Dalam  kamus bahasa Indonesia (S.Wojowasito, CV Pengarang, 1999), bingung diartikan sebagai tidak tahu jalan atau kehilangan akal. Hampir sama dengan bingung, makna bengong adalah terdiam setelah  mengalami sesuatu kejadian,misalnya karena tertimpa musibah. Dalam pemahaman saya, bingung merupakan awal dinamika dari seseorang ketika menghadapi suatu masalah berdimensi kehidupan khususnya fenomena ilmiah. Misalnya telaahan tentang fenomena kinerja bisnis yang cenderung menurun ketika krisis finansial global terjadi.

Biasanya setelah mengetahui kejadian ril maka kemudian akan diikuti dengan keinginan tahu untuk menjawab mengapa kejadian itu terjadi. Lalu dianalisis dan dirumuskan pendekatan pensolusian masalahnya. Dengan demikian, seseorang yang bingung akan segera mampu memperkecil ketidaktahuannya dan bahkan menghapus kehilangan akalnya. Sekaligus pula orang tersebut akan mampu menghilangkan kebengongannya dan sekaligus mencari upaya pensolusian masalahnya. Sebaliknya kalau terus bingung maka yang bersangkutan akan bengong tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

            Namun kadar bingung dan bengong di kalangan masyarakat luas yang satu ini agak lain yaitu  ketika beberapa waktu lalu ada  berbagai kebijakan pemerintah, yang membuat banyak pihak  menjadi “bingung” dan “bengong”. Contohnya mereka bingung dan tak berdaya apa yang harus diperbuat ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan kenaikan harga BBM. Apakah besok masih bisa makan? Apakah besok masih bisa menyekolahkan anak-anaknya? Apakah besok masih mampu membeli obat? apa lagi yang harus mereka makan?.   Saking bingung plus bengongnya mereka tidak tahu kemana lagi mereka harus pergi mengadukan nasibnya. Pasalnya DPR pun seperti bingung dan bengong tidak tahu apa yang akan dilakukan untuk membela rakyat.

Sekarang bengong lagi ketika harga premium dan solar turun; bahkan harga premium turun dua kali hanya berselang waktu dua minggu pada bulan Desember ini. Bengong karena tidak menyangka secepat itu penurunannya. Ada apa dibalik kebijakan itu, padahal pemerintah katanya tidak mengambil untung dengan penurunan harga BBM tersebut. Lalu timbulah kebingungan karena penurunan tersebut belum berdampak pada menurunnya tarif angkutan dan harga-harga bahan pokok. Apalagi barang-barang yang berkomponen bahan impor. Sejenak mereka bengong lagi karena fenomena benar-benar aneh tapi nyata. Dan yang mengejutkan adalah belum terdengar reaksi para akhli ekonomi pembangunan untuk mencari jawaban apakah penurunan harga BBM akan mengurangi pengangguran dan kemiskinan. Ya kita tunggu saja hasil kajian akademiknya.

 

Iklan