yang dibuatnya. Sekaligus menambah teman-teman korespondensi.

 

Makna pembelajaran lainnya adalah kalau ada komen yang bentuknya pertanyaan dan permohonan untuk dibuatkan topik karya ilmiah, model pengolahan dan analisis data, serta instrumen pengumpulan data untuk menilai kinerja. Dalam hal ini permintaan seperti itu tidak saya kabulkan. Yang saya katakan kepada mereka adalah silakan buat dahulu konsepnya lalu dikirim ke email saya. Dan kemudian saya mengomentari panjang lebar di email. Maksudnya agar para komentator tersebut mau berpikir. Kalau saja saya mengabulkan permohonan mereka secara langsung, itu berarti saya membiarkan perilaku instan yang ciri-cirinya malas berpikir dan cenderung senang bergantung pada orang lain.

 

Dari uraian di atas maka dapat dikatakan bahwa warna warni bentuk dan isi komen mencerminkan atmosfer belajar dari para komentator yang juga beragam. Hal ini wajar karena mereka datang dari beragam profesi seperti dosen, instruktur pelatihan, pebisnis, mahasiswa, birokrat, dsb. Suasana pembelajaran pun pasti beraneka ragam. Namun yang jelas, memberi komen mencerminkan yang bersangkutan memiliki kekuatan motivasi untuk belajar. Pembelajaran dipandang sebagai pengalaman yang terjadi dalam diri sendiri seseorang dan diaktifkan oleh dirinya sendiri. Dengan batasan seperti itu baik penulis maupun komentator bakal menemukan makna dan relevansi diri termasuk pengembangan potensi emosi, pengalaman, dan intelektual.

Iklan