Ulasan ini tidak menelaah sisi kemiskinan dari segi makro. Sudah banyak ulasan tentang itu. Dan artikel ini dibuat dalam rangka menyambut blog action day-poverty-2008 yang jatuh pada tanggal 15 Oktober 2008. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Pertanyaan dari isyu yang berkembang adalah adakah hubungan antara kemiskinan dan semangat belajar? Tampaknya hampir tidak mungkin dihubung-hubungkan. Kalau toh ada hubungan, hipotesisnya yang secara akal sehat bakal diterima yakni semakin tinggi tingkat kemiskinan  keluarga semakin rendahnya  semangat belajar keluarga. Jadi tidak ada keberdayaan bagi keluarga tertinggal untuk meraih tingkat pendidikan yang tinggi bagi anggota keluarganya. Orangtua sudah putus asa untuk menyekolahkan anak-anaknya ke tingkat yang lebih tinggi. Apakah kesimpulan itu selalu benar?. Secara agregat mungkin benar. Namun untuk beberapa kasus tertentu mangapa hipotesis itu ditolak? Untuk itu kita coba telaah dari unsur motivasi para kepala keluarga miskin dalam mengangkat harkat anak-anaknya di bidang pendidikan.

 

Semangat belajar dan peluang untuk meraih tingkat pembelajaran yang semakin tinggi bisa dilihat dari sisi yang berbeda. Sudah hampir diduga bahwa semakin miskin suatu keluarga semakin kecil peluang untuk dapat menyekolahkan anak-anaknya. Intinya karena keterbatasan sumberdaya finansial. Namun apakah dengan demikian semangatnya untuk meningkatkan harkat pendidikan anak-anaknya pupus sudah? Bagaimana kalau kita melihatnya dari sisi motivasi orangtuanya? Dengan asumsi teori motivasi berlaku pada setiap individu maka seseorang yang berasal dari keluarga miskin, walau sekecil apapun, memiliki kebutuhan dalam bentuk harga diri dan aktualisasi diri. Kalau asumsi itu diterima maka semakin miskin orangtua  semakin terdorong untuk menambah pendapatannya untuk pengeluaran konsumsi plus untuk investasi pendidikan anak-anaknya.

 

Beberapa kasus membuktikan  karena motif semangat untuk mencerdaskan anak-anaknya begitu besar maka tidak jarang ada bapak dan ibunya melakukan pekerjaan apapun asalkan legal atau halal. Ada seorang ibu di Ambon yang pekerjaannya sebagai pemulung barang-barang plastik bekas telah mampu menyekolahkan dua orang anaknya kuliah di Universitas Patimura. Di Jawa Tengah ada seorang ibu yang berjualan jamu gendong bertahun-tahun telah mampu menyekolahkan dua orang anaknya sampai lulus. Yang satu  lulus sampai tingkat strata satu sementara kakaknya strata dua. Di Jawa Barat ada seorang bapak yang pekerjaannya sebagai tukang distribusi air minum ke tiap rumah juga mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai tingkat program diploma. Dan masih cukup banyak kasus seperti itu termasuk yang ibunya sebagai asisten rumahtangga.

 

Pada bulan Juli 2007 tercatat sebanyak 37,17 juta orang atau 16,58 persen dari total penduduk Indonesia.  Kita sudah ketahui bahwa bentuk kemiskinan bisa berupa kemiskinan struktural, kemiskinan kultural, kemiskinan natural, dan kemiskinan mental. Kemiskinan apapun dekat dengan kebodohan dan keterbelakangan. Ketiganya (kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan) saling berkaitan. Pendekatannya pun secara makro dilakukan melalui kebijakan pro growth, pro poor, dan pro employment. Namun ketika sudah sampai di lapangan maka hendaknya perlu ditinjau dari sisi mikro. Jangan sampai program mengatasi kemiskinan justru sebagai ladang subur untuk timbulnya penyalahgunaan dalam bentuk korupsi. Yang pada gilirannya keluarga miskin tidak sepenuhnya menikmati hasil dari proses pelaksanaan kebijakan itu. 

 

Disamping itu jangan pula diabaikan bagaimana pendekatan dalam membangun semangat kepada semua keluarga miskin untuk menyisihkan sebagian uangnya yang pas-pasan untuk biaya pendidikan anak-anaknya. Semangat untuk maju seharusnya dipandang sebagai sumberdaya bangsa. Disinilah diperlukan sosialisasi dan pendampingan tentang bagaimana menerapkan manajemen rumahtangga yang optimum. Para mahasiswa yang bergiat dalam kegiatan sosial dan kuliah kerja nyata misalnya juga bisa membantu membangun semangat belajar di keluarga miskin. Sementara itu para kader posyandu bisa melakukan pendampingan bagaimana membangun semangat belajar yang cerdas dalam keluarga. Dalam hal ini juga para pengusaha dapat menyisihkan sebagian keuntungannya untuk beasiswa anggota usia sekolah dari keluarga miskin. Semacam membangun semangat solidaritas.

Iklan