Hari Senin ini semua pegawai khususnya PNS sudah mulai masuk kerja lagi setelah menikmati libur panjang lebaran selama seminggu. Biasanya pada hari itu juga di setiap kantor diadakan acara silaturahmi lebaran yang diawali apel karyawan. Namun pada hari pertama masuk kerja tidak semua pegawai sudah hadir. Yang terjadi, ada saja yang mangkir. Alasannya macam-macam. Ada yang masih di kampung, masih di perjalanan, sakit dan tidak jelas motifnya. Jumlahnya bisa-bisa mencapai 40 persen. Lucunya,dari pengalaman terdahulu, di beberapa instansi, dalam daftar hadir terdapat tandatangan karyawan tertentu tapi yang bersangkutan tidak ada.  Di hari pertama pun rata-rata sekitar pukul 11 siang kebanyakan sudah pulang.

 

Saya khawatirkan kondisi kehadiran karyawan yang tidak penuh  seperti itu akan molor sampai Sabtu minggu  ini. Baru Senin depan nanti diperkirakan akan kembali  penuh. Wah wah wah. Kalau benar seperti itu berarti telah terjadi korupsi waktu. Hal ini menambah sederetan juara yaitu bangsa nomor wahid di dunia dalam hal ketidakdisiplinan pegawai negeri sipil. Lalu sebenarnya apa yang terjadi pada perilaku karyawan khususnya yang  malas?

 

Setiap orang sudah pasti pernah malas. Jadi pada dasarnya sifat manusia tentang kerja adalah ambivalen. Siapapun dia  termasuk pekerja keras toh dalam keadaan tertentu misalnya dalam  kondisi jenuh dia akan malas kerja juga. Inginnya santai-santai saja. Selain  dalam hal pekerjaan, sifat malas juga bisa berbentuk malas makan, malas bangun tidur, malas mandi, malas berdandan, malas ngomong, malas bepergian, malas membaca, dsb. Bentuk  malas seperti itu biasanya bersifat relatif sementara.

 

Yang malas kerja relatif permanen dalam teori motivasi dikenal sebagai teori X. Teori ini menganggap bahwa ada orang yang cenderung punya sifat  malas. Mereka membenci pekerjaan dan selalu menghindari-nya. Selain itu mereka tidak punya ambisi dan prakarsa serta menghindari tanggungjawab dengan mengkambing-hitamkan orang lain. Mereka juga lebih mementingkan diri sendiri dan mengabaikan tujuan organisasi. Semua yang diinginkan mereka adalah rasa aman buat dirinya saja.

 

Agar  mau bekerja, mereka yang tergolong teori X ini konon harus dihargai dengan uang, dipaksa, diancam dan bahkan dihukum. Ini yang disebut sebagai falsafah manajemen ‘dipecut dan dipikat’. Namun harus ekstra hati-hati jika  ingin menerapkan model ini. Pendekatan motivasi dengan ‘dipecut’ berupa hukuman, tidak hanya gagal untuk menghasilkan sesuatu yang diharapkan tetapi malah meninggalkan perasaan tidak senang di kalangan karyawan. Hukuman akan menimbulkan akibat yang buruk ketimbang yang positif. Bisa-bisa meningkatkan dendam dan permusuhan di antara pihak pimpinan dan karyawan. Sebaliknya, pendekatan motivasi dengan ‘dipikat’. Cara ini kental dengan  pujian dan penghargaan pada upaya para karyawan. Pada gilirannya secara nyata akan memperbaiki atmosfir kerja yang nyaman, menghasilkan kinerja sesuai harapan dan membuat  karyawan merasa puas.

 

Berbeda dengan teori X, teori Y  menggambarkan sifat seseorang yang senang bekerja.  Setiap orang sebenarnya punya sifat ingin belajar. Pekerjaan dinilai sebagai kegiatan alami; sama halnya jika mereka bermain atau istirahat. Orang bertipe ini bersifat rajin, berambisi namun dengan penuh tanggungjawab. Pekerjaan dipandang sebagai upaya untuk meningkat-kan disiplin dan pengembangan diri.

 

Terhadap karyawan yang tergolong teori Y ini, penghargaan dalam bentuk uang dinilai relatif lebih kecil porsinya ketimbang nilai kebebasan untuk mengerjakan sesuatu yang sulit dan penuh tantangan. Tugas para pimpinan adalah mengaitkan keinginan pengembangan diri karyawan ke dalam kebutuhan organisasi untuk memaksimumkan efisiensi. Tujuan pokoknya, agar kepentingan kedua pihak tersebut dapat terpenuhi. Untuk itu para pimpinan kantor sebaiknya tidak terlalu melakukan intervensi pada kelompok karyawan. Tugas mereka cukup sebagai fasilitator. Para karyawan diberi kebebasan untuk melatih pengendalian-pengarahan dirinya dalam upaya mencapai tujuan organisasi.

 

Tindakan  kepada mereka yang malas masuk kerja setelah libur panjang seharusnya dilakukan secara proporsional. Diperlukan kejelasan lebih dahulu alasan karyawan bersangkutan tidak masuk kerja. Dari alasan itu akan terklarifikasi mereka yang termasuk golongan yang tidak disiplin masuk kerja tepat waktu. Mereka itulah yang perlu dikenakan tindakan ’hukuman’ sesuai dengan prosedur yang standar. Main hakim sendiri oleh pimpinan semata-mata karena emosi dan  kekuasaan perlu dihindari. Perlakuan pukul rata apalagi pilih kasih akan merusak tataran organisasi. Jadi sebenarnya sederhana saja. Normatif-nya  ada peraturan ada disiplin. Ada ketidakdisiplinan ada ’hukuman’. Ada kepemimpinan ada keadilan.  Diadaptasi dari Tb.Sjafri Mangkuprawira. 2006. Rona Wajah. IPB Press

 
 
 

 

 

Iklan