Setiap lebaran akan tiba tentunya akan disambut dengan suka cita oleh warga muslim. Begitu juga saya. Saya yang dibesarkan di suatu pelosok kampung Kemayoran Betawi, sangat senang sekali menyambutnya. Ketika masih sangat muda, hampir sehabis tarawih di mushola saya terus main takumpet atau galah asin dengan teman-teman. Hampir seminggu sebelum lebaran, saya sibuk membantu emak  membuat  kue. Beliaulah yang mengolah bahan kue dan mengawasi kualitas kematangannya. Sementara saya dengan setia menjadi tukang bakar dan sekaligus mengatur jumlah bahan bakar dari sabut dan tempurung kelapa. Selain  itu juga saya diminta mengawasi kematangan kue. Dan enaknya, kalau dari kue itu ada yang sedikit hangus maka saya diberi kebebasan buat memakannya; asyiiik. Hampir setiap malam emak dan saya melakukannya dengan menggunakan sebuah tungku tanah (kami tidak memiliki oven listrik). Sering  sampai tengah malam. Sedikit pun saya tidak pernah merasa lelah. Apalagi karena ada ”iming-imingnya” yaitu uang jajan, baju dan sepatu lebaran.

Ketika sampai tingkat SMP, urusan pilihan bahan baju  lebaran berada di tangan emak. Tetapi sepatu diserahkan kepada anaknya masing-masing. Yang paling saya sukai adalah sepatu basket berwarna putih dan biru buatan pabrik sepatu Bata. Ketika itu merek Bata sangat populer karena memang merek lain masih jarang dijumpai. Baju-jadi hampir-hampir tidak pernah dibeli. Disamping masih jarang, harganya juga relatif lebih mahal. Beda dengan sekarang, justru baju-jadi lebih murah ketimbang baju buatan tukang jahit pesanan. Setelah duduk di SMA dan mahasiswa semua pilihan baju dan sepatu lebaran diserahkan masing-masing ke anak-anaknya. Emak tinggal memberi uang dari hasil jerih payahnya sebagai seorang bidan senior era Belanda dan tentunya juga dari dompet abah.

Ketika malam takbiran akan tiba, sejak sore hari bersama teman-teman sebaya kami siap berencana  pergi begadang keliling Betawi. Tentunya  atas seizin abah-emak. Ketika saya masih sekolah di SMP dan SMA biasanya kami menyewa empat buah beca. Di tiap beca terisi tiga sampai empat orang. Kami sendiri yang mengayuhnya secara bergantian keliling dari satu tempat ke tempat lain sambil bergitar ria. Bahkan sampai ke daerah Matraman,  Manggarai, Menteng dan Kota.

Setelah menjadi mahasiswa, yang saya pakai untuk takbiran keliling Jakarta bukan beca lagi tetapi sepeda motor pribadi. Wah rasanya lebih keren apalagi senang sekali ngebut dan mempermainkan suara knalpot motor. Pulang sudah waktu menjelang subuh dan terus tidur selama satu setengah jam. Pagi harinya terus ke masjid untuk sembahyang Ied sambil menahan kantuk. Pulang dari masjid terus sungkem ke  abah dan emak. Biasa minta maaf. Begitu juga dengan saudara sekandung lainnya. Lalu emak terus ngajak makan: ketupat, sayur ketupat, opor ayam, semur daging dan menu lainnya. Wah sedaaap setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa.

Pengalaman saya semasa kecil, remaja dan dewasa terutama menjelang lebaran selalu mengingatkan pada kehadiran orangtua (almarhum dan almarhumah) saya. Saya selalu mengingat-ingat jasa abah dan emak membesarkan anak-anaknya khususnya saya. Contohnya, ketika saya lulus SMA tahun 1963, sebenarnya saya diterima di  Jurusan Biologi FMIPA UI. Dengan seizin dan doa abah-emak, saya lebih memilih masuk ke Fakultas Pertanian UI Bogor. Alasannya bukan saja karena masalah minat tetapi juga karena saya ingin relatif jauh dari orangtua untuk lebih mandiri dalam mengelola perilaku saya. Namun bukan berarti mandiri dalam pendanaan karena hal itu masih datang dari orangtua sampai saya selesai menjadi sarjana.

Hal lain yang selalu menjadi ingatan kuat saya menjelang setiap lebaran adalah tentang kearifan abah-emak dalam memberi nasehat. Tidak sedikit nasehat yang saya terima. Sampai saya memasuki kehidupan berkeluarga pun nasehat-bimbingan dari orangtua tidak pernah berhenti. Seingat saya intensitas menasehati semakin tinggi ketika saya dalam usia sekolah di SD sampai SMP. Selama kurun waktu itu saya  termasuk nakal. Main sepak bola, mancing di rawa-rawa, mandi di sungai dan begadang sesama satu gang anak muda hampir-hampir tidak kenal waktu. Belajar sangat terabaikan. Apalagi kalau malam minggu atau  liburan sekolah. Ketika itu nasehat orangtua, saya anggap semacam formalitas saja. Di depan abah-emak saya ngangguk-ngangguk namun setelah itu terabaikan lagi. Ini berulang kali terjadi.

Puncak  dari mengabaikan nasehat adalah saya tidak naik  dari kelas dua ke kelas tiga SMP. Bukannya karir akademik yang diperoleh tetapi hanya sebuah kepercayaan sebagai seorang kapten kesebelasan Persija Remaja (1958). Ketika itu  saya tidak tahu lagi apa yang harus  diperbuat. Di dalam pikiran saya, pasti orangtua  khususnya abah akan memarahi saya habis-habisan. Eh ternyata tidak. Dengan tenang dan arifnya, walau pasti kecewa, abah dan emak menasehati agar saya tidak larut dalam penyesalan diri. Mereka berdoa dan percaya, saya akan sukses kalau mau belajar dari kegagalan itu. Benar juga, karena  yang saya tahu, kegagalan sebenarnya suatu keberhasilan yang tertunda.

Alhamdulillah doa beliau didengar dan dikabulkan Allah. Dari seorang anak yang pernah tidak naik kelas karena kenakalannya, saya kemudian bisa meraih gelar doktor dan jabatan  guru besar. Isi pesan nasehat sekaligus doa abah-emak begitu kuat pengaruhnya pada perjalanan karir saya. Ya karena memang saya ingin membayar hutang atas kenakalan saya kala itu. Hanya karena kehendak Allah lah beliau tidak dapat menyaksikan kebahagiaan dan rasa syukur saya dalam mencapai karir akademik tertinggi itu.  Abah (wafat usia 65 tahun) dan Emak (wafat usia 83 tahun)  telah dipanggil sang Khalik, 26 dan 11 tahun yang lalu. Saya selalu merindukan mereka khususnya pada saat ramadhan dan menjelang lebaran. Ya Allah berilah tempat yang layak untuk kedua orang tua saya sesuai dengan amal ibadahnya. Aamiin.  Diadaptasi dari Tb. Sjafri Mangkuprawira. 2006. Rona Wajah .Jilid satu. IPB Press.

Iklan