Minggu lalu anak sulung saya dan suaminya baru kembali dari tanah suci Mekah sehabis menjalankan ibadah umrah. Seperti biasa, mereka yang baru pulang dari tanah suci ada saja cerita dan kesan-kesan yang menggambarkan rasa suka cita, duka, dan bahkan yang lucu-lucu serta mengherankan. Salah satu cerita nyata adalah ada musibah yang dialami seorang ibu. Konon kabarnya, anak saya melihat dan mendengar sendiri ketika seorang kuli meminta uang jasa sebesar lima real karena telah membantu mengangkat barang-barang milik sang ibu.  Tetapi si ibu menolaknya dan hanya bersedia  memberi tiga real saja. Si kuli bertahan minta lima real, begitu pula si ibu ngotot dengan tiga real saja. Menghadapi kegigihan si ibu dengan sikapnya itu  sang kuli tidak mau menerimanya. Lalu ngeloyor pergi sambil menggerutu.  Konon sebenarnya upah lima real itu, walau bersifat konvensi, sudah menjadi standar umum untuk beban tertentu. Karena itu semua jamaah (dalam satu rombongan) lainnya ikhlas membayar lima real untuk beban yang sama dengan beban si ibu tadi. Lalu apa cerita berikutnya?

Ketika suatu kesempatan sholat di masjidil haram, sang ibu, yang diceritakan di atas, meletakan tas di samping dirinya. Selang beberapa menit ketika setelah selesai sholat sang ibu baru tahu tasnya raib. Tidak tahu proses kejadiannya seperti apa. Singkat cerita sang ibu begitu paniknya kehilangan tas. Pasalnya dia hampir-hampir tidak percaya dan merasa tidak masuk akal mengapa tas yang begitu dekat dengan dirinya hilang begitu saja. Dan sangat sedih karena di dalam tasnya terdapat serangkai perhiasan mahal dan uang yang tidak sedikit. Apa pelajaran yang bisa ditarik dari kejadian seperti itu?

Jangan buru-buru mengaitkan kejadian itu dengan sikap  sang ibu terhadap si kuli. Beberapa kemungkinan yang bisa terjadi adalah (1) tidaklah mustahil di dalam mesjid yang sering disebut rumah Allah, diantara kerumunan orang yang sangat padat, terdapat tangan-tangan jahil bahkan kotor alias pencuri. Ini juga selalu diingatkan oleh para petugas (askhar) agar hati-hati; (2) si ibu tidak ekstra hati-hati karena berasumsi bakal aman. Mungkin menurutnya tidak masuk akal di tanah suci ada maling. Jadi si ibu telah mengabaikan upaya dalam memberi perhatian atau kehati-hatiannya terhadap lingkungan; (3) kehilangan sesuatu bisa terjadi  tidak hanya di tanah air sendiri yang sebenarnya bukan tempat istimewa. Pengalaman membuktikan  ternyata pencurian  bisa pula terjadi di tanah dan tempat suci. Keropak (tempat uang) sedekah di masjid pun bisa saja dicuri kalau kurang adanya pengawasan dari pihak pengurus masjid. Dengan kata lain pencurian bisa terjadi dimana saja. Sejauh disitu ada  kesempatan karena si empunya barang tidak hati-hati maka leluasalah sang pencuri memainkan perannya. Namun karena kejadiannya berlangsung di tanah suci maka peristiwa itu menjadi suatu cerita yang seolah akral atau sangat istimewa. Bahkan konon semacam bentuk karma karena sifat kikir seseorang (“saya tidak percaya”). Maka jadilah itu sebagai sebuah mitos. Kalau sifat si ibu termasuk kikir maka mungkin tidak disadarinya bahwa sifat kikir memang sangat tidak disukai siapapun. Bukan saja merugikan orang lain  namun bisa merugikan dirinya sendiri. Itu tampaknya sudah merupakan hukum. Seperti juga yang terjadi di dalam organisasi khususnya dalam manajemen sumberdaya manusia.

Bagaimana dengan sifat kikir di dunia manajemen sumberdaya manusia? Apa yang terjadi kalau sang manajer kikir membagi ilmu dan pengetahuan kepada karyawannya? Bagaimana jadinya kalau manajer kikir memberi penghargaan kepada subordinasinya? Bisa diperkirakan suasana kerja kurang nyaman dan bahkan ujungnya kinerja unit berada di bawah standar perusahaan. Mengapa demikian? Hal pertama adalah karyawan membutuhkan tambahan pengetahuan mutahir. Dengan peningkatan pengetahuan sama saja dengan terjadinya investasi sumberdaya manusia. Suatu ketika dengan investasi mereka memiliki aset pengetahuan yang bertambah untuk meningkatkan produktivitas kerjanya. Salah satu sumber ilmu pengetahuan adalah dari manajer. Kalau manajer kikir dalam mentransfer ilmunya sama saja membuat wawasan dan ketrampilan karyawannya menjadi mandeg. Beitu pula kalau manajer kikir dalam memberi penghargaan kepada karyawan; sekalipun hanya dalam bentuk ungkapan terimakasih. Padahal penghargaan merupakan salah satu unsur dalam menumbuhkan motivasi dan kepuasan kerja karyawan. Lagi-lagi kalau sang manajer kikir dalam pemberian penghargaan   plus kikir dalam mengalihkan pengetahuannya maka lambat laun akan menyebabkan hilangnya kredibilitas kepemimpinannya. Sistem koordinasi tidak berjalan normal. Kerjasama vertikal dan horisontal pun bakal macet. Pada gilirannya maka proses pekerjaan di unit bersangkutan berjalan di tempat dan output tidak optimum. Dengan kata lain kinerja unit akan berada di bawah standar akibat sifat kikir dari sang manajer.

Iklan