Idealnya tiap perusahaan beroperasi dalam suatu sistem yang utuh. Hal ini tergambarkan, misalnya dimana strategi bisnis merupakan derivasi dari visi, misi, dan tujuan perusahaan. Kemudian turunan dari strategi bisnis dirinci menjadi strategi finansial, strategi pengembangan produksi, strategi pemasaran, strategi sumberdaya manusia, dsb. Tiap strategi itu berada pada wadah apakah yang disebut sebagai departemen, divisi, ataukah sebagai unit. Tiap perusahaan bisa jadi sebutannya berbeda. Dan semuanya kita anggap sebagai subsistem dari organisasi bisnis. Dengan demikian diharapkan antarsubsistem terjadi mekanisme yang sinergis dalam mendukung sistem bisnis keseluruhan. Namun mengapa dalam prakteknya  dapat terjadi ketidakharmonisan antarsubsitem?

Ketika pelanggan ingin memperoleh informasi tentang produk baru beserta rincian mutu dan harganya bisa jadi sangat lambat diperoleh. Hal ini karena adanya gangguan sistem on line. Terganggunya sistem bisa disebabkan oleh kurangnya peralatan fisik ataukah karena perangkat lunak yang dimiliki perusahaan tidak handal. Di sisi lain sebenarnya tenaga akhli cukup tersedia. Dengan demikian kalaupun sumberdaya manusia tersedia cukup namun karena mekanisme sistemnya terganggu maka kegiatan bisnis akan percuma saja.

Begitu pula sistem yang baik belum  menjamin bahwa target perusahaan untuk menuai laba tertentu dapat tercapai. Pasalnya keberhasilan sistem yang baik sangat bergantung pada siapa pelakunya. Bagaimana tentang jumlah dan mutu sumberdaya manusianya. Bagaimana pula interaksi dan sinergitas antarpelaku dalam subsistem yang berbeda. Adakah ketaatasasan atau konsistensi dalam waktu yang sama? Atau malah tidak taatasas yang menyebabkan ketidakharmonisan kerja? Kalau terjadi ketidakharmonisan, apa saja faktor penyebabnya?

Ketidakharmonisan antarpelaku subsistem utamanya disebabkan faktor tidak berfungsinya peran pelaku secara optimum. Misalnya divisi pemasaran sangat aktif melakukan studi pasar terutama untuk memperoleh informasi akurat dari pelanggan atau konsumen tentang kebutuhan mereka terhadap produk-produk tertentu. Bisa juga para pelanggan menyampaikan gagasan-gagasan kepada perusahaan  tentang jenis produk, bentuk produk, kemasan produk, dan sistem pengiriman produk. Informasi yang diperoleh digunakan sebagai upaya untuk menyusun strategi pemasaran yang lebih efisien. Artinya bagaimana perusahaan harus  mampu menyampaikan produk yang dipesan pelanggan atau konsumen dengan tepat mutu, tepat jumlah, tepat harga, dan tepat waktu. Tentu saja agar para pelanggan atau konsumen merasa puas. Untuk itu adalah layak divisi pemasaran harus bekerja sama dengan divisi pengembangan produksi. Pertanyaannya siapkah divisi produksi menanggapinya dan bekerjasama dengan baik?

Divisi pengembangan produksi pada tataran sistem sebenarnya siap bekerjasama dengan divisi pemasaran. Namun di balik itu persoalan personifikasi antarpelaku pada antarsubsistem dapat menggangu sistem yang ada. Keangkuhan dan kebencian karena pernah terjadi konflik antarkubu menyebabkan keharmonisan kerja terganggu. Mereka sama-sama merasa benar. Tidak ada yang mau mengakui kelemahannya. Dan parahnya tak ada keinginan untuk ”islah”. Pihak divisi pemasaran menyalahkan divisi produk karena mengabaikan permintaan pasar. Sementara pihak divisi pengembangan produksi menuduh pihak divisi pemasaran tidak punya konsep yang jelas dan operasional. Apa akibatnya? Divisi pemasaran mendapat cemoohan dari para pelanggan atau konsumen karena produk baru yang diminta tidak sesuai permintaan mereka. Sedangkan pihak divisi produksi mendapat ”tamparan” dari manajemen yang lebih atas karena para pelanggan atau konsumen tidak puas dengan pelayanan perusahaan. Dengan kata lain divisi produksi telah lalai menghasilkan produk baru sesuai dengan standar atau selera pasar.

Ketidakharmonisan antarpelaku tersebut tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Kalau tidak, perusahaan akan merugi karena kepercayaan atau bahkan loyalitas pelanggan semakin berkurang bahkan jatuh sampai titik nadir. Karena itu manajemen puncak harus turun tangan mengatasinya. Para direksi yang membawahkan kedua divisi perlu dipertemukan. Dicari jalan keluarnya terutama dalam proses pembinaan para karyawan yang berseteru untuk menggapai keharmonisan kerja.

Iklan