Dalam konteks pembelajaran dikenal ada beragam jenis ketrampilan dalam kurikulum yang disebut hard skills, soft skills, science skills, dan juga life skills. Hard skills antara lain berbentuk ilmu pengetahuan umum, khusus, teknologi, dan model-rancangan. Sementara soft skills antara lain berupa ketrampilan yang menyangkut komunikasi, kerjasama, kreatifitas, prakarsa, dan ketrampilan emosional. Sedangkan science skills meliputi keahlian dalam berpikir ilmiah dan ketrampilan dalam proses sebagai unsur pokok yang dibutuhkan dalam penelitian ilmiah. Bagaimana dengan life skills? Life skills (LS) merupakan kemampuan yang dapat dipelajari untuk mengerjakan sesuatu dengan baik. LS adalah kemampuan dimana para individu dapat belajar untuk menolong diri mereka sendiri untuk mencapai produktifitas dan kesejahteraannya. Dalam uraian ini lebih ditekankan pada dunia bisnis.

Beberapa kriteria yang digunakan untuk menentukan seberapa jauh LS telah dikuasai seseorang adalah  kemampuan dalam perencanaan dan pengorganisasian; mencatat, menseleksi, dan memanfaatkan data dan informasi; dan kemampuan bekerja dalam tim. Mereka diharapkan memiliki kemampuan untuk merencanakan apa jenis usaha yang akan ditekuninya, apa jenis komoditinya (barang atau jasa) dan berapa banyak, apa dan bagaimana metode produksinya, bagaimana modalnya, fasilitas produksinya, bagaimana pemasarannya, siapa segmen pasarnya, bagaimana mengorganisasikannya, dst. Para siswa dilatih sambil bekerja agar trampil. Selain itu mereka dilatih untuk menseleksi setiap data dan informasi yang akan digunakan dalam menyusun rencana bisnisnya dan untuk pekerjaan tugas-tugas spesifiknya. Dalam pelaksanaannya para siswa dilatih untuk bekerjasama dalam suatu tim kerja yang solid. Antara lain yang dilakukan adalah bagaimana berkomunikasi dengan efektif, menyusun uraian pekerjaan dan tugas, mengalokasikan tugas, wewenang dan tanggung jawab diantara anggota tim, dan model mekanisme kerjasama tim. Selain itu dikembangkan kemampuan kepribadian antara lain sikap berbisnis, bersosialisasi dan kepemimpinan.

Khalayak sasaran pendidikan LS terutama mereka dari kalangan muda usia dan remaja yang putus sekolah, yang keluarganya terkena bencana alam, anak-anak jalanan, dan yang kepala keluarganya terkena pemutusan hubungan kerja. Mereka seharusnya dapat menikmati pendidikan akademis yang seimbang dengan pengembangan ketrampilam termasuk pendidikan teknis dan vokasional. Namun karena masalah internal keluarga dan eksternal yang tidak pasti; misalnya tentang dunia kerja maka mereka berada dalam persimpangan jalan. Karena keterbatasan uang yang dimiliki mereka tidak mampu melanjutkan sekolahnya. Sementara di sisi lain mereka harus bisa membantu kehidupan ekonomi keluarganya.

Namun demikian, pelaksanaan program LS tidak selalu berhasil dengan baik. Pasalnya proses pendidikan dan pelatihan LS tidak terintegrasi dengan lembaga pendukungnya. Semacam kebingungan di persimpangan jalan. Misalnya, apakah ketika program LS sejak direncanakan  sudah dipertimbangkan bagaimana melibatkan lembaga keuangan mikro bisnis, misalnya. Karena setelah seseorang selesai mengikuti pelatihan LS tentunya harus siap untuk membuka bisnis sendiri. Namun karena keterbatasan dana maka percuma saja pelatihan LS kalau lembaga keuangan dalam penyediaan pinjaman atau kredit tidak tersedia. Begitu juga apakah mereka diberikan suatu informasi tentang jejaring bisnis yang tersedia dimana mereka bisa melakukan aliansi atau kerjasama bisnis. Jadi pelatihan LS seharusnya tidak berdiri sendiri secara parsial. Seharusnya itu merupakan model pembangunan sumberdaya manusia di bidang pengembangan bisnis secara terintegrasi.

Iklan