Topik artikel ini diturunkan dari pertanyaan Peter Drucker dalam bukunya berjudul The Effective Executive (2004). Seperti juga dengan istilah kepemimpinan; pertanyaannya apakah keefektifan khususnya bagi kalangan eksekutif itu dilahirkan ataukah dibentuk. Keefektifan seseorang dalam mengerjakan sesuatu cenderung tidak dilahirkan. Keefektifan bukan sesuatu pemberian sejak seseorang itu lahir. Memang dari pengalaman hidupnya, setiap orang memiliki keefektifan walau derajadnya beragam dari orang satu dengan orang lain. Potensi keefektifan seseorang dapat dikembangkan melalui pembelajaran. Jadi kalau keefektifan bisa dipelajari maka menurut Drucker, pertanyaannya adalah apa kandungannya? Apakah setiap orang harus belajar? Apa jenis pembelajarannya? Apakah itu suatu pengetahuan yang di dalamnya ada konsep-konsep? Apakah ada ketrampilan dimana seseorang itu sedang magang? Atau apakah itu sebagai kegiatan praktek?

Efektif dapat dimaknai sebagai ciri dalam mengerjakan sesuatu yang benar. Keefektifan mengandung ciri keunggulan dalam mengerjakan sesuatu yang benar. Jadi kalau seseorang mengerjakan sesuatu yang benar maka dia bekerja dengan efektif. Proses pembelajaran bisa dilakukan lewat jalur pelatihan dan jalur pengalaman bekerja. Bergantung pada tingkat atau posisi pekerjaan maka jenis pembelajaran pun akan beragam. Mulai dari tingkat penguasaan pengetahuan dan konsep-konsep manajerial sampai pengetahuan praktis teknis operasional serta kecerdasan sosial, spiritual, dan emosional. Bisa dalam bentuk magang bisa juga dalam bentuk kelas dimana porsi praktek jauh lebih banyak ketimbang teori. Lama kelamaan dari proses pembelajaran lewat pengalaman kerjanya yang berulang-ulang, keefektifan akan menjadi habit atau kebiasaan. Pada saatnya, keefektifan sudah dipandang sebagai kebutuhan individu dalam mencapai kinerja tertentu.

Untuk mencapai keefektifan maka ada beberapa dimensi yang perlu diketahui dan dipenuhi selama proses pembelajaran yakni pertama pengetahuan tentang apa yang perlu dilakukan dan apa yang dinilai benar menurut perusahaan. Pengetahuan ini sangat penting dalam penguasaan sisi teknis, manajerial, dan kepemimpinan. Unsur kedua adalah mengubah pengetahuan menjadi kegiatan efektif yang meliputi kegiatan-kegiatan pengembangan rencana kegiatan, tanggung jawab dalam pengambilan keputusan, tanggung jawab berkomunikasi, dan fokus pada peluang ketimbang pada permasalahan. Sementara yang ketiga adalah keseluruhan organisasi harus merasa bertanggung jawab dan bertanggung-gugat (akuntabilitas) yang antara lain agar setiap orang memahami posisi, tujuan dan program organisasi melalui penyelenggaraan rapat-rapat yang produktif, pemantauan dan pengawasan. Selain itu  dalam bekerja tiap individu selalu berorientasi pada pemikiran kepentingan kolektif ketimbang kepentingan pribadi  sendiri.

Agar keefektifan berjalan dinamis maka proses pembelajaran tidak mengenal kata berhenti. Pembelajaran berlangsung secara berkelanjutan. Alasannya karena faktor-faktor internal dan eksternal organisasi juga tidak pernah surut. Karena itu pembelajaran seharusnya terprogram dan merupakan bagian dari rencana strategis organisasi. Konsep ini mengacu pada pemikiran bahwa sekalipun pembelajaran dilakukan lewat jalur pengalaman bekerja, proses pembaharuan potensi individu selalu diarahkan pada upaya menjawab tantangan dan peluang-peluang yang ada. Dengan kata lain keefektifan akan terwujud melalui proses pembelajaran efektif. Syarat utama untuk terpenuhinya keefektifan maka manajemen puncak itu sendiri harus memiliki spirit membangun suasana belajar di lingkungan perusahaan. Keteladanan pihak manajemen dalam pembelajaran juga dapat dijadikan sebagai unsur pemotivasi bagi para sub-ordinasinya untuk mau belajar dan bekerja secara efektif.

Iklan