Dalam Wikipedia, monyet adalah hewan mamalia dari jenis primata. Hewan ini termasuk dalam keluarga kera. Saat ini telah ditemukan kurang lebih 264 spesies monyet di dunia. Karena persamaan fisiknya dengan monyet, beberapa jenis kera seperti simpanse dan gibbon kadang-kadang disebut juga sebagai monyet. Sewaktu saya duduk di sekolah rakyat bahkan hingga kini masih senang sekali membaca komik karangan RA Kosasih tentang hanoman dalam kisah Ramayana. Senang karena kisah kepahlawanannya dan jiwa kesatrianya. Hanoman (Sanskerta: Hanumān) atau Hanumat (Sanskerta: Hanumat), menurut wikipedia, juga disebut sebagai Anoman, adalah salah satu dewa dalam kepercayaan agama Hindu, sekaligus tokoh protagonis dalam wiracarita Ramayana yang paling terkenal. Ia adalah seekor kera putih dan merupakan putera Batara Bayu dan Anjani, saudara dari Subali dan Sugriwa. Menurut kitab Serat Pedhalangan, tokoh Hanoman sebenarnya memang asli dari wiracarita Ramayana, namun dalam pengembangannya tokoh ini juga kadangkala muncul dalam serial Mahabharata, sehingga menjadi tokoh antar zaman. Di India, hanoman dipuja sebagai dewa pelindung dan beberapa kuil didedikasikan untuk memuja dirinya.

Hewan satu ini, menurut kepercayaan China, memiliki ciri-ciri yang khas. Punya segudang keunikan dan kelucuan. Karena itu tidak aneh, orang yang memiliki shio monyet, selain cerdas ia mampu mencari solusi ketika menghadapi berbagai tantangan. Namun di sisi lain, monyet juga dikenal sangat licik. Dalam entitas monyet saja, mereka tidak pernah bertoleransi. Yang terjadi malah saling beradu muka dan tangan alias cakar-cakaran. Culas namanya. Kalau perilaku seperti itu mirip terjadi di kalangan masyarakat apakah kita pantas disebut monyet?

Kata monyet cukup banyak digunakan untuk hal lainnya. Misalnya cinta monyet yang bahasa inggrisnya adalah “puppy love”. Istilah ini banyak diumpamakan untuk mereka yang masih muda belia atau kanak-kanak yang sedang saling menyenangi satu sama lain. Putus nyambung, putus nyambung dst. Lalu ada yang disebut topeng monyet. Ini adalah bentuk peragaan ketrampilan  sang monyet yang ditonton khalayak  dari satu kampung ke kampung lainnya. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk mendapatkan uang dari kepiawaian sang monyet bergaya. Pertunjukkan topeng monyet ini sudah sebagai profesi si empunya atau penyewa monyet.

Sebutan monyet yang satu ini luar biasa. Beberapa gelintir orang khususnya  pemimpin suatu instansi ada yang menggunakan kata monyet sebagai pernyataan kekesalan dan kebencian pada seseorang. Bahkan seolah sudah menjadi kesenangan dan kepuasan bathin sang pemimpin. Kalau sedang emosi yang tidak terkontrol dengan mudahnya sang penguasa mengumpat bawahan atau orang lain dengan kata-kata monyet lu! Disampaikan secara enteng-enteng saja.

Jelas sikap itu termasuk tidak dewasa. Sangat tidak bijak, apalagi kalau ucapan itu dilakukan oleh kalangan pejabat negara dan akademisi. Dia tidak sadar akan nilai-nilai kemanusiaan orang yang diumpatnya. Sejelek-jelek sifat manusia, yang punya harga diri, tidak pantas kata-kata itu disampaikan ke orang lain. Dalam lingkungan organisasi, hal itu dapat menyebabkan suasana kerja yang tidak nyaman yang akan menurunkan motivasi kerja para karyawan.  Kalau seperti itu lalu kepada siapa lagi karyawan bercermin tentang kebajikan? Apa yang terjadi kalau sang pemimpin bersangkutan  diperlakukan sama oleh orang lain atau bawahannya namun dengan ungkapan berbeda yakni manusia lu!  Nah, mana yang lebih bergengsi disebut kaya monyet atau kaya manusia.