Aris, sang juara Indonesian Idol 5 (2 Agustus 2008), sebelumnya adalah sang pengamen. Dari satu gerbong ke gerbong kereta lainnya dia berunjuk kebolehan dalam tarik suara. Sudah lama ditekuninya untuk sesuap nasi menghidupi diri, isteri dan anaknya semata wayang. Tentu saja buat orangtuanya juga. Tinggal di rumah sempit sangat mini (15 meter persegi), dan berada di pinggir kali. Di tempat yang sangat sederhana itu dia sempat bermimpi untuk menjadi penyanyi tenar. Suatu ketika dia ungkapkan cita-citanya itu ke keluarganya. Semula keluarganya ragu untuk mendukung karena merasa berasal dari lapisan “tertinggal”. Akhirnya dukungan pun diperolehnya. Hanya doa yang bisa diterima dari keluarganya khususnya dari sang ibu. Itu sangat berarti dalam mendorong langkah-langkah pasti demi mencapai puncak pengakuan.

Disamping memiliki kemampuan bernyanyi yang lumayan bagus, dengan otodidak tentunya, Aris akhirnya mampu mengalahkan rival-rivalnya yang berasal dari lapisan sos-ek yang lebih tinggi. Untuk mencapai itu, walau berpendidikan sangat rendah (tak lulus SMP), Aris tekun belajar dan belajar dengan gigih untuk mewujudkan impiannya sebagai penyanyi hebat. Jadi dengan ketekunan dan kegigihannya, sebagai bentuk soft skills, telah membawa Aris ke puncak penyanyi versi Indonesian Idol. Pasti setelah itu permintaan untuk manggung dan kegiatan periklanan akan meroket. Hanya satu pesan dari sang ibunda tercinta……agar Aris jangan sombong. Dan selalulah pandai-pandai bersyukur, tambahnya. Subhanallah.

Implikasi dari contoh sang juara nyanyi di atas, dalam konteks pengembangan sumberdaya manusia di suatu perusahaan adalah  para manajer jangan terpukau oleh  segala macam gelar yang dimiliki para karyawan. Gelar bukan satu-satunya ukuran kompetensi seseorang. Bahkan banyak karyawan yang bergelar sarjana namun tidak mampu bekerja optimum. Mengapa? Karena masih kurangnya kecerdasan yang lain yakni kegigihan. Kegigihan untuk mau terus belajar dan belajar, kegigihan untuk bekerja keras. Dan kegigihan untuk meraih kinerja termasuk karir maksimum. Namun tentunya dengan kerendahan hati.

Iklan