Jam 03.10 pagi ini, menjelang subuhan, saya tiba-tiba teringat kepada para mahasiswa program doktor bimbingan saya. Antara lain mereka, tiga orang dari delapan orang, yang tiga bulan lalu gagal dalam ujian prakualifikasi (tertulis). Mereka semua mahasiswa program doktor manajemen bisnis pascasarjana IPB. Lalu segera saja saya mengirimkan pesan singkat (sms) kepada mereka. Isinya, “walau masih dua bulan lagi akan prelim ulangan, dan ini kesempatan terakhir, saya anjurkan anda sudah mulai menyesuaikan diri lagi pada suasana akademik di mb. Waktu begitu cepat berlalu”. Mengapa saya mengirim sms seperti itu? Karena saya berharap mereka sudah mulai kembali  tenang dan sadar atas kegagalan itu dan jangan terlena dengan pekerjaan-pekerjaan rutinnya.

 

Lalu, kurang lebih 15 menit kemudian, seorang mahasiswa bimbingan merespon sms saya; “nuhun pak diingatkan, saya juga baru selesai tahajud meminta kpd Allah swt untuk bisa konsentrasi menghadapi masalah itu. Sekali lagi terimakasih. Wass, Mr X”. Pada sekitar pukul 07 pagi, seorang mahasiswa bimbingan lainnya menjawab; “Baik P Syafri, akan saya lakukan dengan sungguh2 u menyesuaikan dgn akademik di mb. Tks.” Mr Y. Sementara siang harinya, mahasiswa yang ketiga merespon; “Ok pak. Hampir saja sy kehilangan semangat. Kontinuitas sy melakukan penggalian data dan riset utk disertasi sy betul2 berhenti pak. Sms bapak buat jd sy tersentak dan sy usaha bangkit pak. Sy akan segera menghadap bapak dan tim pembimbing yg. lain. tks. Wass.” Mr Z.

           

Saya sangat lazim untuk berkontak ria kepada para mahasiswa bimbingan saya khususnya yang kemajuannya relatif lambat. Kalau sudah seperti itu, segera saja saya mengirim sms ke mahasiswa  bersangkutan untuk mengingatkan agar proses belajar jangan sampai terhenti. Sekali saja proses belajar sendiri terhenti minimal selama  dua bulan maka seterusnya akan sulit untuk bangkit kembali. Saya melakukannya kepada siapapun apakah para mahasiswa bimbingan saya itu berlatar belakang sebagai direktur utama suatu perusahaan bumn dan privat, jendral, pejabat teras pemerintah, dosen, pegawai biasa sampai yang masih mencari kerja; saya tetap taat asas lewat sms, dan niatnya untuk berbagi kepedulian. Dan alhamdulillah hasilnya relatif bagus yakni mendorong mereka untuk cepat menyelesaikan studinya. Terbukti cenderung semua hasilnya positif. Umumnya  semakin responsif  terhadap ”teguran” saya lewat sms semakin cepat mereka melaksanakan tugas-tugas dan mencapai kinerja penyelesaian studinya.

 

Iklan