Tugas utama seorang pembimbing adalah memberikan arahan tentang  penelitian yang akan dilakukan mahasiswanya, menelaah dan menguji hasil penelitiannya. Pola yang selama ini saya lakukan adalah melakukan pertemuan awal dengan semua  mahasiswa bimbingan, misalnya untuk mahasiswa bimbingan semester tertentu. Pada pertemuan itu dijelaskan proses bimbingan yang  diterapkan (teknik, waktu dan lokasi) termasuk  sudah melakukan tukar pendapat tentang topik tentatif penelitian. Arahan bisa dalam aspek-aspek topik penelitian, teori yang digunakan, kerangka pemikiran konseptual dan operasional, hipotesis, asumsi yang digunakan, model analisis empirik, metodologi penelitian, dan kedalaman analisisnya. Kemudian ketika mau bimbingan, mahasiswa harus sudah siap membawa ide atau konsep yang dibuatnya. Tidak dengan pikiran kosong. Bagaimana dengan  waktu dan lokasi bimbingan? Ya begitu fleksibelnya. Bisa di kantor dan bisa (sebagian besar)  di rumah. Bisa mahasiswa yang memberitahu dan bisa juga saya. Kalau ada tanda-tanda mahasiswa bimbingan agak lamban maka saya tidak segan-segan mengirim SMS menanyakan tentang kemajuan studinya.

Selama 30 tahun terakhir ini jumlah mahasiswa bimbingan saya sebanyak 461 orang yang terdiri dari 212 mahasiswa strata satu, 215 mahasiswa strata dua, dan 34 mahasiswa strata tiga. Mereka yang sudah lulus dari strata satu sebanyak 199 orang, strata dua sebanyak 183 orang, dan strata tiga sebanyak 14 orang. Latar belakang sosial para mahasiswa bimbingan mulai dari yang belum bekerja, aktifis LSM, aktifis partai, pegawai swasta, pegawai negeri termasuk dosen dan peneliti, pebisnis, pejabat eselon dua dan satu, mantan pejabat eselon satu, sampai jendral purnawirawan berbintang tiga.

Pola bimbingan yang   diterapkan selama ini bergantung pada golongan strata pendidikan. Semakin tinggi strata pendidikan mahasiswa semakin longgar proses bimbingannya. Alasannya karena semakin tinggi strata pendidikannya, mereka seharusnya semakin mandiri. Kecuali ada mahasiswa yang memiliki masalah khusus. Begitu pula, pola bimbingan  sangat bergantung pada mutu akademik sang mahasiswa. Semakin tinggi mutu akademik mahasiswa, derajad ketekunan, dan tingkat kedisiplinannya cenderung semakin kendor kendali bimbingan yang diterapkan. Mereka umumnya cepat  bisa lulus. Tentunya pula harus didukung dengan kedisiplinan dosen pembimbingnya.

Dalam prakteknya, seperti layaknya seorang manusia biasa, dosen pembimbing pun mengalami kegembiraan dan kesedihan dalam proses membimbing mahasiswanya. Dan ini sangat berkait dengan mutu mahasiswa bimbingan. Seperti diungkapkan di atas,  semakin tinggi mutu akademik dan kedisiplinannya semakin cepat sang mahasiswa bimbingan bisa lulus.  Karena itu semakin rendah mutu akademiknya, semakin ketat atau intensif proses bimbingan yang berlangsung. Belum lagi ditambah  faktor kelambanan dan kemalasan mahasiswa. Tidak aneh ada yang sampai empat bulan tidak nongol dan berjumpa dengan saya. Melapor pun tidak sama sekali. Padahal sudah berulang kali dikirimi SMS atau surat teguran dari bagian akademik fakultas. Dan sedihnya diantara mereka ada yang termasuk sebagai dosen di perguruan tingginya. Terkadang disertai urut-urut dada ketika menghadapi mahasiswa bimbingan yang begitu lambannya dalam menguasai permasalahan dan kerangka berpikir ilmiahnya. Ketika itulah dibutuhkan bimbingan intensif  disertai suatu kesabaran tinggi.

Bentuk kesedihan lainnya adalah kalau sang mahasiswa bimbingan tidak lulus. Sejauh ini mahasiswa strata satu lulus semua. Sementara mahasiswa strata dua ada empat orang yang tidak lulus. Faktor penyebabnya antara lain ada yang tidak memiliki etika akademik (plagiat), dan ada yang gagal lagi dalam kesempatan ujian ulangan. Sejauh ini, pada strata tiga, semua mahasiswa tidak ada yang gagal. Namun bukan berarti tidak ada masalah. Kalau ada di antara mereka  yang tidak lulus ujian kwalifikasi doktor (preliminary examination), saya juga sangat sedih. Bisa diperkirakan mereka mulanya akan terpukul. Namun saya yakin mereka tidak tenggelam dalam kesedihan berlarut-larut dan akan segera bangkit untuk menghadapi ujian ulangan.   Dalam situasi itulah  sisi non-akademik tidak luput menjadi perhatian saya ketika menjalankan proses bimbingan. Antara lain lewat pertemuan berkala (acara santai) dengan semua mahasiswa bimbingan, pertemuan kelompok, dan pertemuan individual. Dalam kesempatan itu tidak jarang diberikan semacam soft skills kepada mereka.

Secara keseluruhan, dari proses bimbingan, perasaan yang didapatkan relatif lebih bernuansa rasa gembira ketimbang rasa sedih. Bisa dibayangkan betapa gembira campur rasa harunya mahasiswa ketika yang bersangkutan dinyatakan lulus. Tidak ayal lagi saya pun akan larut dalam rasa syukur kebahagiaan. Kalau toh ada kegagalan mahasiswa, itu adalah hal yang biasa dari suatu proses belajar. Dari pengalaman, tampaknya derajad waktu kelulusan mahasiswa bimbingan  sangat berkait pula dengan mutu proses bimbingan. Untuk itu proses interaksi dalam bimbingan tidak saja sebatas aspek akademik tetapi juga non-akademik atau kekeluargaan. Seiring dengan itu tiap dosen  harus tetap berpegang pada koridor  prinsip-prinsip utama dalam menerapkan jaminan mutu akademik yang tinggi. Dengan kata lain jangan terbawa bias masalah pribadi. Saya percaya itulah yang selama ini dipupuk oleh para dosen IPB dalam meraih keberhasilan proses membimbing mahasiswa yang bermutu.

 

Iklan