Hari ini bangsa Indonesia sedang berulangtahun kemerdekaan yang ke-63. Kemerdekaan atas penjajahan dari negara asing. Rakyat dan bangsa selalu mengenangnya secara mendalam, terutama kepada para pahlawan dan atau pejuang kemerdekaan. Kesedihan akibat penjajahan berganti menjadi kebahagiaan dan rasa syukur karena telah lepas dari penindasan para penjajah. Namun demikian, ternyata kesuka-citaan rakyat relatif tidak bertahan lama. Tahun demi tahun bangsa Indonesia, bahkan sampai kini, ternyata belum merdeka semerdeka-merdekanya. Masih ada yang belum merdeka.

          Kemerdekaan atau lepas dari pengangguran, dari lingkaran kemiskinan, dari ketidak-adilan hukum dan hak asasi, dari kesehatan yang buruk, dari rasa aman, dari biaya pendidikan dan kesehatan yang masih mahal, dan dari eksploitasi sumberdaya alam yang berlebihan  belum sepenuhnya terujud. Dengan kata lain, ada penjajahan bentuk baru yaitu penjajahan dari dalam diri bangsa sendiri yang berakibat makin tidak jelasnya karakter dan martabat bangsa ini. Penjajahan itu berbentuk kekejian manusia dengan mengkorup uang negara, uang rakyat, mengeksplotasi karyawan, menguras sumberdaya alam, dan menciptakan kepentingan-kepentingan politik dan kedaerahan yang sempit.

           Khusus bicara tentang kemerdekaan karyawan untuk memperoleh hak-haknya tampaknya masih menjadi perjuangan panjang. Masalahnya silih berganti dari masalah upah minimun propinsi dan kabupaten/kota sampai masalah PHK, pesangon, dan hak berorganisasi. Masih ada perusahaan dimana pihak karyawan selalu ditempatkan pada posisi yang tak berdaya. Kekuasaan pengusaha di atas segalanya. Upaya membangun manajemen kemitraan antara pihak manajemen dan karyawan hanyalah baru sebatas impian saja. Karyawan masih diposisikan sebenar-benarnya sebagai faktor produksi dan sub-ordinasi. Karyawan belum dipandang sebagai unsur investasi efektif baik bagi perusahaan maupun bagi karyawan itu sendiri. Sebagian pengusaha masih jauh dari bijak, sombong, dan ego pada kepentingan perusahaan saja. Karyawan belum banyak yang dijadikan mitra oleh para pengusaha. Padahal sangatlah tidak mungkin kinerja perusahaan mencapai posisi bisnis yang unggul tanpa dukungan karyawannya.

          Permasalahan karyawan sudah sangat  kompleks. Seperti benang kusut. Pertanyaannya harus mulai dari ujung mana masalah itu diatasi? Tidak mudah, karena tiap masalah dengan masalah lainnya sangat terkait erat. Untuk itu, pemerintah dan asosiasi pengusaha dan karyawan harus secara eksplisit memiliki strategi pembangunan sumberdaya manusia karyawan yang tidak saja berkiblat pada pendekatan holistik dan komprehensif, tetapi juga pada kearifan nasional. Maksudnya bagaimana menempatkan posisi karyawan sebagai pejuang dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran rakyat. Nah inilah yang tidak gampang…dalam melaksanakannya. Tapi saya optimis seraya berucap Merdeka! Sekali Merdeka tetap Merdeka! DIRGAHAYU Bangsaku!