Saya percaya tiap orang  pernah terkagum-kagum pada orang lain yang sukses atau terkenal. Kagum karena kehebatannya dalam berkarya, dengan kejujurannya, dengan ketaat-asasannya, dan kepribadiannya. Apakah yang dikagumi itu sebagai pebisnis, dosen, peneliti, inovator, orator, maupun sebagai bintang sinetron dsb. Lalu sang pengagum mencoba mendekati yang dikaguminya sambil berucap: “ oh hebatnya,  saya ingin seperti Anda”. Yang dikagumi berespon “terimakasih, apakah anda juga ingin berbuat sesuai dengan kapabilitas untuk menjadi saya seperti ini?”. Apa jawaban dari si pengagum?

Ada beberapa jawaban yang mungkin diberikan para pengagum. Pertama, pengagum terdiam; tidak bisa berespon segera karena perhatiannya lebih pada performa output. Bukan pada kapabiliti dan proses yang dilakukan untuk menggapai keberhasilan yang memakan waktu dan korbanan tidak sedikit. Terlihatnya begitu gampang untuk menjadi orang sukses. Kedua, pengagum menjawab belum tentu berhasil karena dia tidak memiliki kapabilitas untuk menjalani proses seperti yang dilakukan sang pengagum. Dan ketiga, pengagum merasa bisa mencapainya  karena yang bersangkutan punya  keinginan kuat,  kapabilitas, dan akses untuk meraih keberhasilan seperti orang yang dikaguminya.

Tiga jawaban di atas merefeksikan bahwa untuk mencapai keberhasilan tertentu dibutuhkan kondisi tertentu. Sangatlah naif kalau  keberhasilan seseorang sudah pasti dapat ditiru oleh orang lain untuk berbuat yang sama. Mengapa? Karena kondisi yang dapat dipenuhi tiap orang untuk mencapai kejayaan tidaklah selalu sama. Belum lagi ketika proses berlangsung, yang menjalaninya tidaklah sendirian. Seorang peneliti, misalnya, dia mampu menghasilkan inovasi baru karena didukung oleh suatu tim peneliti yang tangguh. Selain itu pasti dibutuhkan ongkos yang tidak kecil untuk melakukan riset plus gaji untuk anggota tim.

Selain itu ada contoh sederhana yakni  sebagai orang yang populer tentunya  harus menjaga reputasi. Ketika bepergian ke beberapa negara maka dia didampingi  oleh isteri atau mungkin plus anak-anaknya. Tentu saja untuk itu dia  harus mengeluarkan sejumlah uang dari koceknya untuk tambahan ongkos anggota keluarga selama perjalanan. Dan juga biaya untuk menyewa orang yang menjaga rumahnya. Begitu pula biaya untuk menggaji pengasuh bayi. Dengan kata lain maka si orang terkenal tersebut harus melakukan usaha atau kerja keras untuk memperoleh tambahan pendapatan. Ketika itu terjadi maka dia pun telah membuka lapangan kerja bagi orang lain. Demi reputasi maka dia mungkin akan mampir ke berbagai lembaga riset dan aplikasi teknologi dan menyumbangkan sebagian dari kekayaannya untuk kemajuan lembaga tersebut. Dengan demikian sang terkenal tersebut telah berbuat seperti yang dilakukan Andrew Carnegie yang menyumbangkan uang sejumlah USD 350 juta dari kekayaannya yang USD 500 juta untuk membangun ribuan perpustakaan, sekolah, dan universitas di Amerika Serikat. Bill Gates menyumbangkan separuh dari hartanya yang bernilai USD 50 milyar untuk membantu sekolah dan para pelajar yang tidak mampu. Dan tentunya saya perkirakan tidak sedikit orang-orang terkenal Indonesia yang juga berbuat serupa untuk bangsanya.

Sementara itu ketika melihat seseorang yang sangat terkenal sama saja kita seperti melihat gunung es. Mungkin yang dilihat di permukaan hanyalah 10-15% saja. Sementara selebihnya tersembunyi di bawah air. Jadi hanya sedikit saja yang kita ketahui mengapa seseorang dapat menjadi sukses yang luar biasa. Dan juga tidak diketahui apa yang dilakukannya setelah menjadi orang terkenal. Kita mungkin tidak mengetahui persis unsur-unsur pengorbanan di balik kesuksesan yang jauh dari gambaran glamor. Kita sudah tahu  bagaimana Muhamad Ali mampu menjadi  petinju legendaris dengan tidak sedikit pengorbanan yang dikeluarkan baik sebelum dan sesudah terkenal. Namun Ali pun dikenal sebagai dermawan dalam membantu yayasan-yayasan pendidikan dan kesehatan khususnya diperuntukan bagi orang yang tidak mampu. Banyak contoh-contoh lainnya yang menunjukkan bahwa ketika kepopulerannya diraih bukan berarti mereka menjadi berperilaku sangat ego. Mereka banyak yang berasal dari keluarga miskin dan ketika sudah menjadi terkenal menyumbangkan nilai tambah dari kepopulerannya dalam bentuk bantuan-bantuan sosial ke khalayak miskin. Bintang tenis dunia Arthur Ashe pernah berkata: “ True heroism is remarkably sober, very undramatic”. Intinya sebagai orang populer, dengan ongkos berapapun, bukanlah berarti terdorong untuk mengungguli semua orang namun seharusnya terdorong untuk  berbuat mulia dengan melayani orang-orang lain.

Iklan