Insya Allah besok 8 Desember 2008 bertepatan dengan 10 Dzulhijjah 1429 H, ummat islam sedunia akan merayakan Idul Adha atau ibadah kurban. Banyak sekali kandungan dari ibadah itu berupa makna sprititual terdalam. A.Ilyas Ismail, MA. dalam Republika on Line (5 Desember 2008) mengungkapkan bahwa pertama, ibadah kurban merupakan ungkapan rasa syukur kepada Allah swt dengan wajib mengucapkan bacaan takbir ketika menyembelih hewan kurban yang menurut pakar tafsir Abdullah Yusuf Ali, justru lebih penting dari pada penyembelihan kurban itu sendiri. (The Holy Qur’an: Translation and Commentary, No.2810).

Kedua, kurban adalah ungkapan cinta kasih dan simpatik kepada kaum lemah.Dikatakan demikian, karena ibadah kurban tak sama dengan upacara persembahan dalam agama-agama lain. Hewan kurban tidak dibuang di altar pemujaan dan tidak pula dihanyutkan di air sungai. Daging kurban itu justru untuk dinikmati oleh pelaku ibadah kurban itu sendiri dan orang-orang miskin di sekitarnya. Allah berpesan, ”Lalu makanlah sebagian dari dagingnya dan beri makanlah (dengan bagian yang lainnya) orang fakir yang sengsara.” (al-Haj, 28).

Ketiga, kurban adalah simbol dari kesediaan kita untuk melawan dan mengenyahkan segala sesuatu yang akan menjauhkan diri kita dari jalan Allah swt. Sesuatu itu, bisa berupa harta dan kekayaan kita, kedudukan dan pekerjaan kita, atau apa saja yang membuat kita tak sanggup berkata benar.

Karena itu, kurban dapat pula disebut sebagai simbol dari kemenangan kita melawan hawa nafsu kita sendiri. Dari sini kita dapat memahami bahwa ibadah kurban pada hakikatnya adalah komitmen kita untuk senantiasa menuhankan Allah, bukan menuhankan hawa nafsu kita sendiri, serta kesediaan kita untuk berbagai rasa dengan sesama manusia, terutama kaum lemah. Komitmen inilah yang akan membawa kita meraih perkenan dari ridha Allah, bukan darah dan daging kurban itu sendiri. Allah berfirman. ”Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaanmulah yang dapat mencapainya. (Al-Haj, 37).

Hemat saya semua itu untuk mencapai kebahagiaan abadi yang salah satunya lewat ungkapan dan perbuatan cinta sejati. Kebahagiaan abadi merupakan idaman tiap orang beriman. Ia  merupakan fungsi dari faktor cinta sejati. Pertanyaannya, untuk apa dan  kepada siapa cinta sejati itu dicurahkan? Apakah hanya cinta pada seorang kekasih, cinta pada harta, ataukah cinta pada tahta? Dijadikan indah pada  manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak  dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (Ali Imran; 14).

Namun Allah mengingatkan cinta pada kesenangan hidup dunia semata akan banyak bahayanya……dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta (al-Aadiyaat; 8). Aidh bin Abdullah al-Qarni melukiskan kisah cinta Majnun kepada Laila begitu sangat terkenal. Cinta Majnun kepada Laila telah membunuh dirinya sendiri. Sedangkan Qanan, dibunuh oleh cintanya kepada kekayaan. Sementara itu Firaun terbunuh oleh cintanya kepada jabatan dan kekuasaan. Di sisi lain, Hamzah, Jafar, dan Hanzalah rela mati demi cintanya kepada Allah dan Rasulnya.

             Kalau begitu, cinta sejati itu selayaknya kepada siapa? Ya kepada sesama dengan semata-mata karena berharap ridho Allah. Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya (al-Maidah; 54). Rasulullah bersabda: Barang siapa tidak menyayangi sesama manusia maka Allah tidak akan menyayanginya (HR. Bukhori dan Muslim).

Gambaran cinta sejati seperti itu dilukiskan Syamsul Rijal Hamid (Buku Pintar Hadits; 2006) dalam sabda Rasulullah: bahwa ada seorang lelaki pergi mengunjungi saudaranya yang bermukim di suatu negeri yang jauh dari tempat tinggalnya. Maka Allah SWT menyuruh malaikat untuk menemaninya selama dalam perjalanan.

            Malaikat bertanya kepada lelaki itu, “ Akan kemanakah engkau?”.

            “Mengunjungi saudaraku di suatu daerah.”

            “Apakah engkau berkunjung karena berhutang budi kepadanya?” tanya malaikat itu lagi.

            “Tidak,” tegas lelaki tersebut. “Sebab aku mencintainya semata-mata karena Allah ta’ala.”

            Malaikat itu berterus terang, “Sungguh, Allah SWT mengutusku untuk menemanimu disebabkan cintamu kepada saudaramu semata-mata karena-Nya.” (HR. Muslim).