Hari ini adalah hari cuci tangan sedunia (global handwashing day). Dengan mencuci tangan maka tangan akan terhindar dari kuman. Kampanye cuci tangan pakai sabun ini sebenarnya sudah diadakan di Indonesia sejak tahun ‘80an. Khalayak sasaran utamanya adalah para murid pra-sekolah. Jadi sejak dini telah disosialisasi budaya bersih fisik. Intinya adalah tangan yang digunakan untuk makan, misalnya. sudah terbebas dari kuman dan penyakit. Dengan demikian siapapun yang mencuci tangannya akan tetap sehat. Lambat laun cuci tangan bakal menjadi budaya. Secara makro kalau program  ini berhasil maka akan berdampak  terhadap berkurangnya anggaran negara untuk kesehatan. Hal ini karena dengan budaya cuci tangan, derajad kesehatan masyarakat semakin meningkat.

      Cuci tangan yang satu ini sangatlah berbeda. Kalau cuci tangan fisik merupakan pangkal kesehatan maka cuci tangan yang satu ini sebaliknya. Makna cuci tangan yang ini adalah pelepasan tanggung jawab secara sadar dari seseorang atas perbuatannya yang menyimpang. Dengan kata lain telah terjadi cuci tangan pangkal kerusakan mental atau moral. Misalnya, kalau pemimpin yang dekat dengan pusat kekuasaan, dan sudah jelas menyelewengkan uang rakyat maka dengan dalih atau bersilat lidah merasa tidak bersalah. Dan terbebas dari tindakan hukum. Sebaliknya telah terjadi tindakan yang tidak proposional ketika koruptor yang berada jauh dari pusat kekuasaan bakal terjerat hukum.

       Selain itu dalam kehidupan keseharian di bidang pekerjaan juga kerap terjadi. Contohnya, ada seorang pemimpin yang sudah jelas-jelas bersalah dalam melaksanakan tugas tetapi tidak mau mengakuinya. Malah sang bawahanlah yang dituding telah berbuat keliru. Ada semacam tindakan sewenang-wenang yang berbasis kekuasaan sang bos. Kekuasaan dinilainya sebagai perwujudan kekuatan untuk berbuat apapun termasuk menyalahkan orang lain. Semacam menggeser tanggung jawab. Padahal itu sebenarnya cerminan keangkuhan dan sekaligus kelemahan diri. Dia telah berperilaku tak bertanggung jawab atau cuci tangan. Lempar batu sembunyi tangan.

      Kalau demikian apakah di Indonesia diperlukan ada hari membasmi perilaku amoral cuci tangan? Rasanya tidak perlu. Bisa-bisa kontra produktif. Masih cukup banyak orang yang bertanggung jawab.  Yang penting adalah perilaku amoral cuci tangan tersebut perlu direspon lewat pengembangan budaya bersih, tanggung jawab, keterbukaan, dan akuntabilitas (pertanggung-gugatan). Dengan kata lain diperlukan pengembangan etos tanggung jawab. Sebut saja seperti dalam dunia pewayangan yakni sifat ksatria. Untuk itu maka tiada lain harus ada keteladanan dari para pemimpin mulai di tingkat rumahtangga sampai tingkat lingkungan masyarakat, lembaga pendidikan, instansi pemerintah,  dan lembaga-lembaga hukum, politik, parlemen, dan pemerintahan. Selain itu peluang yang begitu lebar terjadinya cuci tangan jenis ini harus dipersempit. Salah satunya adalah penerapan fungsi kontrol yang ketat dan penerapan sanksi hukum yang tegas kalau terjadinya penyimpangan tanggung jawab.

Iklan