Ada pendapat bahwa karyawan yang memiliki disiplin tinggi tidak otomatis berkinerja tinggi. Begitu pula dengan kerja keras tidak serta merta mencerminkan kinerja tinggi. Jadi yang penting bagaimana kedisiplinan dan kerja keras harus plus dengan ciri cerdas maka barulah kinerja juga akan tinggi. Bagaimana dengan kelambanan kerja? Artinya bagaimana kalau kalau karyawan bekerja tidak cekatan; apakah akan menghasilkan kinerja rendah? Bagaimana seorang pimpinan rapat yang selalu memutuskan hasil rapat dengan lamban?  Di tingkat manajemen perilaku ini dikenal sebagai rendahnya tingkat daya tanggap dan kepekaan terhadap masalah-masalah internal dan eksternal perusahaan.

Untuk beberapa jenis kegiatan tertentu yang tidak terikat pada ketentuan waktu yang kaku, mungkin kelambanan kerja tidak menjadi masalah  serius ketimbang  waktu yang ketat. Namun  tidak mungkin bekerja lamban ketika pesanan pelanggan dalam hal jumlah dan mutu produk serta waktu pengirimannya sudah ditetapkan. Kalau lamban, sekalipun mutu produknya tinggi namun kalau pekerjaannya dilakukan dengan waktu di atas  standar maka berarti proses pemasarannya bakal terganggu. Komoditi yang dipesan akan lambat datangnya ke pelanggan atau konsumen. Kemungkinan kehilangan peluang pasar bisa saja terjadi. Hal ini karena selama tenggat waktu pengiriman yang lama ternyata permintaan pasar sudah diisi oleh perusahaan lain. Begitu pula tidak mungkin rapat berjalan begitu lambannya ketika keputusan bisnis harus segera diambil. Bisa-bisa “deal” suatu pekerjaan dengan mitra bisnis akan gagal total.

Tetapi ketika rapat membahas tentang rumusan visi dan misi organisasi jelas akan membutuhkan waktu relatif cukup lama. Sering terkesan sangat lamban. Padahal belum tentu demikian karena merumuskan visi dan misi tidaklah mudah. Perlu kehati-hatian dalam menganalisis unsur-unsur internal dan eksternal kaitannya dengan apa impian atau cita-cita organisasi di masa depan. Apalagi kalau peserta rapat memiliki derajat heteroginitas tinggi dalam hal status pekerjaan, kemampuan berwacana,dan beragam tipe  gagasan. Dalam situasi itu bakal timbul kesan jalannya rapat sangat lamban, ngalor-ngidul, dan bertele-tele.

Sementara itu, karyawan yang terbiasa bekerja rutin dengan lamban dapat mengganggu rekan kerjanya yang selalu  bekerja cekatan dan tepat waktu. Dengan demikian proses pekerjaan kolektif pun bakal terganggu. Kalau tidak ada tindakan dari manajemen maka akan timbul kelambanan kolektif. Ditambah dengan kelambanan kerja sistem informasi bisnis maka jelas saja perusahaan itu tidak memiliki daya saing pasar yang tinggi. Semakin rendah derajat kecekatan dan kecepatan perusahaan melayani pelanggan atau konsumennya, semakin rendah daya saingnya.

Merubah perilaku karyawan yang lamban untuk menjadi karyawan yang cekatan memerlukan waktu tidak pendek. Perlu diketahui dahulu apakah kelambanan  karena faktor ketidak-tahuan bekerja, kemalasan ataukah karena kurang tersedianya fasilitas kerja. Bisa jadi pula karena lemahnya penguasaan sistem berpikir dan teknik bekerja secara sistimatik. Kalau karena faktor rendahnya pengetahuan, ketrampilan, sistem berpikir, dan sistimatika kerja maka karyawan tersebut harus dilatih secara intensif dengan pendekatan on the job training. Dengan pola pelatihan yang berulang-ulang seperti ini, karyawan disamping mendapat tambahan kawasan kognitif juga sekaligus menambah kawasan ketrampilan kerja secara cekatan. Sementara kalau faktor malas, padahal orangnya cerdas,  maka nasehat sampai bentuk teguran atau peringatan perlu diberikan oleh manajer. Begitu pula perlu dibangun suasana kerja tim yang nyaman dengan membuka peluang pada setiap individu untuk berbagi pengalaman dan gagasan. Selain itu penerapan sistem kendali dari manajer secara intensif berbasis standar kerja dan dukungan penyediaan fasilitas kerja yang cukup menjadi faktor-faktor yang sangat penting dalam meningkatkan kecekatan kerja para karyawannya.

Iklan