Dalam suatu seminar mahasiswa program mayor Komunikasi Pembangunan Pascasarjana IPB dua minggu lalu, setiap kelompok (4-5) mahasiswa menyajikan makalahnya. Penyajian makalah dalam seminar ini merupakan bagian dari tugas akademik  yang saya berikan kepada mereka secara rutin. Artikel ini merupakan bagian dari isi makalah berjudul ”Strategi Komunikasi Mendukung Peningkatan Soft Skill SDM Pertanian Menghadapi Krisis Ekonomi Global”, salah satu kelompok program doktor angkatan 2008 yang terdiri dari Wasidi Swastomo, Cahyono Tri Wibowo, Sri Desti Purwatiningsih, Ilona Vicenovic Olsina Situmeang, dan Retno Sri Hartati Mulyandari.

 

Mereka mengatakan, krisis finansial global telah memengaruhi kinerja ekspor sektor pertanian Indonesia. Dengan kata lain rendahnya daya saing sektor pertanian juga dapat menyebabkan merosotnya performa sektor pertanian di pasar global. Salah satu kendala yang dihadapi sektor pertanian adalah keterbatasan jumlah dan kualitas SDM bidang pertanian. Rendahnya tingkat pendidikan petani menyebabkan kemampuan dalam menyerap informasi dan mengadopsi teknologi relatif sangat terbatas sehingga menghasilkan produk yang berkualitas rendah.  Rendahnya tingkat pengetahuan dan keterampilan petani  berakibat pada rendahnya kemampuan petani dalam mengelola usahanya sehingga  tidak dapat berkembang dengan baik dan rata-rata pendapatan menjadi rendah (Awang, 2008).   Rendahnya soft skill (kemampuan petani dalam bekerja sama dan kurangnya motivasi untuk meningkatkan mutu/nilai tambah produk yang dihasilkannya) mendorong rendahnya kinerja pembangunan pertanian secara keseluruhan.

 

Pada tingkat penyuluh, ketersediaannya di lapangan juga sangat terbatas jumlah dan kualitasnya.  Selain kemampuan dasar yang masih rendah, sebagian besar penyuluh juga belum memiliki  kapasitas  soft skill yang memadai, khususnya terkait dengan kemampuannya dalam berkomunikasi dan dalam memberikan advis  yang baik kepada petani.    Adapun di tingkat pengambil kebijakan, masih banyak  instansi daerah yang belum mampu memetakan sumber daya pertanian di daerah secara komprehensif dan memiliki kecermatan dalam membuat konsep pemanfaatannya.  Keperluan SDM pertanian yang berkualitas, khususnya yang mampu memahami karakter pelaku pembangunan pertanian di lapangan (petani) menjadi sangat penting, dikarenakan arah pengembangan pertanian dalam konsep revitalisasi  bersifat pendekatan partisipatif lokal. ”Think globally, act locally” (berfikir secara global dan bertindak sesuai dengan kondisi lokal) diharapkan dapat diimplementasikan oleh aparatur pertanian dalam menghadapi krisis ekonomi global.

 

Pada tataran mikro, sumber daya manusia memerlukan proses pembelajaran berkesinambungan. Belajar harus diintegrasikan ke dalam suatu pekerjaan, sebagai bagian dan paket kerja harian  Budaya belajar juga mengandung makna bahwa setiap individu pelaku pembangunan pertanian harus selalu memiliki daya tanggap dan kepekaan tinggi (soft skill) terhadap setiap fenomena perekonomian yang ada.  Dengan demikian, tidak harus kelimpungan dan  panik berlebihan menghadapi setiap guncangan eksternal yang ada, seperti krisis moneter global sekarang ini (Mangkuprawira, 2008).  

 

Rendahnya kapasitas soft skill SDM pertanian merupakan salah satu penyebab terpuruknya daya saing global dan tidak tahannya pertanian Indonesia dalam menghadapi krisis global.  Soft skill yang dimaksud juga termasuk kemampuan SDM pertanian dalam berkomunikasi, membangun jiwa kewirausahaan, kerja sama, dan kepekaan yang tinggi terhadap lingkungan strategis di segala lini pembangunan pertanian.  Oleh karena itu, agar sektor pertanian semakin kuat dalam menghadapi krisis ekonomi global, diperlukan strategi komunikasi untuk mendukung peningkatan kapasitas soft skill SDM pertanian di setiap lini pembangunan pertanian.

           

Peran komunikasi pembangunan untuk berbagi pengetahuan (knowledge-sharing model) secara setara memusatkan perhatian kepada posisi yang setara antara pemberi dan penerima manfaat pembangunan (benefactors and beneficiaries).  Dalam posisi setara ini keduanya saling mempengaruhi dan berbagi pengetahuan.  Di sini dikombinasikan antara paradigma dominan dan kritis karena dipandang menjadi lebih lengkap dalam menjalankan komunikasi pembangunan.  Adapun menurut Hornik (1988) komunikasi di dalam aktivitas pembangunan, khususnya pada bidang pembangunan pertanian dan perdesaan menurut Hornik (1988), memiliki beberapa peran di antaranya adalah sebagai penghubung antar kelembagaan, penguat pesan, dan sekaligus sebagai akseletator dalam berinteraksi.

 

Dengan demikian, strategi komunikasi dalam pembangunan pertanian dan perdesaan adalah keseluruhan perencanaaan, taktik, cara yang akan digunakan pelaku pembangunan pertanian untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan pertanian kepada petani  dengan memperhatikan keseluruhan aspek yang ada melalui berbagai media komunikasi untuk mencapai tujuan pembangunan pertanian dan perdesaan yaitu untuk kesejahteraan petani.   Paradigma yang digunakan dalam pembangunan pertanian adalah communication for development (Servaes, 2002).       

 

Dalam paradigma Communication for Development, petani yang semula dijadikan obyek dalam pembangunan, sudah sepantasnya untuk saat ini dijadikan sebagai subyek pembangunan.  Fokus pembangunan pertanian yang diarahkan pada petani tidak terlepas dari tuntutan perubahan pola pikir petani dalam berusaha tani maupun dukungan dari agen pembaharu dan peran pemerintah yang secara tidak langsung mendukung pola usaha tani agar dapat bersaing dalam iklim global.  Dengan demikian strategi komunikasi pembangunan pertanian menggunakan model komunikator pendukung pembangunan (Development Support Communicator) memusatkan pada penyusunan posisi-posisi yang sejajar, tidak memusatkan pada penyusunan posisi-posisi yang sejajar, tidak memusatkan pada media, sebaliknya mengembangkan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat (Melkote, 1991 dalam Hadiyanto, 2007).  Komunikator berperan sebagai mediator antara tenaga ahli dan pemanfaat pembangunan, sehingga kesenjangan informasi antara tenaga ahli dengan pemanfaat pembangunan dapat dikurangi.

 

Strategi komunikasi mendukung peningkatan softskill bagi pelaku agribisnis di lapangan dapat dilaksanakan dengan menyusun program komunikasi yang tepat.  Strategi komunikasi yang diarahkan pada peningkatan soft skill pelaku pembangunan pertanian dapat diarahkan dalam bentuk pengembangan program pendampingan pelaku agribisnis di lapangan melalui metode diskusi kelompok, presentasi dalam identifikasi masalah, penentuan prioritasi kebutuhan dan upaya pencapaiannya, sampai pada role play (bermain peran).  Metode ini dapat digunakan untuk mengasah kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama di antara peserta pendampingan sehingga dapat dibangun lingkungan di mana pelaku pembangunan pertanian dapat belajar dengan baik (participant centre learning).

 

Kepustakaan:

Awang, Maharijaya.  2008.  Sumber Daya Manusia dalam Revitalisasi Pertanian.  http://awangmaharijaya.wordpress.com/2008/02/27/sumberdaya-manusia-dalam-revitalisasi-pertanian/.

Hadiyanto. 2007. Komunikasi Pembangunan dan Pemberdayaan: Kasus pada Peternakan Rakyat.  Sodality. Jurnal Transdisiplin Sosiologi, Komunikasi, dan Ekologi Manusia, Departemen Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Institut Pertanian Bogor, 1(3), 321 – 344.

Hornik, R.C., 1988. Development Communication : Information, Agriculture and Nutrition In The Third World. Longman Inc, New York.

Mangkuprawira, Syafri.  2008.  ronawajah.wordpress.com. [terhubung berkala] 1 Oktober – 8 Desember 2008.

Servaes, Jean.  2002. Communication fof Development: One world, multiple cultures.  Hampton Press, Inc.

 

 

Iklan